PersonaVeritas

Ahmad Zaki Ali dan Warisan Api “Gerak Bareng”

Ia menolak membiarkan kepedulian berhenti di meja wacana. Di balik retaknya tanah Flores hingga dinginnya saluran air Sukabumi, Ahmad Zaki Ali meretas sekat birokrasi demi menjadi jemari yang merangkul korban bencana.

WWW.JERNIH.CO Tidak semua orang memilih berada di tempat ketika keadaan sedang paling sulit. Ahmad Zaki Ali atau banyak kolega menyapanya dengan Bank Jek, adalah salah satunya yang memilih datang. Ketika gempa mengguncang Flores dan ribuan warga membutuhkan bantuan, ia berada di antara mereka—mengurus logistik, mendatangi pengungsian, dan memastikan bantuan menjangkau wilayah yang membutuhkan. Hingga akhirnya, pada 21 Agustus 2026, pengabdian itu menjadi tugas terakhir dalam hidupnya.

Bagi banyak orang yang pernah berjalan bersamanya, ia adalah sosok yang memilih hadir ketika banyak orang memilih menjauh dari wilayah bencana. Ia datang membawa logistik, tenaga, jejaring relawan, dan terutama kesediaan untuk bekerja langsung bersama masyarakat yang sedang berada dalam situasi paling sulit.

Zaki berusia 42 tahun. Ia dikenal sebagai pendiri Yayasan Gerak Bareng, wadah yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk bergerak dalam aksi kemanusiaan dan sosial. Rekam jejaknya tidak hanya berkutat pada penyaluran bantuan, tetapi juga pendampingan masyarakat dan berbagai aksi sosial di sejumlah wilayah Indonesia.

Bagi Zaki, kerja kemanusiaan bukan pekerjaan yang selesai ketika bantuan tiba di sebuah posko. Ia dikenal sebagai sosok yang turun langsung, menyusuri wilayah terdampak dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

Jejak itu kembali terlihat ketika gempa bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan catatan BMKG, gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA, dengan pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores dan berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores.

Dalam situasi itu, Zaki bersama rekan-rekan relawan Gerak Bareng bergerak ke NTT. Mereka mendirikan posko dan mendistribusikan kebutuhan dasar kepada masyarakat terdampak. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian mereka berada di sekitar Reo hingga kawasan Manggarai Timur.

Ia bahkan disebut telah berada di wilayah Reo sejak Sabtu, 15 Agustus, hanya sehari setelah gempa terjadi. Dari sana, aktivitas kemanusiaan terus dilakukan untuk menjangkau warga yang membutuhkan bantuan di tengah medan yang tidak mudah.

BACA JUGA: Tak Sampai 24 Jam NTT Diguncang 108 Kali Gempa

Dedikasi Zaki terhadap kerja kemanusiaan sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum tragedi di Flores. Melalui Gerak Bareng, ia membangun jejaring dengan relawan dari berbagai daerah dan terlibat dalam beragam respons sosial maupun kebencanaan.

Salah satu rekam jejak yang menonjol adalah keterlibatannya dalam penanganan pascabencana di Sukabumi pada 2025. Dalam aksi tersebut, ia menginisiasi pembangunan saluran pipanisasi darurat sepanjang sekitar 3,5 kilometer untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak.

Kiprahnya juga merambah persoalan sosial yang lebih luas. Ia dikenal pernah terlibat dalam pendampingan masyarakat terdampak bencana dan konflik, penanganan kebutuhan pangan, hingga berbagai aksi sosial untuk masyarakat yang berada dalam kondisi rentan. Republika juga mencatat Zaki sebagai salah satu sosok di balik komunitas Punk Muslim serta berbagai aktivitas pendampingan sosial yang dilakukannya.

Karena itu, Gerak Bareng bagi Zaki tampaknya bukan sekadar nama sebuah organisasi. Ia menjadikannya sebagai gagasan: bahwa persoalan masyarakat dapat dihadapi dengan mempertemukan orang-orang yang bersedia bergerak bersama.

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, Zaki kembali bergerak dari posko relawan Gerak Bareng di halaman Masjid Nurul Huda, Reo. Sekitar pukul 14.00 WITA, ia bersama tiga rekannya berangkat menggunakan mobil menuju Satar Padut untuk mendistribusikan bantuan. Tujuannya adalah menjangkau warga di wilayah Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Ketika berangkat Zaki masih terlihat dalam kondisi baik. Namun, dalam perjalanan menjalankan tugas kemanusiaan tersebut, kondisinya kemudian menurun. Ia meninggal dunia sekitar pukul 16.40 WITA di wilayah Desa Satar Padut.

Jenazah Zaki dievakuasi menggunakan helikopter Basarnas dari wilayah terdampak menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo, sebelum dipulangkan ke Jakarta.

Kabar tersebut segera menyebar dan mengundang duka dari berbagai kalangan. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turut menyampaikan belasungkawa. Ia mengenang Zaki sebagai sosok yang gigih keluar-masuk kampung dan desa untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat terdampak.(*)

BACA JUGA: Nusa Tenggara Timur, Negeri Indah Rawan Gempa

Back to top button