Tamparan Keras Del Piero untuk Sepak Bola Italia

Legenda Juventus, Alessandro Del Piero, akhirnya angkat bicara soal krisis akut yang melanda Timnas Italia. Tiga kali absen di Piala Dunia bukti kegagalan sistemik.
WWW.JERNIH.CO – Kegagalan tim nasional Italia melangkah ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut telah memicu gelombang kritik. Namun, di antara sekian banyak suara, pendapat Alessandro Del Piero adalah yang paling tajam dan jujur. Sang legenda Juventus ini menyerukan reformasi struktural total dan menuntut kerendahan hati dari para petinggi sepak bola Italia.
Berbicara dalam program Sky Calcio Unplugged, Del Piero tidak menahan diri dalam menilai gravitasi situasi saat ini.
“Pertama kali pada 2018 adalah kejutan; kedua kalinya terasa seperti mimpi buruk; dan yang ketiga mulai menjadi hal yang memalukan untuk dibenarkan,” cetus Del Piero.
“Kita dulunya adalah kekuatan besar, dan mendapati diri kita di posisi ini untuk ketiga kalinya sungguh luar biasa,” keluhnya.

Bagi pria berusia 51 tahun ini, masalah Italia jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian pelatih atau kepemimpinan federasi. Ia menyoroti egoisme yang mendarah daging dalam birokrasi sepak bola mereka.
Di kepala Del Piero problem sepak boleh Italia adalah akumulasi dari berbagai situasi kompleks yang saling berkaitan.
“Secara fundamental, kita hanya berpikir tentang cara menyelamatkan pantat masing-masing (saving our own ass). Itu harus berubah,” tegasnya.
Del Piero mengkritik cara Italia membina pemain muda. Menurutnya, pemain muda terlalu banyak didikte, sehingga mereka hanya menjadi pelaksana instruksi tanpa kreativitas. Begitu keluar dari sistem, mereka dianggap gagal, padahal sistemlah yang mematikan bakat mereka.
Seruan Del Piero untuk “mencari energi dalam krisis” bukan tanpa dasar. Ia sendiri adalah bagian dari DNA Italia yang mampu bangkit dari keterpurukan.
Jika menengok ke belakang, era Del Piero di Piala Dunia adalah representasi dari kreativitas dan ketangguhan yang kini ia rindukan. Pada Piala Dunia 1998 dan 2002 adalah era di mana menjadi saksi transisi generasi emas. Meskipun Italia sering tersingkir secara menyakitkan (penalti dan gol perak), gairah dan bakat individu seperti Del Piero selalu membuat Italia disegani dunia.
Bahkan pada Piala Dunia 2006 yang merupakan puncak kejayaan, saat diguncang skandal Calciopoli, Del Piero dan tim Italia kala itu membuktikan bahwa Italia mampu mengubah krisis menjadi energi.

Gol ikoniknya ke gawang Jerman di semifinal dan eksekusi penaltinya di final melawan Prancis menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan mentalitas adalah kunci, bukan sekadar instruksi taktis yang kaku.
Del Piero menutup argumennya dengan pesan yang sangat lugas. Ia meminta Italia untuk melepaskan kesombongan masa lalu dan mulai belajar dari negara lain yang saat ini lebih unggul.
Ia mempertegas lagi, “Kebanggaan harus dikesampingkan. Yang dibutuhkan sekarang adalah kerendahan hati, kemauan untuk memulai kembali, belajar, dan menganalisis siapa yang melakukan pekerjaan dengan baik. Kita bukan lagi siapa yang kita pikirkan selama ini.”
Tanpa perubahan budaya dari akar rumput hingga ke kursi kepemimpinan, kejayaan Italia di Berlin 2006 hanya akan menjadi kenangan yang semakin memudar dalam sejarah.(*)
BACA JUGA: Italia Gasak Israel dengan Skor 3-0






