Taktik Jahat Baru Militer Israel, Penjarahan Sistematis Bawa Kabur Tabungan Anak Hingga Uang Mahar

JERNIH – Kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dilaporkan meningkat drastis. Kini muncul taktik baru yang mengkhawatirkan yakni penjarahan dan penyitaan harta benda pribadi secara luas yang dilakukan tentara Israel. Tentara zionis ini mengambil uang warga dari mulai tabungan anak hingga uang mahar.
Para pengamat memperingatkan bahwa penjarahan yang dilaporkan ini bisa menjadi taktik baru untuk menegaskan kendali dan membuat kehidupan warga Palestina di Tepi Barat semakin sulit dan menderita sejalan dengan rencana aneksasi wilayah tersebut.
Lamis Rayan (35), penduduk desa Arura di Tepi Barat tengah, bersaksi bahwa tentara Israel mengambil lebih dari 8.000 shekel (sekitar Rp35 juta) saat menggerebek rumahnya pada Oktober lalu. “Seluruh rumah saya dihancurkan selama penggerebekan tiga jam itu,” kata Rayan. “Tapi yang paling menyedihkan adalah pencurian tabungan anak-anak saya.”
Rayan menceritakan bagaimana tentara memecahkan celengan ketiga anaknya. Putri sulungnya, Ilan (8), sedang menabung untuk melengkapi perabotan kamarnya. Saat keluar, seorang tentara wanita bahkan menggeledah Rayan dan mengambil $200 (lebih dari Rp3 juta) terakhir yang ada padanya.
Kesaksian serupa dilaporkan di Arura. Seorang pengantin baru, yang berbicara tanpa nama, mengaku tentara mencuri hadiah pernikahan dan perhiasan istrinya, dengan total kerugian mencapai $29.000 (sekitar Rp470 juta). Tayseer al-Arouri (60), penduduk lain, mengatakan tentara mengambil semua uang tunai miliknya dan bahkan “berterima kasih kepada saya saat mereka pergi.”
Beberapa warga mengaku tentara bahkan memerintahkan mereka mengumpulkan semua barang berharga “untuk diamankan” kemudian diambil oleh tentara.
Jenin Menjadi Target Utama Penjarahan
Kota Jenin dan sekitarnya, yang dikenal sebagai basis perlawanan, dilaporkan menjadi wilayah yang paling parah terkena gelombang kekerasan dan penjarahan ini. Otoritas lokal di empat desa Jenin, serta kota utamanya, membenarkan kepada The New Arab bahwa pasukan Israel secara rutin menyita harta benda sipil.
Di lingkungan al-Jabriyat, Jenin, Abu Alaa (60-an) menceritakan bagaimana tentara memaksanya dan istrinya keluar dari rumah dengan todongan senjata pada bulan Januari dan menduduki rumahnya sebagai pos militer selama hampir sebulan.
“Ketika saya kembali setelah 27 hari, semuanya hancur,” katanya. Ia menghitung total perhiasan, koin berharga, dan uang tunai yang hilang dari rumahnya mencapai lebih dari $30.000.
Suleiman Basharat, pakar urusan Israel, mencatat bahwa penggerebekan rumah di Tepi Barat sebelumnya memiliki tujuan spesifik seperti penangkapan. Namun, saat ini, penggerebekan seringkali tidak memiliki tujuan jelas dan menggunakan taktik kekerasan seperti perusakan rumah dan pencurian barang berharga.
Para pengamat memperingatkan bahwa penjarahan yang terdokumentasi ini merupakan pola sistematis dan bertujuan politik. Taktik ini diduga merupakan upaya untuk mengintimidasi dan mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut, sejalan dengan rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Basharat menyimpulkan, sejak 7 Oktober 2023, tentara Israel telah mengadopsi taktik yang lebih keras, dengan satu tujuan “Menanamkan pada warga Palestina… ide bahwa tidak ada harapan tersisa untuk kehidupan atau masa depan yang stabil di tanah ini atau di kota mana pun di Tepi Barat.”






