
Dasar dari hospitalitas adalah karena melihat pribadi Allah yang tersembunyi dalam diri orang lain. Prinsip ini berkaitan erat dengan citra manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Dengan memperlakukan seseorang, melayani dia, berinteraksi dengan dia, kita berharap dan percaya bahwa kita sedang melakukan hal baik untuk Tuhan sendiri.
Penulis: by P. Kimy Ndelo CSsR;
JERNIH-Entah kenapa di luar negeri menggunakan istilah “Hospital” untuk apa yang kita sebut “Rumah Sakit”. Mungkin pikiran pertama berangkat dari semangat dasar kerahaman dan keterbukaan. Mereka yang sakit disambut dengan ramah dan sikap hati terbuka untuk mendengarkan keluhan pasien dan melayani sebaik mungkin.

Bagi kita mungkin “hospital” sekedar rumah untuk orang yang sakit, baik pasien dan kadang mungkin tenaga medisnya juga. Pasien sekedar obyek yang harus diperlakukan semaunya tenaga medis, kadang tanpa keramahan dan ketulusan untuk menolong dan melayani. Tenaga medis bekerja di rumah sakit karena dibayar, bukan karena mencintai pekerjaan dan pasien yang dihadapi. Tapi ini sekedar kemungkinan; bisa benar bisa salah. Kalau pun benar pasti tidak berlaku untuk semua.
**
Injil hari ini mengajarkan kaidah menjadi murid Tuhan dengan cara menempatkan Tuhan di atas segala-galanya (Mat 10,34-42). Semangat ini berangkat dari kesadaran akan kelahiran dan hidup baru dalam keluarga anak-anak Allah. Mereka yang sudah dibaptis berarti dilahirkan kembali secara baru dan secara rohani. Dengan prinsip ini maka segala bentuk ikatan lain menjadi relatif; artinya kalau harus memilih Yesus atau keluarga, maka Yesus harus menjadi yang pertama.
Keluarga baru ini harus dibangun dalam semangat hosptalitas. Jiwa dan karakter yang menghidupi keluarga baru, para pengikut Yesus, adalah jiwa keramahan, kelemah-lembutan, kehangatan dan keterbukaan.
Dasar dari hospitalitas adalah karena melihat pribadi Allah yang tersembunyi dalam diri orang lain. Prinsip ini berkaitan erat dengan citra manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Dengan memperlakukan seseorang, melayani dia, berinteraksi dengan dia, kita berharap dan percaya bahwa kita sedang melakukan hal baik untuk Tuhan sendiri.
Hospitalitas tidak selalu berarti memberikan barang atau hal besar. Di tengah ketidakpedulian hidup modern, satu senyuman atau sapaan ramah sudah bagaikan oase di padang gurun, sejuk dan menenangkan.
Hospitalitas bisa juga berarti membuka diri untuk menolong siapa yang membutuhkan, walau hanya sekedar menemani dalam kesendirian.
Seseorang bisa menjadi benar-benar kristiani jika menjadi pribadi yang selalu siap memberikan dirinya sendiri. Pemberian diri bisa terwujud dalam cara kita memandang orang lain, dalam cara kita berpikir tentang mereka, dalam cara kita berbicara dengan dan tentang mereka.
Sikap-sikap macam ini membantu dan memudahkan kita mengampuni orang lain, mendukung mereka, mengangkat mereka, menunjukkan respek kepada mereka, menghibur mereka dan menawarkan bantuan kepada mereka.
“Hospitalitas berarti pertama-tama menciptakan ruang dimana orang asing dapat masuk dan menjadi teman ketimbang musuh. Hospitalitas bukan untuk mengubah orang tetapi menawarkan ruang kepada mereka dimana perubahan dapat terjadi. Hospitalitas bukan untuk membawa orang, pria dan wanita, berada di pihak kita, melainkan untuk menawarkan kebebasan yang tidak diganggu oleh garis pemisah”. (Henry J. M. Nouwen)
Sikap ini, jika dihidupi secara sungguh-sungguh akan menjadi pancaran kasih Allah sendiri di dalam dunia yang lapar dan miskin akan hospitalitas.
Sudahkah kita tersenyum untuk seseorang pada hari ini?
(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis di Biara Redemptoris Iloilo, Mindanao, Filipina)






