Moron

Tak Cukup Greenland, Trump Kini Ingin “Beli” Kepulauan Chagos

Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan Inggris-Mauritius dan lebih memilih untuk membeli kedaulatan penuh atas Kepulauan Chagos. Apa maksud tersembunyi Trump sesungguhnya hingga bernafsu membeli Chagos?

WWW.JERNIH.CO –  Soal Iran belum tuntas, Presiden Amerika Serikat bikin “ulah” lagi. Donald Trump tengah mempertimbangkan rencana besar untuk mengakuisisi Kepulauan Chagos langsung dari Mauritius.

Langkah sepihak ini mencuat setelah Inggris menunda implementasi kesepakatan penyerahan kedaulatan Chagos kepada Mauritius akibat tekanan politik dari Washington.

Rencana pembelian kepulauan ini memicu perdebatan hangat dalam lanskap geopolitik global, terutama terkait keamanan regional dan hukum internasional.

Kepulauan Chagos (secara resmi dikenal sebagai Wilayah Samudra Hindia Britania atau British Indian Ocean Territory) adalah sekelompok tujuh atol yang mencakup lebih dari 60 pulau tropis individu. Secara geografis, kepulauan ini terletak di jantung Samudra Hindia yang strategis, berada di selatan India, timur Maladewa, dan timur laut Mauritius.

Pulau terbesar dan paling krusial di kepulauan ini adalah Diego Garcia. Diego Garcia berbentuk atol karang menyerupai cincin dengan pelabuhan alami yang sangat dalam di bagian tengahnya. Karakteristik fisik inilah yang membuat Chagos ideal untuk diubah menjadi salah satu pangkalan militer paling terisolasi sekaligus paling kuat di dunia.

Alasan utama Donald Trump ingin membeli Kepulauan Chagos adalah demi menghapus ketidakpastian hukum dan mengamankan kontrol penuh atas pangkalan militer tanpa intervensi pihak luar.

Sebelumnya, pada Mei 2025, Inggris sempat menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan kedaulatan Chagos kepada Mauritius dengan skema sewa kembali Diego Garcia selama 99 tahun.

Namun, Trump secara vokal mengkritik kesepakatan tersebut sebagai bentuk “kelemahan total” dan “kebodohan besar.” Trump khawatir bahwa jika Mauritius memegang kendali atas kepulauan tersebut, pengaruh China yang kuat di Mauritius dapat membuka celah spionase terhadap pangkalan AS, atau mempersulit perpanjangan masa sewa militer di masa depan.

Dengan membelinya secara outright (membeli kedaulatan penuh), AS dapat memotong jalur birokrasi Inggris dan mengeliminasi ancaman pengaruh Beijing.

Jika rencana akuisisi ini terealisasi, Amerika Serikat akan mendapatkan sejumlah keuntungan masif, antara lain:

Kendali Militer Jangka Panjang tanpa Batas: AS tidak perlu lagi bergantung pada masa sewa dari Inggris (yang akan berakhir beberapa tahun ke depan) atau membayar biaya sewa tahunan yang mahal kepada Mauritius.

Proyeksi Kekuatan Global Mutlak: Diego Garcia merupakan titik peluncuran strategis untuk operasi pembom siluman B-2, kapal selam nuklir, dan infrastruktur komunikasi satelit. Pangkalan ini sangat vital untuk memantau kawasan Timur Tengah, Afrika Timur, hingga jalur perdagangan utama di Indo-Pasifik. Keberadaan pangkalan ini terbukti krusial dalam dinamika konflik regional saat ini, termasuk ketegangan militer dengan Iran.

Membendung Dominasi China: Di bawah payung kedaulatan penuh AS, wilayah udara dan perairan di sekitar Samudra Hindia akan tertutup rapat dari infiltrasi militer maupun kapal riset China, menjaga jalur komunikasi maritim tetap berada di bawah pengaruh barat.

Rencana pembelian ini merupakan manifestasi nyata dari doktrin pertahanan luar kawasan Trump. Melalui pendekatan transaksional ini, AS berupaya mengamankan aset pertahanan paling berharganya secara permanen di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Persis seperti ketika Trump berupaya mmebeli Greenland dan mendapatkan perlawanan tidak saja dari rakyat Greenland, namun juga negara lain. Termasuk sekutunya sendiri.(*)

BACA JUGA: Apa Yang Dicari Presiden Trump di Greenland?

Back to top button