Kibarkan Bendera Palestina di Piala Dunia, Pelatih Mesir: Kemenangan Ini untuk Rakyat Gaza!

JERNIH — Sambil menggenggam erat bendera Mesir dan Palestina di kedua tangannya, pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, berjalan tegas ke tengah lapangan Stadion Dallas pada Jumat (3/7/2026) waktu setempat. Di belakangnya, para penggawa The Pharaohs langsung bersujud syukur secara kolektif di atas rumput hijau.
Pemandangan emosional itu tersaji tepat setelah Mesir mencetak sejarah baru: lolos ke babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya usai menumbangkan Australia lewat drama adu penalti yang dramatis. Di tengah euforia kelolosan, Hassan memilih mendedikasikan pencapaian terbesar sepak bola negaranya untuk rakyat Palestina yang sedang terjajah.
“Semoga Allah menganugerahkan kemenangan kepada mereka [rakyat Palestina], semoga Allah mengampuni para martir mereka. Saya katakan kepada mereka: Saya mendedikasikan kemenangan ini untuk rakyat Mesir dan rakyat Palestina, orang-orang yang baik dan terhormat itu,” ujar Hossam Hassan dengan suara bergetar pasca-laga.
Aksi solidaritas Hassan di lapangan hijau itu langsung beresonansi kuat hingga ke ribuan kilometer jauhnya. Di Jalur Gaza yang tengah terkepung, malam itu sekat pembatas hancur oleh kegembiraan. Ribuan pengungsi keluar dari tenda-tenda darurat dan celah bangunan yang hancur dibom hanya untuk menonton layar kaca secara komunal.
Anak-anak kecil dengan wajah berlukiskan bendera Mesir bersorak kegirangan menyambut kemenangan sang “saudara tua”. Bagi mereka, sepak bola Mesir malam itu adalah nafas kehidupan di tengah nestapa perang.
“Untuk pertama kalinya, saya mengikuti Piala Dunia dengan antusiasme sebesar ini,” tulis Tamer Nahed, seorang warga Gaza melalui akun X miliknya. “Pemandangan terindah adalah melihat ribuan orang keluar dari tenda mereka. Wajah-wajah berseri dengan senyum, sorak-sorai memenuhi udara. Rasanya seolah-olah semua orang memutuskan untuk memberi diri mereka momen untuk hidup, terlepas dari apa pun yang mengelilingi mereka.”
Di atas lapangan, tiket sejarah menuju 16 besar ini memang harus ditebus Mesir dengan perjuangan berdarah-darah sepanjang 120 menit. Emam Ashour sempat membawa Mesir memimpin lewat sundulan maut di menit ke-13, sebelum gol bunuh diri Mohamed Hany membuat skor imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu usai.
Dalam babak adu penalti yang menegangkan, mentalitas sang kapten, Mohamed Salah, benar-benar diuji. Secara tidak terduga, bintang Liverpool tersebut melakukan aksi nekat dengan melepaskan tendangan penalti bergaya Panenka yang mengecoh kiper Australia.
Mesir akhirnya mengunci kemenangan penalti dengan skor 4-2. Begitu eksekusi terakhir bersarang di gawang lawan, Salah langsung ambruk di lapangan dan menangis sesenggukan karena emosi yang membuncah.
“Jika ada yang harus mengambil risiko itu, maka orangnya adalah saya. Saya memiliki pengalaman lebih banyak dibanding yang lain, dan saya ingin memberi mereka kepercayaan diri. Saya baru memutuskannya di detik terakhir,” ungkap Salah mengenai penalti nekatnya.
Sejarah baru telah diukir oleh Mesir, namun takdir langsung menyuguhkan ujian yang jauh lebih akbar. Sebelum meninggalkan stadion, Salah sempat ditanya oleh jurnalis mengenai pemain legendaris mana yang paling ingin ia hadapi di turnamen ini. Tanpa ragu, Salah menjawab: “Lionel Messi.”
Impian itu langsung menjadi kenyataan. Beberapa jam setelah laga di Dallas usai, Argentina sukses mendepak Tanjung Verde dengan skor 3-2 melalui babak extra time di Miami.
Hasil ini memastikan duel impian antara Mesir yang dipimpin Mohamed Salah dan Argentina yang dikomandoi Lionel Messi resmi bentrok di babak 16 besar. Pertandingan raksasa yang diprediksi menjadi tarian terakhir (the last dance) kedua legenda di panggung Piala Dunia ini akan mengguncang Stadion Atlanta pada Selasa, 7 Juli 2026 mendatang.






