Moron

Empat Kali Donald Trump Mendapat Ancaman Pembunuhan

Mengapa upaya pembunuhan terus berulang? Siapa sebenarnya sosok-sosok seperti Thomas Matthew Crooks dan bayang-bayang gelap di tahun 2026 yang nekat menantang maut demi menghentikan sang ‘Presiden Kontroversial’?

WWW.JERNIH.CO –  Sebagai salah satu figur paling kontroversial dan dominan dalam panggung politik Amerika Serikat, Donald Trump telah berulang kali menjadi target ancaman keamanan yang serius.

Sepanjang karier politiknya hingga masa kepemimpinannya saat ini di tahun 2026, tercatat beberapa insiden menonjol yang dikategorikan sebagai percobaan pembunuhan atau ancaman bersenjata langsung. Perjalanan ancaman ini mencerminkan tingginya polarisasi politik yang menyertai langkahnya.

Insiden di Las Vegas pada tahun 2016 merupakan salah satu upaya percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump yang paling awal dan cukup unik karena pelaku tidak membawa senjata sendiri ke lokasi.

Pelakunya adalah warga Inggris bernama Michael Steven Sandford. Peristiwa ini terjadi pada 18 Juni 2016 di Treasure Island Casino, Las Vegas, saat Donald Trump sedang melakukan kampanye untuk pencalonan presiden dari Partai Republik.

Sandford mendekati seorang petugas polisi Las Vegas bernama Ameel Jacob dengan dalih ingin meminta tanda tangan Trump. Saat berada cukup dekat dengan polisi tersebut, Sandford mencoba merebut pistol dari sarung senjata (holster) petugas. Niatnya adalah menggunakan senjata polisi tersebut untuk menembak Trump.

Ia gagal menarik senjata tersebut karena sistem penguncian pada sarung pistol polisi. Ia segera dilumpuhkan oleh petugas keamanan dan Secret Service sebelum sempat melepaskan satu peluru pun.

Insiden paling mengguncang terjadi pada 13 Juli 2024, saat Trump sedang berpidato dalam kampanye terbuka di Butler, Pennsylvania. Seorang pemuda berusia 20 tahun bernama Thomas Matthew Crooks melepaskan tembakan dari atap gedung di luar area steril. Peluru tersebut mengenai bagian atas telinga kanan Trump, hanya berjarak beberapa milimeter dari cedera fatal.

Nasib pelaku dalam insiden ini berakhir seketika; Crooks tewas ditembak di tempat oleh penembak jitu (counter-sniper) Secret Service dalam hitungan detik setelah ia melepaskan tembakan. Serangan ini juga menewaskan seorang penonton dan melukai dua lainnya secara serius.

Hanya berselang dua bulan, pada 15 September 2024, ancaman kembali muncul di Trump International Golf Club, Florida. Seorang pria bernama Ryan Wesley Routh terlihat oleh agen Secret Service sedang mengarahkan moncong senapan gaya AK-47 melalui pagar tanaman saat Trump sedang bermain golf.

Berbeda dengan Crooks, Routh tidak sempat melepaskan tembakan karena agen keamanan lebih dulu melepaskan tembakan ke arahnya. Routh melarikan diri dengan mobil tetapi berhasil ditangkap di kawasan tetangga.

Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah terbukti merencanakan pembunuhan tersebut melalui surat yang ia tinggalkan sebelumnya.

BACA JUGA: [HOT NEWS] Cole Thomas Allen Nyaris Membuat Sejarah Kelam Amerika Serikat

Memasuki tahun 2026, intensitas ancaman tidak kunjung mereda. Pada 25 April 2026, sebuah insiden bersenjata terjadi di dekat lokasi acara White House Correspondents’ Dinner di Washington, D.C., di mana Trump hadir sebagai tamu kehormatan.

Seorang tersangka bersenjata dilaporkan melepaskan tembakan di luar hotel lokasi acara sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan dan ditangkap oleh aparat keamanan.

Secret Service lantas menetapkan nama Cole Thomas Allen sebagai tersangka. Allen langsung dibekuk saat itu juga.

Pelaku pertama, Sandford tidak didakwa dengan pasal percobaan pembunuhan terhadap calon presiden (karena kesulitan pembuktian niat secara teknis hukum pada saat itu), melainkan didakwa atas kepemilikan senjata api secara ilegal (sebagai warga asing tanpa izin) dan gangguan terhadap acara pemerintah.

Pada Desember 2016, ia dijatuhi hukuman 12 bulan satu hari penjara. Karena masa tahanan yang sudah dijalani selama proses persidangan, ia dibebaskan lebih awal pada Mei 2017 dan langsung dideportasi kembali ke Inggris.

Sedang Ryan Wesley Routh menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Sementara Cole Thomas Allen berada dalam tahanan federal dengan penjagaan super ketat dan menghadapi tuntutan berlapis yang kemungkinan besar akan berakhir dengan vonis serupa dengan Routh.

Rangkaian peristiwa ini memaksa Pemerintah Amerika Serikat untuk terus mengevaluasi protokol keamanan presiden, mengingat eskalasi kekerasan politik yang kian nyata di era modern.(*)

BACA JUGA: Detik-Detik Ketegangan di Washington Hilton dan Tiga Senjata Cole Allen

Back to top button