Skandal ‘Janji Warisan’ FIFA: 11 Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Menagih Komitmen Masing-masing Rp16,2 Miliar

JERNIH – Organisasi sepak bola dunia, FIFA, memicu kontroversi tajam setelah dilaporkan enggan mencairkan dana legacy (warisan) senilai $1 juta (sekitar Rp16,2 miliar) yang diijanjikan kepada masing-masing dari 11 kota penyelenggara Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Disetujuinya hibah verbal yang hingga kini belum terealisasi tersebut memicu amarah para pejabat komite lokal. Pasalnya, publik dan pemerintah daerah di AS telah menggelontorkan miliaran dolar untuk menyubsidi operasional turnamen, sementara FIFA meraup pendapatan fantastis melebihi $15 miliar pada siklus 2023–2026.
Berdasarkan laporan investigasi The Athletic, konflik ini bermula dari janji lisan jajaran manajemen senior FIFA kepada 11 komite penyelenggara kota di AS. Dana senilai total $11 juta tersebut awalnya dialokasikan untuk pembangunan lapangan mini-pitch dan program sosial komunitas lokal.
Skema dana warisan ini sejatinya mengadopsi janji publik Presiden FIFA Gianni Infantino saat Piala Dunia Antarklub 2025, yang menjanjikan suntikan $1 juta per kota tuan rumah.
“Para eksekutif FIFA secara berulang dalam berbagai rapat menegaskan bahwa kota-kota penyelenggara Piala Dunia 2026 akan menerima kontribusi warisan dengan besaran yang sama. Namun, hingga turnamen usai dan proses pembubaran panitia berjalan, dana tersebut tak kunjung ditransfer,” ungkap salah satu pejabat komite kota di AS.
11 kota yang kini menuntut kejelasan FIFA meliputi Seattle, San Francisco Bay Area, Los Angeles, Dallas, Houston, Kansas City, Atlanta, Philadelphia, New York/New Jersey, Miami, dan Boston.
Penyelenggara Lokal Bangkrut, FIFA Serap Seluruh Pendapatan
Ketimpangan finansial antara FIFA dan kota-kota penyelenggara menjadi sorotan utama. Pembayar pajak di AS menanggung beban paling berat untuk penyediaan fasilitas keamanan, transportasi, logistik, hingga penyediaan “stadion steril” tanpa merek non-sponsor FIFA.
Sebagai contoh, Komite Tuan Rumah Kansas City mencatat telah menyerap dana publik hingga $86,8 juta (kombinasi dari Pemprov Missouri, Kansas, dan APBD Kota). Selain itu, pengelola MetLife Stadium harus menyuntikkan dana ekstra $13 juta hanya untuk merombak kualitas rumput lapangan demi menggelar laga final 19 Juli lalu.
| Komponen Finansial Piala Dunia 2026 | Estimasi Nilai / Alokasi |
| Total Pendapatan FIFA (Siklus 2023-2026) | > $15 Miliar (Tiket, Hak Siar, Sponsor, Parkir) |
| Anggaran Operasional FIFA | ~ $2.7 Miliar |
| Subsidi Dana Publik Kansas City saja | $86,8 Juta (APBD & Hibah Negara Bagian) |
| Tunggakan Dana Legacy FIFA per Kota | $1 Juta (Total $11 Juta untuk 11 Kota AS) |
Sengketa tagihan dana warisan ini memperpanjang deretan masalah bagi Gianni Infantino. Sang Presiden FIFA saat ini juga sedang menghadapi tekanan politik hebat dari UEFA (Konfederasi Sepak Bola Eropa) dan sejumlah anggota global pasca-gagalnya proposal penjualan saham komersial FIFA kepada investor swasta.
Di saat kota-kota di AS mulai menyusun laporan keuangan dan menghentikan operasional komite, penundaan pembayaran dana yang relatif kecil bagi kantong FIFA ini dinilai para pejabat lokal sebagai bentuk pencederaan kemitraan yang sangat tidak etis.






