POTPOURRI

Trump Bawa Barisan Bos Perusaan Teknologi ke China

Dalam setiap kunjungan selalu ada misi. Kali ini Trump membawa rombongan CEO perusahaan tekno. Apa yang ingin dikejar Trump? Atau jangan-jangan Washington tengah “mengemis” ke Beijing?

WWW.JERNIH.CO –  Kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke China menyita perhatian karena kehadiran “pasukan” pengusaha kelas berat yang menyertainya dalam satu pesawat kepresidenan. Trump mendarat di Beijing dengan delegasi yang terdiri dari lebih dari selusin CEO perusahaan papan atas Amerika Serikat, yang jika ditotal, nilai kapitalisasi pasar dan kekayaan mereka mencapai angka fantastis hampir 1 triliun dolar.

Sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) secara mencolok mendominasi daftar tamu di pesawat Air Force One kali ini. Nama yang paling mencuri perhatian tentu saja adalah Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX. Sebagai salah satu pendukung kuat Trump, Musk memiliki kepentingan strategis yang sangat besar di Negeri Tirai Bambu, terutama melalui keberadaan pabrik raksasa Gigafactory miliknya di Shanghai yang menjadi motor produksi global Tesla.

Selain Musk, delegasi ini diisi oleh deretan raksasa industri semikonduktor dan perangkat keras yang menjadi tulang punggung teknologi modern. Salah satunya adalah Jensen Huang, CEO Nvidia, yang kehadirannya sempat diwarnai drama protokoler.

Nama Huang awalnya tidak tercantum dalam daftar resmi, namun ia akhirnya diundang secara langsung oleh Trump di menit-menit terakhir saat rombongan melakukan transit di Alaska, menunjukkan betapa krusialnya posisi Nvidia dalam peta persaingan teknologi AI global.

BACA JUGA: John Ternus Menuju Kursi CEO, Babak Baru Apple di Bawah Bayang-bayang Tim Cook

Tim Cook, CEO Apple, juga tampak hadir di antara rombongan elit tersebut meskipun ia tengah berada dalam masa transisi sebelum melepaskan jabatannya. Selain Cook, industri komunikasi diwakili oleh Cristiano Amon dari Qualcomm, sementara sektor memori dan penyimpanan data diwakili oleh Sanjay Mehrotra dari Micron Technology.

Kehadiran mereka menegaskan bahwa ketergantungan rantai pasok teknologi Amerika terhadap China masih menjadi isu utama yang harus dibicarakan di tingkat tertinggi.

Representasi teknologi tidak berhenti pada perangkat keras saja, karena sektor perangkat lunak dan media sosial juga turut ambil bagian. Dina Powell McCormick hadir mewakili Meta (induk Facebook dan Instagram) untuk membicarakan arah pengembangan kecerdasan buatan di masa depan.

Tak hanya itu, sektor keuangan dan manufaktur kelas berat pun tidak mau ketinggalan, dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, hingga Kelly Ortberg yang memimpin Boeing.

Tujuan utama dari dibawanya para bos teknologi ini jauh melampaui sekadar formalitas kenegaraan. Ada misi strategis yang sangat mendesak, terutama terkait negosiasi AI dan chip semikonduktor.

Nvidia dan perusahaan chip lainnya sedang berupaya keras melobi regulasi ekspor agar mereka tetap bisa memasarkan chip canggih, seperti seri H200, ke pasar China tanpa harus terbentur batasan ketat keamanan nasional Amerika Serikat yang selama ini menghambat pendapatan mereka.

BACA JUGA: NVIDIA H200 Diizinkan Dijual ke Tiongkok, AS Dapat 25% Keuntungan

Misi kedua berkaitan erat dengan akses pasar dan prinsip resiprokal atau timbal balik. Trump ingin memastikan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat mendapatkan perlakuan yang sama adilnya di China sebagaimana perusahaan China beroperasi di luar negeri.

Contoh nyatanya adalah upaya Elon Musk untuk mendapatkan persetujuan penuh teknologi Full Self-Driving (FSD) di jalanan China, serta keinginan Boeing untuk mengamankan kembali pesanan pesawat komersial dalam jumlah besar.

Di tingkat yang lebih luas, kehadiran para CEO ini berfungsi sebagai instrumen stabilisasi ekonomi. Setelah periode ketegangan perang dagang yang sempat memanas dan memicu ketidakpastian pasar global, delegasi bisnis ini berperan sebagai “jangkar”.

Mereka menjadi jaminan bahwa kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini masih memiliki keterikatan yang sangat kuat, sehingga konflik terbuka yang merugikan pasar dapat diredam melalui kerja sama komersial.

Dalam menanggapi kunjungan ini, Trump memberikan pernyataan yang sangat optimis dengan gaya komunikasinya yang khas dan meledak-ledak. Melalui unggahan di media sosial Truth Social dan pernyataan pers di Beijing, ia memuji para pemimpin bisnis yang dibawanya sebagai “orang-orang paling brilian di dunia”.

Trump secara eksplisit meminta Presiden Xi Jinping untuk membuka pintu pasar China lebih lebar lagi bagi perusahaan-perusahaan Amerika. Ia menegaskan bahwa para eksekutif ini hadir untuk mencari peluang yang saling menguntungkan dan siap “bekerja dengan keajaiban mereka” guna mendongkrak ekonomi kedua negara. (*)

BACA JUGA: Elon Musk Berencana Bangun Kota di Bulan

Back to top button