
- Lonjakan jumlah korban ini terjadi seiring dengan intensitas serangan balasan dari wilayah Iran.
- Di saat yang sama, kelompok perlawanan di Lebanon juga terus melancarkan operasi militer besar-besaran.
JERNIH – Kementerian Kesehatan Israel melaporkan lonjakan signifikan jumlah korban luka dalam 24 jam terakhir, mencapai 299 orang. Angka ini menjadi rekor harian tertinggi sejak hari-hari pertama pecahnya perang. Dengan tambahan tersebut, total warga Israel yang dilarikan ke rumah sakit sejak dimulainya perang melawan Iran dan Lebanon kini mencapai 5.772 orang.
Secara akumulatif, sejak pecahnya konflik pada 7 Oktober 2023, total cedera yang tercatat di rumah sakit Israel telah menyentuh angka 81.184 kasus. Lonjakan jumlah korban ini terjadi seiring dengan intensitas serangan balasan dari wilayah Iran ke teritori pendudukan Palestina sebagai respons atas agresi AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Di saat yang sama, kelompok perlawanan di Lebanon juga terus melancarkan operasi militer besar-besaran sejak agresi Israel ke Lebanon dilanjutkan kembali pada dini hari, 2 Maret 2026. Tekanan dari dua front ini membuat fasilitas medis di Israel bekerja ekstra keras dalam satu bulan terakhir.
Di balik lonjakan korban, kondisi internal militer Israel (IOF) dilaporkan sedang berada di titik nadir. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, dalam rapat kabinet baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras bahwa militer bisa runtuh jika krisis personel tidak segera ditangani.
“Tentara akan kolaps dengan sendirinya jika solusi tidak ditemukan. Saya mengibarkan banyak bendera merah saat ini,” tegas Zamir, seperti dikutip dari Kan 11 News.
Militer Israel sangat kekurangan prajurit untuk ditempatkan secara bersamaan di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon. Sementara itu mulai Januari mendatang, masa dinas wajib militer akan berkurang menjadi 30 bulan. Perwira senior memperingatkan bahwa tanpa perpanjangan kembali menjadi 36 bulan (3 tahun), celah jumlah pasukan akan menjadi “tidak tertahankan” pada 2027.
Meskipun jumlah tentara menurun, beban kerja militer justru meningkat karena perluasan operasi di Lebanon Selatan, kontrol atas separuh wilayah Gaza, serta rencana pengamanan pemukiman baru di Tepi Barat.
Media Israel melaporkan bahwa pemerintah berencana merekrut hingga 400.000 tentara cadangan pada Mei mendatang untuk menambal lubang di lini pertahanan mereka. Namun, langkah ini dianggap penuh tantangan mengingat kelelahan fisik dan mental para personel yang telah bertugas secara maraton sejak akhir tahun 2023.
“Kami sudah memberikan peringatan sejak lama soal kesenjangan jumlah pasukan ini. Kami butuh lebih banyak prajurit, lebih banyak kekuatan di semua lini,” ujar seorang perwira tinggi militer kepada Channel 13.






