POTPOURRI

Mengantar 112 Jiwa Syuhada Sabra Menjemput Cahaya

Setelah sekian lama terperangkap di bawah bisunya puing beton, 112 jiwa—di antaranya anak-anak, ibu-ibu, dan penyandang disabilitas—akhirnya dijemput dari kegelapan menuju peraduan terakhir yang bermartabat.

WWW.JERNIH.CO –  Angin berhembus membawa aroma debu dan kepedihan yang teramat sangat di atas langit Kota Gaza. Di bawah langit yang muram, langkah-langkah kaki melangkah perlahan dalam keheningan yang mencekam, mengiringi sebuah prosesi yang meremukkan dada.

Setelah sekian lama waktu seolah membeku di bawah puing-puing bisu, 112 jiwa akhirnya dijemput dari kegelapan tempat mereka terperangkap, mengakhiri penantian panjang nan menyayat hati dari keluarga yang terus bertahan dalam duka.

Suasana duka yang pekat menyelimuti Kota Gaza ketika ribuan warga berkumpul untuk melangsungkan salah satu prosesi pemakaman massal terbesar dan paling memilukan dalam sejarah wilayah tersebut. Sebanyak 112 jenazah warga Palestina dari keluarga besar Abu Sharia dan Al-Hasayna akhirnya berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan dan dimakamkan secara layak di Pemakaman Al-Maamadani, lingkungan Al-Zaytoun.

Para korban tewas akibat serangan udara zionis Israel yang menghancurkan blok permukiman mereka di lingkungan Sabra, Gaza Selatan. Selama bertahun-tahun, jasad-jasad tersebut tertimbun di bawah puing-puing beton dan besi yang hancur. Jalur evakuasi yang tertutup serta blokade peralatan berat membuat tim penyelamat baru dapat menjangkau lokasi setelah melakukan penggalian intensif selama 136 jam.

Di antara 112 jenazah yang berhasil dievakuasi, takdir menyisakan potret kemanusiaan yang teramat kelam: 40 hingga 44 korban adalah anak-anak yang usianya belum menginjak 16 tahun, 37 hingga 43 orang merupakan perempuan, serta 7 hingga 10 jiwa adalah penyandang disabilitas yang tak berkutik saat tragedi menghantam. Selebihnya adalah para pria dewasa dan lansia yang gugur bersama hangatnya dekapan keluarga.

Upaya pencarian para korban menjadi cerminan perjuangan yang menguras emosi dan stamina hingga titik nadir. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengungkapkan bahwa para petugas dan relawan terpaksa menggali sebagian besar reruntuhan hanya menggunakan peralatan seadanya—bahkan jemari tangan yang berdarah-darah—akibat tiadanya alat berat dan bahan bakar yang diizinkan melintas.

Banyak jenazah yang ditemukan telah mengalami dekomposisi parah. Identifikasi korban sering kali hanya bergantung pada sisa-sisa pakaian atau barang pribadi yang masih melekat, seperti perhiasan emas yang dikenakan oleh para wanita. Dari total perkiraan 308 anggota keluarga yang menjadi korban dalam serangan tunggal di lingkungan Sabra tersebut, setidaknya 150 orang lainnya diperkirakan masih belum ditemukan dan masih tertimbun reruntuhan.

Dalam prosesi pemakaman, deretan kantong jenazah yang dibalut bendera Palestina dibariskan di lokasi bekas permukiman mereka yang kini rata dengan tanah. Isak tangis pecah ketika sanak keluarga yang selamat mengusap kantong-kantong jenazah sebelum dishalatkan secara massal. Banyak di antara korban adalah anak-anak yang belum sempat mengecap masa depan, ibu-ibu, serta para penyandang disabilitas yang tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri saat serangan terjadi.(*)

BACA JUGA: Israel Bom Gudang Obat RS Syuhada Al-Aqsa di Gaza, Korban Tewas Pasca-Janji Damai Tembus 1.220 Orang

Back to top button