Crispy

Wali Kota Seoul Ditemukan Tewas Tak Jauh dari Kediaman

SEOUL (KORSEL)—Wali Kota Seoul Park Won-soon di temukan tewas di Gunung Bukak di lingkungan Seongbuk-gu, Seoul, Korea Selatan (Korsel) pada Jum’at (10/7/2020) dini hari waktu setempat.

Lokasi penemuan mayat ini berjarak sangat dekat dengan kediaman resmi Wali Kota Seoul di Jongno-gu.

CNN melaporkan, polisi setempat belum mempublikasikan temuannya secara detil prihal kematian ini karena alasan privasi.

Salah seorang pejabat di Departemen Kejahatan Badan Kepolisian Metropolitasn Seoul Choi Ik-soo mengatakan bahwa tidak ditemukan catatatan bunuh diri yang tertinggal. Barang-barang milik politisi 64 tahun itu pun dilaporkan ditemukan di sekitar jasadnya.  

Namun, dugaan bahwa ia mati bunuh diri menyeruak ditengah kasus pelecehan seksual yang tengah  menimpa dirinya.

Sebelum ditemukan, sekitar 600 petugas kepolisian, pemadam kebakaran, serta anjing pelacak menyusuri tiap sudut kota mencari keberadaanya selama lebih kurang tujuh jam.

Tim pencarian telah menjelajahi Taman Waryong, di mana Park dilaporkan terlihat di sana melalui kamera pemantau (CCTV) pada Kamis malam. Sinyal ponselnya terlacak terakhir kali di Seongbuk-gu.

Tubuhnya kemudian ditemukan oleh anjing pelacak pada Jumat dini hari. Setelah dilakukan identifikasi oleh tim pemadam kebakaran, tim meyakini bahwa mayat tersebut adalah Wali Kota.

Pencarian ini dilakukan setelah polisi menerima laporan hilangnya Park dari putrinya pada Kamis malam.

Park Won-soon lahir di Provinsi Gyeongsang Selatan, Korsel, pada tahun 1956. Sebelum terjun ke kancah politik, ia tercatat pernah menjadi jaksa, pengacara, dan Sekretaris Jenderal Solidaritas Rakyat Untuk Demokrasi Partisipatif, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang cukup besar di Korsel.

Sejak 28 Oktober 2011, Park resmi menjabat Wali Kota Seoul. Ia digadang-gadang sebagai calon kuat presiden Korsel pada 2022 dari kalangan liberal.

Dukungan dari Partai Demokratik dan Partai Buruh Demokratik yang mengantarnya duduk sebagai Wali Kota memicu riak perpolitikan di Korsel. Hal ini dinilai sebagai angin segar di tengah “politik tradisional” yang berkuasa di Korsel.

Mantan pengacara Hak Azasi Manusia (HAM) ini dinilai sukses memperjuangkan proyek-proyek kesejahteraan kota selama tiga periode kepimimpinannya.

Park, yang terpilih pada pemilu 2011, 2014, dan 2018, menjadi simbol reformasi di kota yang pada 2019 tercatat memiliki sepuluh juta populasi tersebut. Masa jabatannya akan berakhir pada 2022.

Selama berkarir sebagai pengacara, ia dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan dan pernah memenangkan beberapa kasus besar. Ia tercatat pernah memenangkan kasus pelecehan seksual pertama di Korsel pada 1990.

Dinukil dari Kompas.com, sebelumnya, Park dilaporkan ke polisi terkait skandal seksual yang melibatkan dirinya. Ia diisukan melakukan pelecehan seksual kepada salah satu sekretaris wali kota, seperti kontak fisik yang tidak senonoh pad 2017 lalu.

Perempuan itu melaporkan pada pihak berwajib bahwa beberapa staf di City Hall pernah mengalami pelecehan serupa yang dilakukan oleh politisi yang dikenal dekat dengan Tiongkok tersebut.

Sampai saat ini, baik polisi maupun pihak kantor wali kota belum memberikan konfirmasi terkait hal ini. Menurut hukum Korea Selatan, ketika seorang tersangka meninggal, investigasi dihentikan karena jaksa tidak mempunyai dasar untuk melakukan dakwaan. [ ]

Back to top button