Crispy

Melawan Arus Trump, Politisi Muslim AS yang Bertarung di Pemilu Sela 2026 Catatkan Rekor

Meskipun isu Gaza dan kebijakan luar negeri tetap menjadi motor penggerak, para kandidat Muslim kini juga sangat vokal menyuarakan isu-isu domestik yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga Amerika.

JERNIH – Peta politik Amerika Serikat dalam Pemilu Sela (Midterms) 2026 menunjukkan perubahan signifikan. Jumlah warga Muslim yang mencalonkan diri untuk jabatan politik di tingkat federal, negara bagian, hingga lokal melonjak drastis dibandingkan satu dekade lalu.

Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan terhadap komunitas Muslim di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, mulai dari pengetatan aturan imigrasi, pembatasan kebebasan berpendapat, hingga eskalasi konflik di Timur Tengah.

Meskipun isu Gaza dan kebijakan luar negeri tetap menjadi motor penggerak, para kandidat Muslim kini juga sangat vokal menyuarakan isu-isu domestik yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga Amerika.

“Ada asumsi bahwa komunitas Muslim hanya peduli pada kebijakan luar negeri. Padahal, mereka juga peduli pada isu ‘meja makan’ (kitchen table issues). Mereka harus membayar biaya kesehatan dan tidak ingin hidup dari gaji ke gaji,” ujar CEO Emgage Action, lembaga advokasi pemilih Muslim.

Beberapa nama besar diprediksi akan mencetak sejarah baru dalam Pemilu Sela tahun ini:

  • Abdul El-Sayed (Michigan): Dokter dan akademisi keturunan Mesir ini mencalonkan diri untuk Senat AS. Didukung oleh tokoh progresif Bernie Sanders, El-Sayed mengusung program utama Medicare for All (Layanan Kesehatan untuk Semua). Saat ini, ia memimpin di berbagai jajak pendapat primer Partai Demokrat.
  • Adam Hamawy (New Jersey): Seorang dokter bedah yang pernah menjalankan misi medis di Gaza. Ia berhasil mengumpulkan dana kampanye dari akar rumput melampaui pesaing-pesaingnya di New Jersey.
  • Aisha Wahab (California): Senator Negara Bagian putri imigran Afghanistan ini mencalonkan diri untuk Kongres AS di California Utara, menggantikan posisi Eric Swalwell yang mengundurkan diri. Ia telah mengantongi ratusan dukungan dari organisasi sipil.

Di tingkat nasional, nama-nama petahana seperti Ilhan Omar (Minnesota), Rashida Tlaib (Michigan), dan Andre Carson (Indiana) kembali mencalonkan diri. Keberhasilan mereka selama ini dianggap telah membuka jalan bagi generasi politisi Muslim berikutnya untuk berani tampil.

Namun, perjalanan menuju kursi kekuasaan tidaklah mulus. Iklim politik yang keras di bawah kepemimpinan Trump membuat beberapa politisi Muslim merasa terancam.

Di Maine, Deqa Dhalac, walikota keturunan Somalia pertama di AS, mengumumkan tidak akan mencalonkan diri kembali. Ia mengungkapkan bahwa rasisme yang terus-menerus, pelecehan, dan ancaman keamanan menjadi alasan utama dirinya mundur dari panggung politik.

Back to top button