Desportare

Bungkam AS 4-1, Timnas Belgia Sindir Presiden AS Lewat Selebrasi ‘Trump Dance’ di Seattle

JERNIH — Langkah Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 resmi terhenti dengan cara yang paling tragis sekaligus memalukan di hadapan publik sendiri. Bertanding di Seattle pada Selasa (7/7/2026), skuad The Yanks dihajar habis-habisan oleh Belgia dengan skor telak 4-1 pada babak 16 besar.

Namun, yang menjadi buah bibir dunia bukanlah sekadar skor mencolok tersebut, melainkan aksi teatrikal para pemain Belgia yang merayakan gol penutup mereka dengan menarikan “Trump Dance”—sebuah sindiran menohok yang ditujukan langsung kepada Presiden AS, Donald Trump.

Belgia langsung menyengat sejak menit awal. Laga baru berjalan sembilan menit ketika Charles De Ketelaere dengan tenang menyambar umpan tarik Nicolas Raskin untuk membuka keunggulan 1-0.

AS sempat menghidupkan asa publik Seattle pada menit ke-31 setelah eksekusi tendangan bebas Malik Tillman gagal dibendung Thibaut Courtois, mengubah skor menjadi sama kuat 1-1. Namun, kegembiraan tuan rumah hanya berumur dua menit. De Ketelaere kembali mencetak gol lewat sundulan tajam memanfaatkan umpan silang Leandro Trossard, membawa Belgia memimpin 2-1 hingga turun minum.

Memasuki paruh kedua, kendali permainan sepenuhnya berada di kaki para pemain Belgia. Pada menit ke-57, Hans Vanaken memperlebar jarak menjadi 3-1. Puncaknya terjadi di masa injury time (90+3′), ketika striker gaek Romelu Lukaku mengunci kemenangan menjadi 4-1 setelah menyelesaikan asis dari Vanaken.

Selebrasi “Trump Dance” dan Skandal Kartu Merah

Begitu bola bersarang di gawang AS untuk keempat kalinya, Romelu Lukaku langsung berlari ke pinggir lapangan dan berdiri di pusat lingkaran rekan-rekan setimnya. Penyerang bertubuh kekar itu kemudian mulai mengepalkan kedua tangannya sejajar pinggang dan menggerakkannya maju-mundur secara ritmis, meniru gerakan joget khas Donald Trump.

Aksi ini bukan sekadar selebrasi biasa, melainkan bentuk protes dan sindiran keras terhadap intervensi politik Donald Trump sebelum laga dimulai.

Trump dilaporkan sempat menelepon FIFA secara personal untuk meminta peninjauan ulang atas kartu merah yang diterima striker AS, Folarin Balogun, saat laga melawan Bosnia Herzegovina di babak 32 besar. Secara kontroversial, FIFA menuruti permintaan tersebut dan menunda pelaksanaan sanksi, sehingga Balogun bisa tampil starter melawan Belgia.

Asosiasi Sepak Bola Belgia meradang karena belum pernah ada sejarahnya hukuman kartu merah di Piala Dunia bisa “didiskon” lewat jalur intervensi presiden. Bahkan, pelatih Belgia Rudi Garcia sempat menyindir keputusan FIFA itu layaknya lelucon “April Fool’s Day” (April Mop).

Bagi publik internasional, gerakan joget yang ditiru Lukaku ini dikenal secara global sebagai “The Trump Shuffle” atau “Trump Dance”. Tarian ini pertama kali viral saat kampanye Pilpres AS 2020. Gaya jogetnya sangat spesifik yakni kedua tangan mengepal di dekat pinggang, digerakkan maju-mundur bergantian seperti sedang memompa tak terlihat atau bermain ski, dibarengi dengan hentakan kaki dan goyangan pinggul kaku yang khas. Trump kerap memamerkan joget ini di akhir rapat umum politiknya diiringi lagu disko klasik milik Village People, “Y.M.C.A”.

Dalam kultur politik AS, gerakan ini awalnya menjadi simbol optimisme, pembangkangan terhadap kemapanan (anti-establishment), dan cara Trump mendekatkan diri secara populis kepada massa akar rumput lewat budaya pop yang jenaka.

Ketika diadopsi oleh atlet olahraga—terutama oleh tim lawan AS seperti Belgia—arti tarian ini bergeser 180 derajat menjadi sarkasme murni. Belgia menggunakan tarian kebanggaan Trump untuk menampar balik sang presiden: sebuah pesan satir bahwa sekaya apa pun intervensi politik dilakukan untuk membantu Timnas AS, mereka tetap tidak berkutik di hadapan taktik sepak bola murni.

Dengan kemenangan telak ini, Belgia sukses melenggang ke babak perempat final. Sementara bagi Amerika Serikat, mereka tidak hanya kehilangan tiket emas di rumah sendiri, tetapi juga harus menanggung malu akibat arogansi politik luar lapangan yang berakhir menjadi bahan olok-olok global.

Back to top button