Depth

Jerman Ungkap Ratusan Pelaku Skandal Pelecehan di Gereja Katolik

Laporan tersebut mengidentifikasi sekitar 243 pelaku kekerasan (seksual) terhadap anak di bawah umur–pastor atau orang awam yang bekerja untuk gereja–dan sedikitnya terdapat 386 korban antara tahun 1946 dan 2018, tidak semuanya berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Köln.

JERNIH—Pada Kamis (18/3) lalu sebuah firma hukum Jerman menerbitkan laporan independen menyusul tuduhan adanya upaya menutup-nutupi pelecehan seksual di keuskupan Katolik Roma terbesar di Jerman.

Laporan ini telah lama ditunggu—dibuat atas penugasan Keuskupan Köln, dan disampaikan Björn Gercke, seorang pengacara dari firma hukum München yang melakukan penyelidikan. Dia mengatakan telah memeriksa “file berbahaya” sehubungan dengan dokumen yang merinci bukti pelecehan yang dilakukan oleh para pastor dan upaya menutup-nutupi kejahatan tersebut.

Gercke mengatakan timnya telah menghabiskan waktu lima bulan untuk memeriksa ribuan file dari tahun 1940-an dan telah melakukan wawancara dengan para korban.

Uskup Agung Koln, Kardinal Rainer Maria Woelki

Dia mengatakan bahwa banyaknya dokumen yang hilang menghambat jalannya penyelidikan, tetapi dia memuji keuskupan atas dukungan dan keterbukaan mereka dalam proses tersebut.

Laporan tersebut mengidentifikasi sekitar 243 pelaku kekerasan terhadap anak di bawah umur–pastor atau orang awam yang bekerja untuk gereja–dan sedikitnya terdapat 386 korban antara tahun 1946 dan 2018, tidak semuanya berada di bawah yurisdiksi Keuskupan Köln.

Sekitar 55 persen kasus melibatkan anak-anak di bawah usia 14 tahun dan sekitar separuh kasusnya adalah kekerasan seksual, selebihnya dengan kekerasan verbal atau fisik lainnya. Hampir dua pertiga kasus dilakukan oleh para pastor dan sisanya oleh orang awam. Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan kasus pelecehan yang dilaporkan antara tahun 2004 dan 2018.

Menyusul diterbitkannya laporan tersebut, Uskup Agung Köln Kardinal Rainer Maria Woelki mengumumkan bahwa dia akan memberhentikan dua pastor di keuskupannya. “Apa yang kami lihat menunjukkan dengan jelas bahwa ada yang ditutup-tutupi,” katanya. “Saya malu.”

Membuka mata

Gercke mengatakan banyak dari kasus pelecehan itu diketahui dan terdokumentasikan. Pendahulu Woelki, Kardinal Joachim Meisner, yang meninggal pada tahun 2017, telah mengumpulkan banyak bukti tentang anggota pastor yang melakukan pelecehan dalam sebuah file yang oleh Gercke diberi label “Brothers in the Mist,”sebuah istilah yang merujuk pada pastor yang melakukan pelecehan.

Pelecehan anak di bawah umur yang dilakukan oleh pastor adalah isu yang Gereja Katolik Jerman hadapi sejak 2010. Gereja melakukan penyelidikan yang mencakup periode waktu dari 1946. Ketika laporan diterbitkan pada 2018, terdapat 3.677 korban dan 1.670 pelaku. Dan setiap tahun lebih banyak kasus ditambahkan, karena kejahatan yang telah ditutup-tutupi selama beberapa dekade terungkap.

Banyak anggota telah meninggalkan Gereja karena skandal itu. Kasus ini pun menggemparkan Gereja Katolik Irlandia, Australia, AS, dan Chili. Diduga ada puluhan ribu korban di seluruh dunia.

Laporan 900 halaman terbaru itu mengutip sebuah surat yang ditulis pada tahun 1984 oleh Kardinal Höffner, Uskup Agung Köln dari tahun 1969 hingga 1987 dan salah satu pastor paling terkemuka di Jerman, kepada seorang pastor yang telah dituduh melakukan pelecehan.

“Saya sangat menyesal Anda menghadapi kesulitan seperti itu tepat di awal masa jabatan Anda. Saya telah meminta staf saya untuk menyelidiki tuduhan tersebut. Tidak ada orang di sini yang menanggapinya dengan serius,” tulis Höffner. Kalimat seperti ini menunjukkan bagaimana tuduhan ditangani: Mereka (korban) diabaikan dan tidak ada yang dilaporkan ke Vatikan.

Laporan juga mendokumentasikan tindakan para pemimpin Gereja Katolik Köln dari tahun 1976 hingga 2018. Kardinal Höffner disebutkan telah melakukan pelanggaran tugas yang serius, tetapi penggantinya Kardinal Joachim Meisner, seorang uskup agung ultra-konservatif dan reaksioner, yang menjabat dari tahun 1989 hingga 2014 dituduh lebih berat. Sepertiga kasus terjadi selama dia menjabat. Meisner mengabaikan tugasnya untuk menyelidiki, melaporkan, dan memberi sanksi penyalahgunaan dan mengabaikan para korban, menurut laporan itu.

Kardinal Woelki sendiri tidak ditemukan melakukan pelanggaran tugas. Pengumuman ini pun mengejutkan banyak orang.

Woelki dikritik karena menyembunyikan laporan sebelumnya selama berbulan-bulan. Kemudian jurnalis ditawari kesempatan untuk membaca laporan tersebut jika mereka berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan. Dia mengatakan bahwa para pelaku mungkin memiliki hak privasi.

Orang-orang di gereja marah saat mengetahui bahwa Woelki sejatinya telah diberitahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh seorang pastor senior, bernama “Father O.” Namun, Woelki menolak untuk melaporkan serangan pastor terhadap pembantunya pada 2015 kepada pejabat di Roma, dengan alasan bahwa pastor tersebut sudah tua dan tidak layak untuk diadili.

Laporan terbaru itu juga menyalahkan beberapa tokoh gereja karena telah mengabaikan tugas mereka, termasuk Uskup Agung Hamburg Stefan Hesse, yang merupakan asisten Kardinal Meisner dari tahun 2006 hingga 2014. Hanya beberapa jam setelah laporan tersebut diterbitkan, Hesse mengajukan pengunduran dirinya kepada Paus.

Para penyelidik menemukan kekurangan dan kelemahan sistematis, antara lain dokumentasi yang tidak merata, bukti bahwa pemimpin agama tidak menyadari persyaratan hukum, dan kurangnya hierarki dan tanggung jawab yang jelas.

Akan ada lebih banyak pengumuman

Uskup Agung Köln Woelki menerima laporan tersebut setelah Gercke dan timnya menyelesaikan presentasi mereka. Woelki mengatakan bahwa dia telah “sangat mengantisipasi” hari (pegumuman) ini, tetapi juga “sangat takut seperti sebelumnya.”

Mereka yang menutup-nutupi kasus harus menanggung konsekuensi kejahatan tersebut. Mereka mencegah penyelidikan dan hukuman para pelaku. “Tindakan lebih berat daripada kata-kata,” kata Woelki dengan tenang dan mengumumkan bahwa dia akan segera mengirimkan salinan laporan itu ke Roma.

Woelki tidak mengesampingkan kemungkinan pengunduran diri tetapi mengumumkan akan mengadakan konferensi pers Selasa (23/03) pekan depan.

Beberapa dari 27 keuskupan Jerman telah menugaskan dan menerbitkan laporan tentang pelecehan. Setelah skandal tersebut, permintaan meningkat bagi orang-orang yang ingin meninggalkan gereja secara resmi di Jerman. Di Köln, angkanya sangat dramatis.

Saat laporan itu disampaikan, para pengunjuk rasa di luar Katedral Köln menyatakan dukungannya kepada para korban. Mereka menyatakan kekecewaan atas temuan tersebut, dan terkejut atas kurangnya kritik terkait tindakan Kardinal Woelki. Mereka bersumpah untuk melanjutkan protes mereka. [Deutsche Welle]

Back to top button