Depth

Bertemu Anak Presiden Depok

Lelaki tua itu keluar dari rumahnya yang bergaya Belanda abad ke-18. Meski badannya terlihat renta, ia masih amat gagah. Tak sedikit pun ia membutuhkan tongkat untuk berjalan.

Dengan senyum dari wajahnya, ia duduk di kursi teras rumahnya. Penampilannya amat biasa. Saat itu, ia hanya mengenakan baju putih, celana hitam, serta sandal jepit. Tak terlihat kalau dulunya ia merupakan anak presiden.

Ia dipanggil Opa Yuti. Nama aslinya Cornelis Yoseph Jonathan. Terlahir sebagai putra dari presiden terakhir Depok, Johanes Mathis Jonathans. Tahun ini, Opa begitu ia dipanggil, genap berumur 87 tahun.

Meski sedikit bermasalah pada pendengaran, ingatannya masih amat kuat tentang komunitasnya yang kerap dikenal sebagai Belanda Depok. Menurutnya, meski kerap dipanggil Belanda, tak ada seorang pun di komunitasnya yang asli dari Belanda.

“Kami orang Indonesia asli,” tegasnya.

Opa Yuti memulai ceritanya. Menurutnya, komunitasnya berasal dari 150 budak yang dibeli oleh seorang menir Belanda bernama Cornelis Chastelein di tahun 1600-an. Mereka terdiri atas beberapa warga Indonesia Timur mulai dari Makasar, Bali, dan Surabaya.

Khusus untuk budak yang memilih mengikuti ajaran Nasrani Chastelein, memberikan mereka marga. Beberapa marga dibuat berdasarkan kelompok-kelompok asal budak. Namun, ada beberapa yang lain yang tak sesuai asal daerah.

Setelah Chastelein meninggal pada tahun 1714, menir Belanda inipun membebasakan semua budaknya dan memberikan seluruh tanah partikelir kepada para budak. Mereka pun mendirikan pemerintahan dengan presiden sebagai kepala pemerintahnya.

“Ayah Opa memimpin depok hingga 1954,” kata warga Jl Pemuda itu.

Meski tak ingat persis presiden Depok yang ke berapa, ia mengatakan ayahnya dipilih perwakilan dari tiap marga untuk menjadi presiden yang disebut Gelijkgestelden.

Ia mengatakan, setelah masuk ke Indonesia di tahun terakhir ayahnya memimpin, resmilah komunitasnya disebut sebagai Belanda Depok. Meski rupa mereka tetap asli Indonesia.

Dari Data Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) memperlihatkan Belanda Depok kini tersebar di Depok Lama dan Pancoran Mas. Mereka banyak bertempat tinggal di beberapa wilayah seperti Jalan Kartini, Jalan Pemuda, Jalan Bungur, Jalan Kamboja, Jalan Siliwangi, Jalan Cempaka, Jalan Flamboyan, Jalan Dahlia, Jalan Jambu, Jalan Kencana, dan sebagian Margonda.

Mereka terdiri atas 11 marga yakni Laurensa, Tholense, Soedira, Joseph, Jacob, Leander, Jonathans, Bacas, Loen, Isakh, dan Samuel.

Dari data 2008, total Belanda Depok tinggal 1.650 jiwa seperti Loen 379 orang, Leander 328 orang, Soedira 218 orang, dan Bakas 198 orang. Selain itu, Jonathans 190 orang, Laurens 108 orang, Isach 85 orang, Samuel 80 orang, Toelens 31, dan Jacob 12 orang. Namun, data ini hanya memuat Belanda Depok yang berumur 17 tahun ke atas.

Menurut Boy Loen, sekretaris Yayasan LLC, selain ke-11 marga tersebut, ada satu marga lain, yakni Zadoch. Namun, kata dosen sebuah universitas swasta di Jakarta itu, marga ini punah karena tak memiliki anak lelaki.

“Marga ini lenyap tahun 1970-an. Kini, pihaknya tengah berupaya mencari anak perempuan terakhir dari keluarga Zadoch,” ujarnya.

Kabar terakhir menyebutkan anak perempuan Zadoch berada di Jerman. Yayasan LLC akan berupaya menemuinya, dengan harapan suaminya mau menggunakan marga Zadoch.

“Kami ingin fam ini kembali,” ujar Boy.

Boy mengatakan, tak ada upaya pemurnian ras. Menurutnya, Belanda Depok boleh menikah dengan siapa saja, tak harus dari marga yang sama ataupun sesama Belanda Depok. Kini, untuk mengetahui jumlah keseluruhan, setiap tahunnya Yayasan LCC membuat kartu anggota untuk mendata para Belanda Depok.

“Dalam kartu itu terdapat nama KK serta jumlah anggota keluarganya,” jelasnya.

Menurut Boy, pendataan menjadi penting karena berguna untuk memungut iuran agar organisasi yang menaungi warga tua Depok ini terus berjalan.

Kondisi Belanda Depok kini sama seperti orang Indonesia kebanyakan. Mereka beraktivitas mulai dari bekerja sebagai wiraswasta, pekerja kantoran, PNS, hingga TNI, dan wakil rakyat.

Semua komunitas akan berkumpul di hari besar agama. Selain itu, mereka pun akan bertemu dan membuat acara setiap 17 Agustus dan hari ultah Belanda Depok tiap 28 Juni, tepat pada hari kematian Chastelein.

Belanda Depok rata-rata tak suka dipanggil Belanda Depok. Mereka ingin tak dibedakan dari warga Indonesia lainnya. Dalam partisipasi politik pun, mereka tak mau terfragmentasi.

“Kebanyakan dari kami mengarah ke nasionalis,” ujar Boy. “Kami tak ingin memilih partai herideologi agama.”

Menurutnya, bukankah NKRI merupakan negara multikultur. Jika selalu melihat ke belakang dan memperdebatkan perbedaan, bangsa kita tak akan maju.

“Kita akan mundur ke belakang,” lanjutnya.

Hanya satu keinginan warga Belanda Depok pada pemerintah, terutama pemerintah Kota Depok, yaitu lestarikan bangunan tua peninggalan leluhur mereka. Bangunan itu adalah saksi sejarah.

Yulia Jonathans Lender, Belanda Depok lain, mengatakan, kebanyakan rumah tua yang ada di Depok sudah rata dengan tanah dan berganti dengan bangunan modern. Ia menuturkan masalah ekonomi kerap membuat warga di komunitasnya terpaksa menjual rumah tua milik mereka.

“Saya ingin ini tetap ada,” ujarnya. “Saya ingin anak cucu saya masih bisa melihat garis sejarah keberadaan kami di sini.”

Dalam wasiatnya, Cornelis Castelein memberi warisan 57 rumah kepada mereka. Namun kini, berdasar data Yayasan LCC, yang ada hanya sekitar 10 persen saja. Bangunan tersebut di antaranya terdapat di Jalan Pemuda, yang sekarang berbentuk SMA Kasih, SDN Pancoran Mas, dan RS Harapan.

Yayasan LCC mengatakan, tiap tahunnya sudah meminta pemerintah dan DPRD untuk memberikan perhatian. Namun sayangnya, keinginan mereka tak kunjung diperhatikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close