Ini Penjelasan Para Ahli terkait Hantavirus

Masyarakat tak perlu mengkhawatirkan kemungkinan terjadi kembali pandemi seperti pandemi COVID-19 beberapa waktu silam.
JERNIH-Dunia sedang disibukkan dengan penyakit Hantavirus yang disebabkan oleh tikus. Demikian juga Indonesia bersiap menghadapi penyakit ini yang penularannya berasal dari tikus, baik melalui air liur, urine, kotoran, maupun debu yang telah terkontaminasi lalu terhirup manusia.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman menyebut Yogyakarta dan DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi dengan masing-masing enam kasus. Sementara Jawa Barat melaporkan lima kasus, dan provinsi lainnya melaporkan satu kasus.
Kemenkes dalam laman resminya menjelaskan, berdasarkan penelitian, virus ini sudah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meski mungkin tidak pernah terdiagnosis.
Pakar infeksi tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dominicus Husada menegaskan, masyarakat tak perlu mengkhawatirkan kemungkinan terjadi kembali pandemi seperti pandemi COVID-19 beberapa waktu silam, sebab hantavirus jenis andes yang mewabah di kapal pesiar MV Hondius belum pernah ditemukan di Indonesia.
Dominicus memastikan, Hantavirus bukan hanya satu jenis virus. Virus ini merupakan kelompok besar yang terdiri dari puluhan varian dan tersebar di berbagai wilayah dunia, tergantung spesies tikus pembawanya.
Para peneliti, kata Dominicus, telah mengidentifikasi lebih dari 40 jenis hantavirus, namun tidak semuanya menyebabkan penyakit pada manusia.
Sementara itu, mengutip laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. (tvl)






