Tragedi di Balik Kelahiran Sana, Jurnalis Gaza Tewas Tepat di Hari Putrinya Lahir

JERNIH – Bagi kebanyakan orang, ulang tahun pertama adalah momen penuh tawa dan balon. Namun bagi Sana, bayi mungil di Gaza, hari jadinya yang pertama pada 7 Mei 2026 ini diselimuti bayang-bayang kehilangan yang teramat besar. Ayahnya, Yahya Sobeih, seorang jurnalis lapangan, terbunuh dalam serangan udara Israel hanya lima jam setelah Sana menghirup napas pertama di dunia.
Kisah ini adalah potret duka dari “tahun kesedihan” yang dialami oleh istrinya, Amal Sobeih, di tengah berkecamuknya perang di Jalur Gaza. 7 Mei 2025 seharusnya menjadi hari paling sempurna bagi pasangan Yahya dan Amal. Pukul enam pagi, Yahya dengan penuh kasih mengantar Amal ke rumah sakit saat kontraksi mulai menguat. Meski serangan militer masih membahana di langit Gaza, pasangan ini dipenuhi kegembiraan menyambut anak ketiga mereka—seorang putri yang telah lama dinanti oleh dua kakak laki-lakinya, Baraa (4) dan Kenan (3).
Persalinan sesar darurat berjalan lancar. Sana lahir dengan sehat. “Yahya sangat bahagia. Dia menggendong putrinya dan terus berkata kepada semua orang, ‘Putri cantikku sudah ada di sini,'” kenang Amal, mengutip Al Jazeera.
Yahya menghabiskan jam-jam pertamanya sebagai ayah tiga anak dengan membisikkan azan ke telinga Sana, berfoto bersamanya, dan menyambut kerabat. Sebelum pamit, ia mencium kening istrinya. “Dia bilang akan pulang sebentar untuk melihat kedua jagoan kami dan membawakan perlengkapan bayi, lalu kembali agar kami bisa memilih nama bersama. Saya tidak tahu itu terakhir kalinya kami melihat Yahya.”
Yahya terbunuh sore itu dalam serangan udara Israel yang menargetkan kawasan komersial di pusat Kota Gaza saat ia sedang membagikan manisan untuk merayakan kelahiran putrinya. Setidaknya 17 orang tewas, termasuk sepupu dan sahabat terbaiknya.
Di rumah sakit, suasana berubah drastis. Amal merasakan keganjilan: bisik-bisik perawat, wajah ibu yang tegang, dan telepon yang terus berdering. Penasaran, Amal meraih ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya lebih dari 15 kali. Tak ada jawaban.
Hingga akhirnya, sebuah tajuk berita muncul di layar ponselnya: “Jurnalis Yahya Sobeih Gugur Lima Jam Setelah Menyambut Kelahiran Putrinya.”
“Saya merasa darah saya membeku. Saya berteriak tak terkendali. Rasanya seperti kehilangan akal sehat,” tutur Amal sambil terisak. Karena masih dalam masa pemulihan pascaoperasi, Amal bahkan tak mampu beranjak untuk memberikan penghormatan terakhir atau sekadar menyentuh jasad suaminya.
Melanjutkan Langkah di Tengah Perang
Setahun berlalu sejak kepergian Yahya. Bagi Amal, ini adalah “tahun duka”. Ia kehilangan begitu banyak: saudara laki-laki, saudara perempuan, dan sembilan keponakannya dalam serangan yang berbeda. Kini, ia harus menjadi ibu sekaligus ayah di tengah kelaparan dan pengungsian di tenda-tenda sempit di selatan Gaza.
Namun, Amal memilih untuk tidak menyerah. Demi menghormati pesan suaminya, ia kini bekerja di perusahaan media yang sama tempat Yahya mengabdi. “Saya mencoba melanjutkan pesan suami saya, agar tetap kuat untuk diri saya sendiri dan anak-anak saya,” ujarnya.
Di hari ulang tahun pertama Sana, Amal menyiapkan kue sederhana dan manisan seadanya. Di sampingnya, foto Yahya yang sedang tersenyum diletakkan dengan rapi.
Yang paling menyayat hati Amal adalah memikirkan bagaimana suatu hari nanti ia harus menjelaskan kepada Sana, bahwa hari ia lahir adalah hari yang sama saat ayahnya pergi selamanya.
“Setiap kali saya melihat wajah Sana, saya melihat bayangan ayahnya… di fitur wajahnya, senyumnya, bahkan caranya mendekatiku setiap kali aku menangis,” kata Amal. “Jika Yahya ada di sini, dia pasti akan merayakan hari ini dengan meriah. Sana tidak bersalah, dia berhak merayakan kelahirannya.”






