
Kebakaran TPA Jatiwaringin telah memicu reaksi berantai yang merusak lingkungan. Pembakaran plastik melepaskan zat karsinogenik ke udara, sementara jutaan liter air pemadam berpotensi membawa logam berat meresap ke air tanah warga.
WWW.JERNIH.CO – Kebakaran yang terjadi di TPA Jatiwaringin Tangerang selama empat hari berturut-turut bukanlah sekadar kasus kebakaran biasa (kebakaran struktural), melainkan sebuah fenomena reaksi kimia eksotermik bawah permukaan yang sangat kompleks.
Di dalam gunungan sampah TPA Jatiwaringin, terjadi proses dekomposisi anaerobik (tanpa oksigen) oleh bakteri metanogenik yang menghasilkan gas metana dengan konsentrasi tinggi sekitar 50% hingga 60%. Metana adalah gas yang sangat mudah terbakar (highly flammable) dengan batas ledakan bawah (Lower Explosive Limit) hanya sebesar 5%.
Ketika suhu internal gunungan sampah meningkat akibat tekanan mekanis dan panas biologis, oksidasi spontan terjadi. Begitu api terpicu, fenomena subsurface fire (kebakaran bawah permukaan) akan sulit dikendalikan karena tumpukan sampah bertindak sebagai bahan bakar berpori yang terus menyuplai oksigen secara perlahan.
Toksikologi Udara
Berbeda dengan kebakaran kayu yang menghasilkan karbon monoksida biasa, komposisi sampah heterogen (terutama plastik PVC, elektronik, dan limbah domestik) di Jatiwaringin yang terbakar pada suhu rendah hingga sedang mengalami pembakaran tidak sempurna (incomplete combustion). Proses ini melepaskan senyawa-senyawa berikut ke atmosfer:
- Particulate Matter, partikel mikroskopis berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer yang dilepaskan ke udara dapat menembus jauh ke dalam alveoli paru-paru dan langsung masuk ke sistem peredaran darah.
- Dioksin dan Furan (PCDD/Fs): Terbentuk dari pembakaran material plastik berbahan klorin (seperti PVC). Senyawa ini bersifat karsinogenik kuat (pemicu kanker) dan persisten, artinya tidak mudah terurai di lingkungan.
- Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs): Senyawa organik volatil yang bersifat mutagenik dan beracun bagi sistem reproduksi manusia.
Gangguan Hidrogeologi
Dampak yang sering kali luput dari perhatian adalah ancaman terhadap hidrosfer lokal melalui modifikasi kimiawi air lindi (leachate).
Selama empat hari proses pemadaman, jutaan liter air disemprotkan ke atas tumpukan sampah. Air ini melarutkan abu hasil pembakaran yang kaya akan logam berat (seperti Timbal/Pb, Kadmium/Cd, dan Merkuri/Hg dari limbah B3 domestik).
Cairan ini bertindak sebagai leachate sekunder yang sangat asam. Tanpa sistem liner (lapisan kedap) yang memadai di dasar TPA, cairan beracun ini akan meresap secara gravitasi menuju akuifer dangkal (air tanah). Akibatnya, sumur-sumur artesis warga di sekitar Kecamatan Mauk terancam mengalami kontaminasi logam berat jangka panjang yang sulit dimurnikan kembali.
Degradasi Struktur Tanah
Secara geoteknis, kebakaran selama empat hari ini merusak matriks struktural dari tumpukan sampah itu sendiri. Suhu tinggi menghancurkan fraksi organik dan plastik yang sebelumnya berfungsi sebagai “pengikat” mekanis tumpukan.
Terbentuknya rongga-rongga kosong di bawah permukaan (voids) akibat material yang habis terbakar menciptakan risiko ketidakstabilan lereng. TPA Jatiwaringin kini rentan mengalami longsoran sampah (landfill landslide) yang dipicu oleh hilangnya kohesi tanah, terutama jika struktur yang rapuh tersebut diguyur hujan deras atau tekanan air dari mobil pemadam.
Bioakumulasi
Asap yang membawa partikel dioksin dan logam berat lambat laun akan mengalami deposisi kering maupun basah (acid rain / pengendapan) ke vegetasi dan lahan pertanian di sekitar wilayah Tangerang.
Sapi atau ternak warga yang sering dilepasliarkan di sekitar TPA berisiko mengonsumsi rumput yang telah terpapar deposisi beracun ini. Senyawa seperti dioksin bersifat lipofilik (larut dalam lemak), sehingga akan mengalami bioakumulasi di dalam jaringan daging dan susu ternak, yang pada akhirnya membahayakan manusia sebagai konsumen puncak dalam rantai makanan (biomagnifikasi).(*)
BACA JUGA: Anggota BPK RI Haerul Saleh Wafat dalam Musibah Kebakaran di Jakarta Selatan






