SolilokuiVeritas

Menghadapi Cobaan dengan Etika Masa Depan

Menghadapi cobaan ini kita mesti memperbarui pikiran kita. Salah satu caranya adalah: memproduksi etika masa depan. Kita melakukan revitalisasi terhadap kontrak sosial yang sudah kita sepakati sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kita laksanakan kontrak sosial itu secara lebih manusiawi. Persisnya, meminjam pendapat Daoed Joesoef (2006), kita jadikan kontrak itu berdimensi kultural, berdimensi solidaritas dan berdimensi antarorang.

Oleh     :  Prof. Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Hidup Indonesia naik-turun. Lihatlah, Indonesia pernah disegani oleh semua negara ASEAN. Indonesia dipandang sebagai kekuatan utama di ASEAN. Apa penyebabnya?

Antara lain, Indonesia punya ketahanan ekonomi yang kuat. Indonesia juga pernah mencapai swasembada pangan. Lalu bagaimana kini?

Di mata negara-negara ASEAN, Indonesia tidak sehebat dulu lagi. Beberapa negara ASEAN merasa reputasi Indoesia sudah tidak seperti dulu. Wajar bila Presiden Prabowo unjuk gigi terhadap negara-negara ASEAN. “TNI mengerahkan lima jet tempur F-16, tiga kapal perang, dan sejumlah alutsista lain di Sulawesi Utara untuk mendukung pengamanan KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina” (IDN Times, 8 mei 2026).

Apakah semua negara ASEAN terkesan dengan tindakan Prabowo di atas? Entahlah! Yang jelas Presiden Prabowo mendapat sambutan hangat di KTT ASEAN tersebut. Semua negara ASEAN akan memperhatikan bagaimana Indonesia menghadapi cobaan yang menimpa Indonesia.

Sedikitnya terdapat dua cobaan besar yang menimpa Indonesia saat ini. Pertama, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang cenderung naik. Per 29 Mei 2026, 1 dolar AS setara dengan Rp. 17.865. Ini membawa konsekuensi kenaikan harga barang konsumsi impor. Daya beli masyarakat terhadap barang konsumsi impor otomatis turun. Padahal barang-barang konsumsi impor itu sangat dibutuhkan, seperti kedele, gandum, beras, bawang putih, alat-alat elektronik, dan sebagainya.

Kalau penurunan daya beli masyarakat terjadi terus-menerus, kondisi makro ekonomi Indonesia akan terganggu. Omzet bisnis, terutama ritel dan UMKM, akan turun. Kredit macet tidak bisa dihindari. Kualitas gizi masyarakat bisa turun juga. Kalau ini terjadi berkesinambungan dalam waktu yang lama,   pelambatan ekonomi yang meluas segera datang. Terjadilah resesi

Semua negara berusaha menghindari resesi. Soalnya, resesi mengangkut akibat yang mengerikan: (i) pengangguran meningkat, (ii) angka kemiskinan naik, dan (iii) pendapatan menurun. Ini akan menganggu kehidupan orang banyak. Masyarakat pun mudah stress, cemas dan depresi.

Kedua, sumber daya alam kita yang makin rusak. Ini terjadi bukan karena keserakahan masyarakat setempat. Namun, karena: (i) ulah pendatang yang mengeksploitasi hutan dan alih fungsi lahan yang berlebihan, (ii)  penggundulan hutan yang masif, (iii) penambangan yang tidak terkontrol, dan (iv) pencemaran limbah industri yang akut. Lalu lahir konsekuensi logisnya: terjadilah perubahan iklim, penuruanan keanekaragaman hayati dan penuruan daya tahan kesehatan masyarakat. Soal ini diceritakan dengan sangat bagus oleh David Wallace-Wells dalam buku berjudul “Bumi Yang Tak Dapat Dihuni”.

Ya,  lama-lama bumi tidak bisa lagi dihuni oleh manusia. Bumi tidak ramah lagi buat manusia. Memang, buku di atas ditambahi sub judul: Kisah Tentang Masa Depan. Konteks buku ini adalah masa depan. Kalau kerusakan alam terjadi terus-menerus tanpa usaha perbaikan yang berarti, manusia tidak bisa lagi hidup di bumi. 

Jangankan di masa depan, sekarang saja sudah ada masyarakat Indonesia yang sudah tidak bisa lagi menghuni tanahnya dengan nyaman.  Orang asli Papua (OAP) di Papua Selatan sudah tidak lagi nyaman tinggal di kampungnya sendiri. Ini dikisahkan dengan bagus oleh film “Pesta Babi”. Film itu menceritakan masyarakat adat Papua Selatan kehilangan ruang hidup akibat proyek perkebunan dan pembangunan berskala besar. Persisnya masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi harus kehilangan tanah adat demi memenuhi ambisi pengusaha membangun proyek pangan dan industri. Mereka kehilangan tempat tinggal, mencari makan dan mengembangkan budayanya.  Wajar kalau judul film itu ditambahi dengan frasa: “Kolonialisme di Zaman Kita”

Penjelasan di atas sesungguhnya menunjukkan kita sudah ada dalam krisis.  Krisis ini bisa berkembang menjadi krisis multidimensi. Kalau ini dibiarkan terjadi tanpa pencegahan yang serius, masyarakat bisa mengamuk.

Berbarengan dengan itu, sesungguhnya kita sedang menghadapi cobaan yang serius. Dalam menghadapi cobaan ini kita mesti memperbarui pikiran kita. Salah satu caranya adalah: memproduksi etika masa depan. Kita melakukan revitalisasi terhadap kontrak sosial yang sudah kita sepakati sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kita laksanakan kontrak sosial itu secara lebih manusiawi. Persisnya, meminjam pendapat Daoed Joesoef (2006), kita jadikan kontrak itu berdimensi kultural, berdimensi solidaritas dan berdimensi antarorang. Pelaksanaan inilah yang tergolong mematuhi etika masa depan. Tegasnya, mematuhi etika sekarang yang akan membentuk masa depan yang lebih baik buat kehidupan manusia.

Kalau usaha ini berhasil, tentu negara-negara ASEAN akan angkat topi kepada Indonesia. Mereka akan kembali segan pada Indonesia. Presiden Prabowo pun bisa meneruskan kiprahnya menjadikan Indonesia sebagai macan Asia.[]

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Back to top button