Puisi

Catatan dari Negeri yang Hukumnya Rabun

Di negeri yang konon berpagarkan hukum, rakyat berdiri terpaku bingung,

Memandangi timbangan yang bergoyang, ditegakkan tanpa kepastian dan ujung.

Lembaga-lembaga megah itu tak lagi bersatu, justru saling beradu cakar dan lidah,

Rebutan taring di panggung terbuka, menyisakan keadilan yang hancur terbelah.

Pasal-pasal diutak-atik di ruang remang, kabur sudah batas hitam dan putih,

Yang terang disulap menjadi samudra abu-abu, membuat mata rakyat kian pedih.

Lalu bermunculan para petualang hukum di tengah riuh ketidakpastian,

Menunggangi gelombang opini, menobatkan tafsirnya paling sah dan tanpa tandingan.

Jemari mereka amat lihai membolak-balikkan ayat dan pasal yang malang,

Kebenaran dipelintir sedemikian rupa, hingga yang bengkok terlihat lurus memanjang.

Ada pula petualang yang mendagangkan hukum ke gedung-gedung berkeuangan tebal,

Bertransaksi pasal agar dapat menikmati gurihnya uang rakyat tanpa rasa sesal.

Kita kini hanya menonton teater absurd di mana keadilan dilelang murahan,

Sementara rakyat kecil terdiam di tepi jalan, mengurut dada dalam kepasrahan. (*)

Check Also
Close
Back to top button