POTPOURRISpiritus

Setetes Embun: Pelarian dan Cinta

Kita pun bisa lari dari kenyataan pahit dan berharap itu semua hanya mimpi dan ingin pergi melupakannya. Tetapi Yesus yang bangkit akan selalu datang dan memanggil kembali, menghidupkan harapan baru, karena pengalaman pahit itu hanyalah sebuah jalan yang harus dilewati, bukan dihindari

Penulis: P. Kimy Ndelo CSsR

JERNIH-Kisah dua murid yang melarikan diri dari Yerusalem menuju Emaus, adalah sebuah konflik antara kekecewaan dan putus asa di satu sisi, dari pihak para murid, dan cinta dan penguatan di sisi lain dari pihak Yesus yang bangkit.

Kedua murid melarikan diri dalam kekecewaan karena peristiwa tragis yang menimpa Guru mereka, pemberi harapan akan masa depan yang lebih baik. Kekaguman dan kebanggaan mereka akan Yesus telah hancur berkeping-keping karena penangkapan, pengadilan dan kematian tragis yang menimpa Yesus.

Seiring tercerai-berainya para murid karena ketakutan, harapan mereka juga ikut hancur berantakan, dan mereka melarikan diri kembali ke masa lalu yang penuh kepahitan dan tanpa harapan akan perubahan.

Pada awalnya mereka sangat percaya dan yakin bahwa mengikuti Yesus akan memberi warna baru dalam hidup mereka. Ajaran-ajaran Yesus penuh ketegasan akan datangnya perubahan, asalkan ditopang oleh pertobatan dan perubahan diri sendiri. Mereka telah mencoba dengan segala kemampuan mereka untuk mewujudkan hal itu. Mereka telah mencapai sebuah titik dimana mereka dengan keberanian heroik memasuki Yerusalem bersama Yesus seolah menantang kekuasaan saat itu.

Peristiwan itu lalu justru menjadi anti klimaks pahit dari semua keyakinan diri mereka dan terutama keyakinan akan Yesus. Dia ternyata amat rapuh di hadapan dua kekuatan; kekuatan agama para imam kepala dan kekuatan politis militer Pilatus dari kekaisaran Romawi. Mereka marah dan kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain melarikan diri.

Ketika mereka sudah kehilangan semua harapan dan keyakinan, Yesus tiba-tiba berjalan bersama mereka: mendengarkan keluh-kesah mereka dan mengajar mereka tentang Kitab Suci. Dan mereka semua terpana oleh pengetahuan Yesus, terutama kebenaran pewartaan tentang bagaimana sesungguhnya nasib Yesus. Mereka seperti diberi pemahaman baru bahwa jalan yang baru saja ditempuh oleh Yesus bukanlah jalan yang salah, tetapi sebuah kebenaran, syarat mutlak untuk mencapai kemenangan dan kemuliaan.

Dan titik puncak dari semua perjumpaan mereka adalah bahwa Yesus makan bersama mereka dan menegaskan sekali lagi kebersamaan dan perjumpaan itu: Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku. Dan itu adalah ekaristi yang menjadi simbol dan tanda kehadiran Yesus di tengah-tengah kita sampai detik ini.

Kisah Emaus adalah kisah yang menjadi dasar liturgi kita saat ini. Mendengarkan Sabda dan merayakan Ekaristi adalah mengulang kisah dua murid ke Emaus bersama Yesus, yang terjalin dalam nada putus asa yang mematikan dan cinta yang menghidupkan.

Kita pun bisa lari dari kenyataan pahit dan berharap itu semua hanya mimpi dan ingin pergi melupakannya. Tetapi Yesus yang bangkit akan selalu datang dan memanggil kembali, menghidupkan harapan baru, karena pengalaman pahit itu hanyalah sebuah jalan yang harus dilewati, bukan dihindari. Dan berjalan melewati jalan itu, tidak mungkin sendirian karena Yesus yang bangkit dan hidup bisa ada dimana saja dan kapan saja untuk para sahabat-Nya.

Sudah yakinkah kita bahwa Yesus akan menganggap kita sahabat yang tidak bisa ditinggalkan-Nya?

(SETETES EMBUN; by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis di Biara Redemptoris, Yoyogi, Tokyo, Jepang).

Back to top button