POTPOURRIVeritas

Bahkan di Negara Sebebas AS, Orang Masih Tidak Nyaman dengan Atheisme

Sebagian besar orang Amerika tidak mempercayai seorang atheis bisa menjadi tetangga dan warga negara yang baik. Sebuah survei nasional pada tahun 2014 menemukan bahwa 42 persen orang Amerika mengatakan atheis tidak memiliki “visi masyarakat Amerika” yang sama dengan umum, dan 44 persen tidak ingin anak mereka menikah dengan seorang ateis. Persentase tersebut hampir tidak berubah dalam tindak lanjut 2019

Oleh   : Prof Penny Edgell dan Prof Wendy Cadge

JERNIH– Pada akhir Agustus 2021, organisasi pemuka agama Universitas Harvard dengan suara bulat memilih Greg Epstein sebagai presiden lembaga tersebut. Epstein-– penulis “Good Without God” yang atheis dan humanis-– akan bertanggung jawab untuk mengoordinasikan lebih dari 40 pemuka agama di Harvard, yang mewakili berbagai latar belakang agama.

Pemilihannya menarik perhatian media, mendorong artikel di beberapa media massa seperti NPR, The New Yorker, Daily Mail dan Jewish Exponent. Beberapa tulisan menggambarkan ide seorang ‘pemuka agama’ atheis sebagai satu lagi pertempuran dalam perang budaya yang berlangsung di AS.

Tetapi tren yang dicerminkan oleh posisi Epstein bukanlah hal baru. Orang Amerika non-religius, yang kadang dianggap “tidak ada”, telah tumbuh dari tujuh persen populasi pada tahun 1970 menjadi lebih dari 25 persen saat ini. Data juga menunjukkan bahwa 35 persen dari kalangan milenial mengatakan mereka tidak berafiliasi dengan agama tertentu.

Mereka adalah bagian dari kelompok beragam yang mengubah gagasan tentang apa artinya menjadi nonreligius.

Sebagai sosiolog agama, kami telah mempelajari transisi ini dan implikasinya. Sebuah studi yang bekerja sama dengan rekan-rekan di University of Minnesota menunjukkan bahwa, sementara orang Amerika menjadi lebih nyaman dengan bentuk-bentuk spiritualitas alternatif, mereka kurang nyaman dengan apa yang sepenuhnya mereka lihat sekuler.

Kami berpendapat bahwa pemilihan Epstein mewakili pergeseran yang menunjukkan peningkatan visibilitas dan penerimaan publik kepada orang Amerika yang tidak beragama. Pada saat yang sama, keributan di sekitar posisinya menunjukkan kegelisahan moral banyak orang Amerika tentang atheisme.

Epstein tampaknya memahami dilema budaya ini dan menekankan komitmennya pada keadilan sosial dan humanisme, sebuah filosofi yang menolak kepercayaan supernatural dan berupaya mempromosikan kebaikan ‘yang lebih besar’. Dengan melakukan itu, ia menjadi juru bicara untuk sesuatu yang baru dalam konteks Amerika: sebuah atheisme yang secara eksplisit menekankan sisi moralitasnya.

Bergabung di barisan

Atheisme telah lama menimbulkan perselisihan di Amerika Serikat, seperti saat zaman kolonial. Namun,”Zaman Keemasan” pemikiran bebas pada akhir abad ke-19 memunculkan ekspresi skeptisisme publik pertama yang tersebar luas terhadap agama. Pengacara dan orator publik Robert Ingersoll menarik kemarahan para pemimpin agama saat dia memberi kuliah tentang agnostisisme di aula publik yang tiketnya terjual habis di seluruh negeri.

Pada 1920-an, fenomena “Pengadilan Monyet (Monkey Trial)” atas pengajaran teori evolusi Darwin di sekolah umum memperlihatkan hingarnya perebutan otoritas agama dalam hukum dan institusi Amerika. Sementara itu, kaum skeptis kulit hitam terhadap agama, yang sering diabaikan oleh para sarjana, memengaruhi seniman seperti Zora Neal Hurston dan, kemudian, James Baldwin.

Banyak orang Amerika mengenal Madalyn Murray O’Hair, yang berhasil menentang keharusan berdoa secara Kristen dan pembacaan Alkitab di sekolah umum pada 1960-an dan mendirikan organisasi yang kini menjadi American Atheists.

Baru-baru ini, semakin banyak organisasi atheis dan humanis di AS telah mempromosikan pemisahan gereja dan negara, memerangi diskriminasi, mendukung kebijakan pro-sains dan mendorong tokoh masyarakat untuk menyatakan diri sebagai atheis.

Atheis kulit hitam, yang tidak selalu merasa diterima di organisasi yang dipimpin kulit putih, telah membentuk organisasi mereka sendiri, sering kali berpusat pada keadilan sosial.

No God, no trust?

Terlepas dari peningkatan organisasi dan visibilitas ini, sebagian besar orang Amerika tidak mempercayai seorang atheis bisa menjadi tetangga dan warga negara yang baik. Sebuah survei nasional pada tahun 2014 menemukan bahwa 42 persen orang Amerika mengatakan atheis tidak memiliki “visi masyarakat Amerika” yang sama dengan umum, dan 44 persen tidak ingin anak mereka menikah dengan seorang ateis. Persentase tersebut hampir tidak berubah dalam tindak lanjut 2019.

Sikap-sikap ini mempengaruhi orang-orang muda seperti mereka yang dilayani Epstein. Sepertiga atheis di bawah usia 25 tahun melaporkan mengalami diskriminasi di sekolah, dan lebih dari 40 persen mengatakan mereka terkadang menyembunyikan identitas nonreligius mereka karena takut akan stigma.

Sebagai pendeta, tugas Epstein adalah memberikan bimbingan spiritual dan moral kepada mahasiswa, dengan fokus khusus pada mereka yang tidak mengidentifikasi dengan tradisi agama. Dia sendiri mengidentifikasi sebagai seorang atheis, tetapi juga sebagai seorang humanis.

Di masyarakat AS, humanisme semakin diterima sebagai sistem kepercayaan yang positif dan bermoral, yang sebagian orang bereaksi lebih baik daripada atheisme, yang dianggap sebagai penolakan terhadap agama. Dan beberapa kampus perguruan tinggi Amerika sekarang memiliki para pendeta humanisme.

Tapi atheisme tetap lebih kontroversial di Amerika Serikat, dan pendeta atheis lebih sulit dijual. Upaya memasukkan pendeta atheis ke dalam militer, misalnya, hingga kini belum berhasil.

Pergeseran nada

Epstein, seorang advokat vokal untuk humanisme, tampaknya menentang kekhawatiran moral orang Amerika yang terus-menerus tentang atheisme yang diidentifikasi dalam penelitian dari University of Minnesota.

Bukunya secara terbuka menantang pandangan-pandangan tersebut dengan menyatakan bahwa atheisme adalah identitas yang secara moral menopang orang-orang di seluruh dunia. Dia berbicara panjang lebar tentang bagaimana humanisme dapat memotivasi kepedulian terhadap keadilan rasial dan telah menyerukan para pemimpin politik di kiri untuk merangkul nonreligius sebagai konstituen yang penting.

Ini menandai pendekatan yang berbeda dari atheis profil tinggi yang lebih militan, khususnya gerakan Brights dan yang disebut intelektual Atheis Baru seperti Richard Dawkins atau Christopher Hitchens. Epstein tidak memposisikan dirinya “melawan agama” tetapi berusaha bekerja sama dengan para pemimpin agama dalam hal-hal yang menjadi perhatian moral bersama.

Terlalu dini untuk mengatakan apakah strategi Epstein yang menghubungkan atheisme dengan humanisme, keadilan, dan moralitas akan berhasil mengubah sikap terhadap ateis. Namun, hal itu kemungkinan akan membuatnya tetap ‘hadir’ di mata publik, sebuah simbol transisi dalam cara orang Amerika berhubungan dengan agama yang terorganisasi. [The Conversation]

*Ilustrasi dari The New Yorker yang mengangkat tema ini pada 2018

**Penny Edgell, Profesor Sosiologi, Universitas Minnesota, menerima dana dari The National Science Foundation dan Edelstein Family Foundation.

Wendy Cadge, professor sosiologi, menerima dana dari Henry Luce Foundation dan Templeton Religion Trust.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close