Crispy

AS-Iran Kian Dekat Menuju Kesepakatan Jangka Pendek, Perang Segera Berakhir?

JERNIH – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kian dekat menuju kesepakatan terbatas dan sementara untuk menghentikan perang. Laporan yang beredar pada Kamis (7/5/2026) menyebutkan bahwa kedua belah pihak tengah menyusun draf kerangka kerja yang akan menghentikan pertempuran, meskipun isu-isu paling krusial masih menggantung.

Rencana yang muncul saat ini berpusat pada memorandum jangka pendek, bukan pakta perdamaian komprehensif. Hal ini menandakan masih dalamnya jurang perbedaan antara Washington dan Teheran.

Harapan akan pembukaan kembali Selat Hormuz langsung mengguncang pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent merosot tajam sekitar 11 persen ke level $98 per barel karena spekulasi bahwa gangguan pasokan akan segera mereda. Sebaliknya, pasar saham global mendekati rekor tertinggi seiring optimisme meredanya konflik energi.

Menurut sumber diplomatik dari Pakistan yang menjadi mediator, kerangka kerja yang diusulkan akan berjalan dalam tiga tahap yakni mengakhiri perang secara formal, menyelesaikan krisis di Selat Hormuz serta membuka jendela negosiasi 30 hari untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas.

“Prioritas kami adalah pengumuman penghentian perang secara permanen, sementara isu-isu sisa bisa dibahas setelah mereka kembali ke pembicaraan langsung,” ujar pejabat senior Pakistan kepada Reuters.

Presiden Donald Trump menunjukkan nada optimis dari Gedung Putih. “Mereka ingin membuat kesepakatan… itu sangat mungkin terjadi. Ini akan berakhir dengan cepat,” ujarnya.

Namun, suasana di Teheran jauh lebih dingin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pihaknya masih mempelajari proposal tersebut. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan terkesan mengejek laporan kesepakatan ini melalui media sosialnya. Ia menyebut narasi kesepakatan ini hanyalah “putaran balik” AS setelah gagal membuka paksa Selat Hormuz secara militer.

Menariknya, draf memorandum satu halaman yang sedang digodok ini dikabarkan tidak menyebutkan beberapa tuntutan utama AS yang selama ini ditolak keras oleh Iran, seperti pembatasan program rudal Iran, penghentian dukungan terhadap milisi proksi (seperti Hizbullah) serta nasib stok 400kg uranium Iran yang mendekati tingkat senjata nuklir.

Ini menandakan bahwa kesepakatan ini hanyalah “obat penenang” sementara untuk menstabilkan ekonomi global, sementara persaingan ideologis dan nuklir masih akan berlanjut di bawah permukaan.

Meski diplomasi memanas, militer masih bersiaga. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan pasukannya menembaki tanker minyak berbendera Iran yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran pada Rabu kemarin, melumpuhkan kapal tersebut sebagai bagian dari blokade laut yang masih berlangsung.

Back to top button