CrispyVeritas

Tan Malaka, Pendiri Sekolah Potemkin di Perkebunan Senembah

  • Di Perkebunan Senembah di Sumatera Timur, Tan Malaka membantu membentuk sekolah Potemkin, atau sekolah palsu.
  • Ia menjadi pengawas sekolah itu, yang melahirkan budak, selama tiga tahun.
  • Kelak dia menulis; Pendidikan kita hanya untuk mencetak budak, bukan untuk melahirkan pemikir.

JERNIH — Baru-baru ini terjadi perdebatan menarik antara Ferry Irwandi dengan Zen Rachmat Sugito atau Zen RS. Perdebatan dimulai dengan postingan Ferry Irwandi, Tan Malaka pernah digaji oleh Pemerintah Belanda saat menjadi guru. Zen RS, penulis dan jurnalis sejarah pemilik akun esaipendek mengoreksi dengan menyebut Tan Malaka tidak pernah digaji pemeirntah Belanda, tapi dibayar sebuah perusahaan swasta di Deli.

Saya tidak mengikuti adu argumen keduanya, tapi — menurut beberapa kawan — perdebatan keduanya sangat menarik. Ringkasan AI yang saya temui di Google menyebutkan Ferry Irwandi secara terbuka mengakui kesalahannya dan meralat pernyataannya bahwa Tan Malaka tidak digaji oleh “Pemerintah” Belanda, melainkan oleh perusahaan swasta Belanda.

Perdebatan itu memaksa beberapa kawan membuka kembali buku-buku tentang Tan Malaka. Sebagian kawan lain, termasuk saya, mencari tahu tentang Senembah Maatschappij, perusahaan perkebunan yang mempekerjakan Tan Malaka sebagai guru dan pengawas pendidikan.

Perusahaan Jerman/Swiss

Senembah Maatschappij bukan perusahaan yang didirikan orang kulit putih Hindia-Belanda atau warga negara Belanda, tapi dua investor asal Jerman dan Swiss, yaitu Karl Fürchtegott Grob dan Hermann Naeher. Fürchtegott Grob, yang berpengalaman bekerja di Onderneming Helvetia — kini menjadi kawasan Medan Helvetia — mengajak Naeher membangun perusahaan perkebunan dengan nama Firma Naeher & Grob pada tahun 1871.

Keduanya mendapatkan konsesi lahan seluas 5.300 hektar dari Sultan Serdang di sepanjang Sungai Belumai. Sosiolog Jan Breman mencatat semula keduanya menanam pala, kemudian beralih ke tembakau. Firma Naeher & Grob terkenal sebagai produsen tembakau berdaun keras. Ciri-ciri daun tembakan produksi Grob & Naeher adalah lebar, tebal, berwarna hitam, dan digunakan untuk industri cerutu, serta dikenakan bea rendah.

Perubahan terjadi tahun 1880-an. Konsumen Eropa lebih memilih tembakau pembungkus berwarna muda dan tipis. Pemerintah Hindia-Belanda juga menghapus bea rendah bagi tembakau tebal, yang menyebabkan Naeher & Grob mengalami kerugian. Situasi menjadi lebih sulit ketika harga daun tembakau tebal turun dari 1,46 gulden menjadi 0,72 gulden per pon akibat kelebihan produksi

Naeher & Grob putus asa dan berusaha menjual perusahaan. Atas saran Deli Maatschappij, perusahaan yang membantu memasarkan produk Naeher & Grob, nama perusahaan diubah menjadi NV Senembah Maatschappij pada September 1889 dan Dr Christian Wilhelm Janssen menjadi direktur. Naeher dudu di kursi komisaris, tapi Grob — yang saat itu mulai sakit-sakitan — tampaknya menarik diri sepenuhnya dari perusahaan.

Senembah Maatschappij menggeliat lagi. Konsesi lahan bertambah dari 31.563 bahu, atau 23.672 hektar, menjadi 50.994 bahu atau 35.695 hektar yang tersebar di Kesultanan Serdang, Deli, dan Langkat. Lebih rinci lagi, Senembah Maatschappij terletak memiliki 13 perkebunan di wilayah Kesultanan Serdang dan 1 perkebunan di Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat.

NV Senembah Maatschappij merekrut kuli dari Jawa lewat Algemeen Delisch Emigratie Kantoor (ADEK), yang membuka kantor di Batavia, dan sejumlah kota di Pulau Jawa. ADEK juga menyebar agen perekrut ke desa-desa di sekujur Pulau Jawa, untuk mendapatkan sebanyak mungkin buruh murah. Tidak hanya mendatangkan orang Jawa, Senembah Maatschappij juga merekrut orang Tionghoa dan India. Keduanya akrab dengan sebutan Kuli Cina dan Kuli Keling.

Kuli-kuli Jawa di perkebunan karet harus melakukan tiga pekerjaan; menanam, menyadap, dan bekerja di pemrosesan, antara pukul 04:00 sampai 18:00. Tan Malaka, yang menjadi guru di Perkebunan Senembah antara Desember 1919 ampai Juni 1921, menulis; Kuli Jawa hidup serba kekurangan. Mereka harus bangun pukul 04:00 pagi karena lokasi kerja mereka dengan permukiman sangat jauh.

Hibup serba kekurangan membuat Kuli Jawa menempuh berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Banyak kuli perempuan menjadi pelacur. Sedangkan laki-laki mengadu nasib dengan berjudi di setiap hari gajian. Terkadang seorang kuli tidak mendapatkan apa pun saat gajian, karena upah mereka habis dipangkas utang. Situasi ini sengaja diciptakan manajemen Senembah Maatschappij agar para kuli terikat dalam kemiskinan seumur hidup.

Kuli Jawa di Perkebunan Senembah meneria 0,40 gulder per hari untuk kerja delapan sampai 12 jam. Hanya dua dari 1.000 kuli mendapatkan kemungkinan naik pangkat menjadi mandor atau hoofmandor atau mandor kepala. Jika beruntung, ada yang menjadi pegawai rumah sakit, bengkel mobil, dan kelistrikan. Namun, menurut peneliti Lister Eva dan Tegar Giri Suharseno, Senembah Maatschappij tidak menerbitkan ‘uang kebun’ sebagai alat tukar yang berlaku di kalangan kuli perkebunan. Padahal, perkebunan sekitar Senembah — sebut saja Onderneming Wampu dan Kuala Begumit, Onderneming Galia, dan Onderneming Tanah Raja — menerbitkan uang kebun.

Sekolah di Kampung Potemkim

Saat masih bernama Firma Naeher & Grob, Perkebunan Senembah relatif hanya peduli pada kesehatan kuli. Mereka mendirikan Centraal Hospitaal te Tandjong Morawa, atau RS Pusat Tanjung Morawa. Rumah sakit mengoperasikan sejumlah poliklinik di setiap perkebunan. Misal, poliklinik Perebunan Gunung Rintih, Petumbak, dan Sei Bahasa. Kuli menderita penyakit ringan akan dilarikan ke poliklinik. Kuli yang mengidap menyakit berat dan berbahaya akan dilarikan ke rumah sakit pusat.

Setelah berganti nama menjadi NV Senembah Maatschappij dan Dr CW Janssen duduk di kursi direktur, Perkebunan Senembah memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak kuli kontrak. Janssen tidak ingin anak-anak itu sekedar bisa baca, tulis, dan berhitung, tapi punya ketrampilan yang akan membuat mereka dapat dipekerjakan. Janssen berencana mendirikan Ambach School, atau sekolah pertukangan, yang mengajarkan anak-anak terbiasa bekerja sehingga kelak terhindar dari Poenale Sanctie — hukuman cambuk bagi para kuli yang melarikan diri.

Janssen tidak menghendaki penggunaan Bahasa Belanda dan Melayu di sekolahnya, tapi Bahasa Jawa. Akhir 1919 Janssen menugaskan seseorang untuk berangkat ke Pulau Jawa dan mencari guru yang bersedia mengajar di Senembah Maatschappij. Ia juga mengajak Tan Malaka, orang yang dikenalnya saat masih di Amsterdam, untuk mengelola sekolah dan menemukan sistem yang cocok dengan keadaan di Senembah Maatschappij.

Tan Malaka ditugaskan di kantor pusat Senembah Maatschappij di Tajdjong Morawa. Tidak diketahui apakah Tan Malaka terlibat dalan belajar-mengajar, sebab dia tidak bisa berbahasa Jawa. Saat itu, Tan Malaka piawai berbahasa Melayu dan Belanda. Ia mungkin saja mengajar setelah mempelajari Bahasa Jawa dari guru-guru berasal dari Pulau Jawa. Yang pasti, tugas utamanya adalah pengawas sekolah.

Tan Malaka memastikan kurikulum yang disusunnya dijalankan dengan baik dan benar. Anak-anak kuli kontrak tidak hanya diajarkan baca, tulis, dan berhitung, tapi berkebun dan pertukangan dan perbengkelan. Kelak siswa-siswa itu akan dipekerjakan di Perkebunan Senembah, tidak sekedar menjadi kuli tanam dan petik, tapi terlibat dalam pertukangan dan perbengkelan.

Menariknya, sekolah itu — seperti diungkap Tan Malaka dalam buku Dari Penjara ke Penjara — adalah bagian dari Kampung Potemkin — istilah metaforis untuk sesuatu yang sengaja dibangun atau dipalsukan agar terlihat indah, makmur, dan berfungsi. Istilah Kampung Potemkin, atau Desa Potemkin, merujuk pada Pangeran Grigory Potemkin, yang membangun desa-desa palsu di sepanjang Sungai Dnieper untuk mengelabui mantan kekasihnya; Permaisuri Yekaterina II.

Semua yang dibangun Janssen, termasuk sekolah untuk anak-anak kuli kontrak, adalah bagian dari pembentukan Kampung Potemkin. Senembah Maatschappij ingin membangun kesan mampu memberikan kemakmuran kepada ribuan kuli kontrak dari berbagai etnis; Jawa, Tionghoa, dan India, demi meningkatkan citra perusahaan.

Selama tiga tahun Tan Malaka terlibat dalam pembangunan sekolah dan kampung Potemkin. Ia membantu mendirikan sekolah untuk mendidik anak-anak kuli kontrak atau budak perkebunan melanjutkan nasib orang tuanya di Perkebunan Senembah. Ia membantu menciptakan kurikulum sekolah palsu untuk anak-anak yang tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah berbahasa pengantar Melayu dan Belanda.

Dari pengalaman membantu menciptakan sekolah yang melahirkan budak, kelak Tan Malaka menulis; Pendidikan kita hanya untuk mencetak budak, bukan untuk melahirkan pemikir.

Back to top button