POTPOURRIVeritas

[Cerita Pendek] Perempuan yang Menyimpan Hujan di Matanya

Aku pertama kali memperhatikannya bukan karena wajahnya cantik—meski memang ada ketenangan yang aneh di sana—melainkan karena matanya. Matanya seperti habis hujan. Bukan hujan yang deras dan gaduh, tapi hujan yang turun diam-diam di malam hari, tanpa petir, tanpa angin. Hujan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Oleh     :  Mustiar Ar

JERNIH– Pagi itu tidak benar-benar cerah. Matahari hanya menggantung malas di langit, seolah ragu untuk sepenuhnya hadir. Jalanan masih setengah basah oleh hujan semalam—atau mungkin oleh sesuatu yang lebih lama dari sekadar air yang jatuh dari langit.

Di sudut sebuah kedai kecil, yang cat dindingnya mulai mengelupas dan aromanya selalu setia pada kopi murah, seorang perempuan duduk sendiri. Namanya Raina.

Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang jarang bicara, tapi selalu terlihat seperti menyimpan sesuatu. Bukan rahasia yang menggebu, melainkan sesuatu yang diam—terlalu diam hingga terasa berat.

***

Aku pertama kali memperhatikannya bukan karena wajahnya cantik—meski memang ada ketenangan yang aneh di sana—melainkan karena matanya. Matanya seperti habis hujan. Bukan hujan yang deras dan gaduh, tapi hujan yang turun diam-diam di malam hari, tanpa petir, tanpa angin. Hujan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Dan sejak hari itu, aku tahu: perempuan ini tidak sedang hidup biasa-biasa saja.

Raina selalu datang di jam yang sama. Memesan secangkir kopi hitam dan sepotong kue kering yang sering kali tidak disentuhnya sampai habis. Ia duduk di kursi paling ujung, dekat jendela yang menghadap jalan.

Ia tidak banyak bergerak. Hanya sesekali menatap keluar, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar datang.

Aku, yang juga sering duduk di kedai itu, mulai merasa seperti membaca buku yang halamannya tidak pernah dibuka, tapi entah kenapa tetap ingin dipahami.

Suatu hari, aku memberanikan diri duduk di hadapannya.

“Boleh?” tanyaku.

Ia menatapku sebentar. Tidak terkejut. Tidak juga menolak.

“Kalau kamu tidak berisik,” jawabnya pelan.

Aku tersenyum. “Aku lebih sering diam.”

“Bagus,” katanya. “Orang yang terlalu banyak bicara biasanya tidak benar-benar punya apa-apa.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa emosi. Tapi anehnya, terasa seperti menyentuh sesuatu di dalam dada.

Sejak hari itu, kami mulai berbagi meja. Bukan berbagi cerita. Setidaknya, belum.

Butuh waktu berminggu-minggu sampai Raina akhirnya bercerita. Itu pun bukan karena aku bertanya.

Melainkan karena hujan.

Sore itu hujan turun tiba-tiba. Deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, dan kedai kecil itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Suara percakapan bercampur dengan denting cangkir dan aroma kopi yang semakin pekat.

Raina tetap duduk di tempatnya. Menatap hujan.

Lama.

Terlalu lama.

“Aku tidak suka hujan,” kataku, mencoba membuka percakapan.

Ia tersenyum tipis. “Aku justru menyimpannya.”

Aku menoleh. “Menyimpan?”

“Di sini,” katanya, menunjuk matanya. “Supaya tidak tumpah di tempat yang salah.”

***

Aku tidak langsung mengerti. Tapi aku juga tidak memaksa untuk mengerti.

Ia menarik napas panjang.

“Aku pernah mencintai seseorang,” katanya akhirnya. “Dengan cara yang terlalu utuh.”

Aku diam.

“Dan seperti semua hal yang terlalu utuh,” lanjutnya, “ia pecah dengan cara yang paling menyakitkan.”

Hujan di luar semakin deras. Seolah ikut mendengarkan.

Namanya tidak pernah disebutkan.

Raina hanya menyebutnya sebagai “dia”.

“Dia orang baik,” katanya. “Setidaknya, aku dulu percaya begitu.”

Mereka bertemu di tempat yang sederhana. Tidak ada cerita dramatis. Tidak ada takdir yang berisik. Hanya dua orang yang saling menemukan, lalu merasa cukup.

“Itu yang paling berbahaya,” katanya pelan. “Ketika seseorang membuatmu merasa cukup, kamu berhenti bersiap untuk kehilangan.”

Aku menunduk. Kalimat itu seperti menggores pelan, tapi dalam.

“Dia pergi?” tanyaku hati-hati.

Raina tersenyum. Kali ini lebih getir.

“Tidak. Itu masalahnya.”

Aku mengernyit.

“Ia tetap ada. Hanya saja… tidak lagi untukku.”

Ternyata, kehilangan tidak selalu tentang perpisahan.

Kadang, seseorang tetap ada di dunia yang sama, bernapas di udara yang sama, tapi tidak lagi menjadi bagian dari hidupmu.

Dan itu jauh lebih sunyi.

“Dia memilih yang lain,” kata Raina. “Bukan karena aku kurang. Tapi karena hidup tidak pernah benar-benar adil.”

Ia tidak menangis saat bercerita.

Itu yang membuatku semakin tidak nyaman.

“Sejak itu,” lanjutnya, “aku belajar satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa mencintai seseorang tidak menjamin kamu akan dipilih.”

Hujan mulai mereda. Tapi suasana di antara kami tetap berat.

Hari-hari setelah itu berubah.

Raina mulai lebih banyak bicara. Tapi bukan tentang hal-hal ringan. Ia berbicara seperti seseorang yang sudah terlalu lama diam, hingga setiap kata yang keluar terasa seperti bagian dari luka yang dibuka perlahan.

***

“Aku tidak membencinya,” katanya suatu hari. “Aku hanya… lelah mengingatnya.”

“Kenapa tidak mencoba melupakan?” tanyaku.

Ia tersenyum kecil. “Kalau melupakan itu semudah itu, tidak akan ada orang yang menyimpan hujan di matanya.”

Aku tidak bisa membantah.

Waktu berjalan.

Musim berganti, meski di kota ini perubahannya hampir tak terasa. Kedai itu tetap sama. Kopi tetap pahit. Dan Raina… tetap datang.

Tapi ada sesuatu yang perlahan berubah.

Ia mulai tersenyum lebih sering. Meski tipis, tapi nyata.

Ia mulai menghabiskan kue keringnya.

Ia mulai tidak terlalu lama menatap jendela.

Seperti seseorang yang pelan-pelan belajar kembali hidup.

Sampai suatu hari, ia tidak datang.

Hari pertama, aku pikir ia hanya terlambat.

Hari kedua, aku mulai merasa ada yang hilang.

Hari ketiga, kursi itu terasa terlalu kosong.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bagaimana rasanya menunggu seseorang yang mungkin tidak akan kembali.

Seminggu kemudian, aku menemukan sesuatu.

Sebuah amplop kecil, ditinggalkan di meja tempat kami biasa duduk. Namaku tertulis di sana.

Tanganku sedikit gemetar saat membukanya.

***

Di dalamnya, hanya ada satu lembar kertas. Tulisan tangan Raina.

“Jika kamu membaca ini, berarti aku sudah pergi.

Aku tidak pandai mengucapkan selamat tinggal. Jadi aku memilih diam, seperti biasa.

Kamu pernah bertanya kenapa aku menyimpan hujan di mataku.

Sekarang aku ingin memberitahumu jawabannya.

Karena jika aku membiarkannya jatuh, aku takut tidak akan bisa berhenti.

Tapi aku mulai lelah menahannya.

Jadi kali ini, aku ingin membiarkan hujan itu pergi.

Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diriku sendiri.

Terima kasih sudah duduk di hadapanku, tanpa banyak bertanya, tanpa mencoba memperbaiki apa yang memang tidak bisa diperbaiki.

Tidak semua orang tahu caranya menemani tanpa menyentuh luka. Kamu salah satu dari sedikit itu.

Jaga dirimu. Dan kalau suatu hari kamu melihat seseorang dengan mata seperti habis hujan… Jangan tanya apa yang terjadi. Cukup duduk di sampingnya. Itu sudah lebih dari cukup.”

— Raina.

Aku melipat kembali kertas itu perlahan.

Di luar, langit mendung.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, aku merasa hujan bukan lagi sesuatu yang harus dihindari.

Melainkan sesuatu yang perlu dilepaskan.

Sejak hari itu, kursi di ujung kedai tetap kosong.

Tapi tidak lagi terasa hampa.

Karena di sana, pernah ada seorang perempuan yang mengajarkan bahwa luka tidak selalu harus disembuhkan. Kadang, cukup dipahami. Dan sesekali… Dibiarkan turun sebagai hujan. []

Meulaboh Aceh,April  1987

Back to top button