Solilokui

Amal Saleh yang Menyelamatkan

Berkali-kali hamba membujuknya untuk bisa menggaulinya. Ketika keadaan paceklik amat parah, ia meminta hamba uang 100 dirham untuk  pembeli makanan. Hamba menyanggupi dengan syarat, ia mau menyerahkan kehormatannya.

Oleh  :  Usep Romli H.M.

Tiga orang melakukan perjalanan lewat pegunungan. Tiba-tiba turun hujan lebat. Mereka segera berteduh dalm sebuah gua terdekat.

Namun, sebuah batu besar menggelinding dari atas. Jatuh menutup lubang gua. Mereka bertiga sekuat tenaga mendorong, agar batu itu menyingkir. Tapi sia-sia. Batu besar dan berat itu tak bergeser sedikitpun. Maka, ketiga orang terkurung rapat dalam gua.

“Cobalah kita berdo’a kepada Allah. Memohon diselamatkan dari bencana ini. Barangkali di antara kita ada yang memiliki kebaikan istimewa yang bisa memperkuat do’a kita untuk dikabulkan  Allah SWT.” Salah seorang di antara mereka mengusulkan. Semua setuju.

Mulailah yang seorang berdoa khusyuk, seraya menyebutkan kebaikan yag pernah diperbuatnya.

“Ya Allah, hamba memiliki ibu dan bapa sudah tua-renta. Setiap sore, hamba me-merah susu sapi untuk santapan mereka sebelum tidur. Mereka minum sepuasnya. Setelah itu susu tersisa baru diberikan kepada istri dan anak-anak hamba. Namun  suatu hari hamba pulang dari bepergian kemalaman. Sehingga terlambat memerah susu. Dan ketika susu dihidangkan, ibu dan bapa hamba sudah nyenyak tidur. Hamba tak tega membangunkannya. Anak-anak sudah pada  menangis menginginkan susu. Tapi tak hamba pedulikan. Ibu dan bapa hamba harus yang meminumnya terlebih dulu. Pagi-pagi, mereka bangun. Langsung susu itu hamba berikan. Mereka meminumnya dengan lahap. Baru setelah itu, sisa susu hamba berikan kepada anak-anak dan istri hamba. Ya Allah, seandainya perbuatan itu termasuk amal saleh, hamba mohon dilepaskan dari dalam gua ini.”    Batu itu bergeser sedikit.

Orang kedua giliran berdoa : “Ya Allah, hamba pernah mencintai seorang gadis. Berkali-kali hamba membujuknya untuk bisa menggaulinya. Ketika keadaan paceklik amat parah, ia meminta hamba uang 100 dirham untuk  pembeli makanan. Hamba menyanggupi dengan syarat, ia mau menyerahkan kehormatannya. Ketika segala sesuatu sudah siap, hamba dan ia sudah di atas pembaringan. Hamba sudah akan mulai melampiaskan hawa nafsu.Tiba-tiba ia menangis tersedu, dan berkata : “Demi Allah, apakah perbuatan maksiat kita tidak dilihatNya? Apakah kita akan bebas dari murkaNya?”  Hamba terhenyak. Lalu melompat dari atas tempat tidur. Mengucapkan istighfar. Hamba menyuruh gadis itu pergi dan mengikhlaskan uang 100 dirham yang telah diterimanya untuk mencegah ia dan keluarganya dari kelaparan. Ya Allah, seandainya hal itu merupakan perbuatan baik, selamatkanlah hamba dari keter-kurungan di gua ini.” Batu bergeser agak lebar. Tapi belum cukup untuk dilewati badan manusia.

Giliran orang ketiga berdoa : “Ya Allah, dulu hamba memiliki usaha peternakan. Seseorang dipekerjakan di situ, dengan mendapat upah bulanan. Pekerjaannya ba-gus. Ternak yang ia pelihara gemuk-gemuk dan sehat-sehat. Ia tak pernah meminta upah bulanannya. Hamba simpan upahnya itu dan akan diberikan jika ia memintanya. Tapi ia kemudian pergi entah ke mana. Upah haknya hamba jadikan modal untuk pembeli ternak sapi, dan domba, yang cepat berkembang-biak. Hingga jumlahnya sangat banyak, memenuhi beberapa bukit  penggembalaan. Suatu hari tiba-tiba ia datang. Menanyakan upahnya dulu. Hamba menunjuk ke bukit yang penuh sapi dan domba. “Itulah upahmu. Silakan ambil semua dengan penggembalanya sekalian”. Ya Allah, jika itu merupakan amal kebaikan kepada sesama, bebaskan hamba dan kawan-kawan dari kurungan gua ini.”

Batu bergeser. Cukup lebar untuk dilewati tiga orang. Mereka semua selamat, berkat amal saleh yang mereka kerjakan, yang mendapat ridla Allah SWT. [  ]

Dari “Riyadush Shalihin”,  Imam Yahya an Nawawi.                  

Back to top button