Dum Sumus

‘Pembakaran’ 260 Satelit Starlink Milik Elon Musk, Solusi Sampah Angkasa atau Ancaman Baru Ozon Bumi?

JERNIH — Di balik kecanggihan jaringan internet cepat yang dipancarkannya ke berbagai belahan dunia, konstelasi satelit Starlink milik Elon Musk ternyata menyimpan siklus hidup yang ekstrem. Dalam kurun waktu Desember 2025 hingga Mei 2026, SpaceX dilaporkan telah sengaja “membakar” 260 unit satelitnya di atmosfer bumi.

Langkah radikal ini terungkap dalam laporan tengah tahunan yang diserahkan SpaceX kepada Komisi Komunikasi Federal (FCC) Amerika Serikat pada Sabtu (4/7/2026). Tindakan pemusnahan massal ini diambil demi menjaga siklus peremajaan teknologi gawai ruang angkasa mereka.

Namun, di tengah populasi Starlink yang kini telah melampaui 10.000 unit di orbit rendah bumi, kebijakan “bersih-bersih” ini mulai memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan: Apakah metode ini aman bagi masa depan atmosfer kita?

Bagi orang awam, menjatuhkan satelit berharga miliaran rupiah untuk dibakar terdengar seperti pemborosan. Namun dalam dunia kedirgantaraan modern, ini adalah prosedur standar bernama deorbit.

Secara teknis, satelit Starlink hanya dirancang dengan masa pakai optimal selama 5 tahun. Ketika usianya habis atau teknologinya mulai usang, satelit-satelit ini harus disingkirkan agar tidak menjadi sampah antariksa (space debris) yang berisiko menabrak satelit aktif lain atau Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Proses pemusnahannya memanfaatkan gesekan ekstrem atmosfer bumi (atmospheric re-entry). Satelit diturunkan dari orbitnya, lalu saat bergesekan dengan lapisan udara bumi dengan kecepatan tinggi, suhu panas yang luar biasa akan muncul dan melumat habis seluruh komponen satelit hingga menguap. SpaceX menjamin proses ini 100% tuntas tanpa menyisakan serpihan padat berbahaya yang bisa jatuh menimpa pemukiman warga di daratan.

Meskipun daratan aman dari jatuhnya serpihan, para ilmuwan lingkungan dan astronom justru mengendus ancaman lain di langit. Astronom ternama Jonathan McDowell mencatat, total satelit Starlink yang telah hangus dibakar di atmosfer kini telah menembus angka 1.344 unit, dan ada 349 satelit usang lainnya yang saat ini sedang mengantre untuk digiring ke gerbang “kematian” yang sama.

Secara kimiawi, satelit modern mayoritas dibuat menggunakan bahan dasar aluminium. Ketika aluminium tersebut terbakar habis di lapisan ionosfer dan stratosfer, logam tersebut tidak hilang begitu saja, melainkan berubah bentuk menjadi partikel mikroskopis bernama Aluminium Oksida (Alumina).

Para peneliti memperingatkan dampak berantai dari akumulasi partikel alumina ini.Partikel alumina di atmosfer atas dapat memicu reaksi kimia berbahaya yang secara aktif mengikis molekul ozon. Lapisan ozon adalah perisai vital yang melindungi kehidupan di bumi dari radiasi ultraviolet (UV) mematikan matahari.

Berbeda dengan debu vulkanik alami yang perlahan jatuh ke bumi, partikel hasil bakaran satelit buatan manusia ini bisa melayang dan mengendap di stratosfer selama puluhan tahun, berpotensi mengubah cara atmosfer memantulkan serta menyerap panas matahari.

Melihat skala pemusnahan Starlink yang diprediksi akan terus naik tipis dari tahun ke tahun, sejumlah ilmuwan mendesak Pemerintah AS untuk segera melakukan peninjauan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) secara menyeluruh terhadap aktivitas komersial ruang angkasa.

Namun, urusan sains ini tampaknya harus membentur tembok tebal kepentingan geopolitik. Otoritas FCC Amerika Serikat saat ini justru dilaporkan tengah mengkaji rencana untuk mengecualikan proyek mega-konstelasi satelit seperti Starlink dari kewajiban penilaian Amdal.

Langkah pelonggaran regulasi ini dipertimbangkan demi memprioritaskan target strategis Washington yakni mempertahankan dominasi teknologi dan keunggulan militer Amerika Serikat di ruang angkasa global agar tidak disalip oleh negara kompetitor seperti China.

Pada akhirnya, proyek Starlink menempatkan umat manusia di persimpangan jalan yang ironis. Di satu sisi, manusia berhasil mendapatkan konektivitas internet tanpa batas di bumi; namun di sisi lain, kenyamanan digital tersebut perlahan berpotensi meninggalkan “jelaga” kimia yang merusak benteng perlindungan langit.

Back to top button