SolilokuiVeritas

AS dan Israel Berpotensi Mengalami Kekalahan Kolosal*

Jalan terbaik yang tersedia bagi AS dan Israel untuk menyelamatkan diri dari kekalahan kolosal adalah menghentikan perang secepatnya. Peran Pakistan adalah mencari jalan untuk menyelamatkan muka Trump. Tak usah berharap banyak dari Iran karena ia menghadapi perang eksistensial. Trump harus mengakomodasi persyaratan Iran: ganti rugi, jaminan secara tegas bahwa agresi terhadapnya tak terulang di masa depan, dan hak-hak fundamentalnya diakui. Irasionalitas dan egoisme hanya mempercepat kemerosotan AS sambil menyeret dunia ke dalam jurang kehancuran.

Oleh     :  Smith Alhadar*

Smith Alhadar

JERNIH– Bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Angkatan Udara Iran telah dilumpuhkan, pada 3 April Iran berhasil menjatuhkan beberapa jenis jet tempur dan helikopter AS dalam sehari. Ini bukan saja menunjukkan AL Iran masih operasional, tapi juga menunjukkan kapabilitas rudal pertahanan udara Iran. Pada minggu, 5 April, AS berhasil menyelamatkan seorang personel dari jet F-15E yang jatuh ditembak Iran, tapi masih ada kru pesawat lain yang jatuh belum ditemukan.

Tentu saja jatuhnya jet-jet dan helikopter AS meningkatkan deterrence Iran. Memang mudah untuk memulai perang. Tapi selalu sulit untuk mengakhirinya. Agresi yang dilakukan AS-Israel terhadap Iran, dimulai pada 28 Februari, berbasis pada asumsi dan skenario sesat bahwa perang hanya akan berlangsung tiga hari dengan hasil pergantian rezim di Iran. Nyatanya hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, perang terus bereskalasi dengan dinamika dan ramifikasi yang tak diperhitungkan sebelumnya. Kewalahan menghadapi dampak perang di dalam negeri maupun global, AS menawarkan perdamaian.

Tapi 15 syarat yang diajukannya tak lebih dari lelucon. Bagaimana mungkin Iran yang sedang di atas angin dituntut menyerah total. Intinya 15 syarat tersebut sama dengan tuntutan AS dalam perundingan dua putaran di Geneva yang ditetapkan Iran sebagai garis merah. Tak heran, Iran mengajukan proposalnya sendiri yang sulit diterima AS. Tuntutan Iran masuk akal sebagai pihak yang dizalimi, tapi lima syarat yang diajukannya, yang kalau diterima, sama artinya AS mengaku kalah. Maka terjadi deadlock.

Pakistan ditunjuk sebagai mediator. Pada 29 Maret, Menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, Turki, berkumpul di Islamabad untuk mencari terobosan yang bisa diterima kedua pihak. Tapi gap antara tuntutan AS dan Iran terlalu jauh untuk dijembatani. Sementara AS dan Israel tak mengendorkan serangan terhadap Iran yang menargetkan infrastruktur sipil, seperti universitas, rumah sakit, pemukiman warga, sekolah, depot minyak, dan instalasi air bersih. Iran membalas hal yang sama ke seluruh kawasan. Untuk meningkatkan pressure terhadap Iran, AS mengirim ribuan pasukan infantri dan pasukan khusus, yang direncanakan akan melakukan serangan terhadap Iran. Pulau Kharg di Teluk, terminal bagi 90 persen ekspor minyak Iran, jadi target pendudukan. Juga untuk menduduki pulau di mulut Selat Hormuz yang ditutup Iran guna menghancurkan militer Iran di sana.

Pada saat bersamaan, proksi Iran di Yaman, Houthi, mulai melancarkan serangan terhadap Israel dan mungkin akan menutup Teluk Aden. Ini leverage Iran yang diremehkan. Ketika membantu Hamas melawan Israel, Houthi berhasil menenggelamkan beberapa kapal di Laut Merah dan memaksa kapal-kapal terkait Israel menempuh perjalanan lebih jauh mengelilingi Benua Afrika sehingga meningkatkan biaya transportasi. Serangan AS, Israel, dan Inggris terhadap Houthi gagal membungkamnya sehingga memaksa Trump membuat gencatan senjata dengannya. Rudal Houthi mampu menjangkau seluruh target di kawasan.

Kecerobohan Trump-Netanyahu

Agresi AS-Israel telah menghancurkan status quo Timteng dan tatanan internasional berbasis hukum yang akan memperkecil pengaruh AS di kawasan untuk digantikan China dan Rusia. Cita-cita lama Israel  menjadi hegemon utama di kawasan ikut redup. Sebaliknya, Iran berpotensi muncul sebagai pemenang perang yang akan mengangkat pamornya di tingkat regional dan internasional. Negara-negara Arab akan melakukan realignment menghadapi realitas baru.

Perang yang menyeret dunia ke dalam krisis energi, bersumber dari ambisi besar Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. Ambisi dan kepercayaan diri berlebihan biasanya membutakan orang dari realitas yang ingin dikuasainya. Berbasis pada laporan badan intelijen Israel (Mossad) bahwa mereka telah menyiapkan kaki tangan di Iran untuk mengambil alih pemerintah mullah yang rapuh. Israel dan AS hanya perlu melenyapkan para pemimpin Iran untuk memungkinkan pergantian rezim.

Informasi dangkal ini diteruskan Netanyahu kepada Trump yang, sebagaimana Netanyahu, melihat ini sebagai kesempatan emas untuk makin mengagungkan dirinya setelah berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro yang mengubah struktur kekuasaan Venezuela. Kesediaan Iran duduk berunding dengan AS pra-perang terkait isu-isu strategis, bahkan Iran bersedia memberi konsesi signifikan terhadap AS, memperkuat keyakinan Trump bahwa musuhnya itu dalam posisi lemah.

Kendati telah berhasil melumpuhkan Hamas, pemenggalan leher Hizbullah di Lebanon, dan munculnya rezim baru di Suriah yang merapat ke AS, publik Israel belum melihat tujuan perang Netanyahu di Gaza dan di Lebanon telah tercapai. Padahal, pada Oktober mendatang digelar pemilu di Israel yang berpotensi melahirkan kepemimpinan baru. Maka Iran, yang ekonominya sedang terpukul hebat dan keresahan sosial meluas akibat tindakan represif rezim yang menewaskan ribuan demonstran, dijadikan target baru.

Keberhasilan melakukan regime change di Iran akan menjadikan Netanyahu sebagai king of king Israel, Israel menjadi hegemon utama di kawasan, negara-negara Arab akan bergabung ke dalam Abraham Accord, dan cita-cita Palestina memiliki negara terkubur. Terbukti kemudian, skenario ini berantakan. Agresi keduanya memang berhasil membunuh pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, puluhan petinggi militer, dan tokoh bangsa, tapi pemerintah  Iran tetap eksis. Malah makin kuat dan keras.

AS dan Israel tidak memahami struktur kekuasaan Iran, budaya pemujaannya pada mati syahid, kebanggaan pada identitasnya sebagai bangsa dengan peradaban kuno yang senantiasa resisten terhadap intervensi asing, kemampuan dan strategi militer, dukungan Rusia dan China, dan leverage-nya di kawasan. Tahu bahwa mustahil bisa mengalahkan AS-Israel secara militer dalam perang konvensional, Iran memilih perang asimetris dengan menyerang aset militer dan sipil AS-Israel di seluruh kawasan.

Kesalahan Israel juga terlihat di Lebanon. Setelah Hezbullah menarik diri dari selatan Lebanon sesuai perjanjian gencatan senjata pada 2024, Israel tak mematuhi gencatan senjata. Tentara Israel (IDF) tetap bertahan di lima titik strategis di Lebanon sambil melancarkan serangan ke pemukiman penduduk untuk memaksa pemerintahan Presiden Joseph Aoun melucuti Hizbullah. Kendati menolak dilucuti, Hizbullah tak membalas serangan Israel yang diniatkan menjadikan Lebanon selatan, basis Hezbullah, seperti Gaza.

Lagi-lagi asumsi Israel meleset. Ternyata sikap pasif Hezbullah bertujuan menipu Israel dan memberi kesempatan padanya melakukan konsolidasi serta mengganti senjatanya yang rusak selama perang dengan Israel (8 Oktober 2023-24 November 2024). Maka ketika Khamenei dibunuh, Hizbullah melancarkan serangan substansial ke Israel. Beberapa tank Israel dihancurkan, puluhan tentaranya tewas. Warga Israel mengungsi kembali dan upaya IDF maju ke utara malah jadi mangsa empuk Hezbullah.

Leverage Iran

Setelah agresi Israel-AS pada Juni, Iran melakukan desentralisasi militernya. Unit-unit yang mandiri diberi otoritas bertindak sendiri sesuai kebutuhan berdasarkan blue print dari komando pusat. Dus, menyerang pemimpin militer tertinggi Iran tak mengubah realitas di lapangan. Dengan konfigurasi militer seperti inilah Iran melancarkan perang asimetris. Kemampuannya menyerang infrastruktur militer AS di negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk – Arab Saudi, Oman, UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait – plus Irak dan Yordania adalah leverage tak terduga Iran.

Sementara kekuatan Israel tersedot ke utara menghadapi Hezbullah, Iran tak hentinya membombardir target-target di berbagai kota Israel. Inilah untuk pertama kalinya sejak 1948 Israel menghadapi musuh yang serius. Kapal-kapal perang AS, bahkan kapal induk Abraham Lincoln tak luput dari target Iran. Leverage lain Iran adalah menutup Selat Hormuz, rute satu-satunya bagi tanker internasional yang mengangkut 20 persen kebutuhan energi dunia. Tidak mudah membuka paksa tanpa menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Rencana yang disusun Pentagon bagi serangan pasukan khusus ke pulau-pulau Iran di dekat Selat Hormuz dilihat pakar militer sebagai tak visible. Rakyat AS ikut memikul beban perang yang tak mereka kehendaki akibat kenaikan harga BBM. Tak heran, demonstrasi bertajuk “No Kings” melanda kota-kota di 50 negara bagian AS. Sementara tak ada sekutu Barat yang menyambut permintaan Trump untuk membantu AS membuka Selat Hormuz.

Tidak seperti biasanya, perang yang dilancarkan Trump tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan sekutu– selain tidak berbasis pada resolusi DK PBB. Lagi pula, NATO menentang agresi Rusia terhadap Ukraina, mengapa sekarang mereka harus mendukung agresi AS-Israel ketika penyelesaian diplomatic sedang mengalami kemajuan substansial? Mereka tambah kecewa setelah Trump mencabut embargo energi Rusia sebagai hukuman atas invasinya ke Ukraina yang memberdayakan Rusia kembali.

Selain peluang menang kecil, perang ini menguras sumber daya AS, menghancurkan reputasinya sebagai digdaya militer terhebat di dunia, mengisolasi AS, mengikis pengaruhnya di Timteng, dan memberi keuntungan pada China dan Rusia. Tak heran, para tokoh penting kubu MAGA (Make America Great Again) berbalik menentang Trump. Dulu mereka mendukung Trump karena ia menjanjikan tak akan melancarkan perang opsional di luar negeri. Apalagi perang ini didorong oleh Israel dan lobi Yahudi di AS.

Deeskalasi

Peran Pakistan–dibantu Arab Saudi, Mesir, dan Turki-– untuk melakukan deeskalasi tidak mudah. Pakistan bersama tiga rekannya itu merupakan sekutu AS. Di dalam negeri, pemerintah Pakistan menghadapi komunitas Syiah yang besar jumlahnya, nomor dua terbesar setelah Iran. Bahkan, komunitas Sunni pun bersimpati pada Iran. Iran pun merupakan sahabat Pakistan yang tak ingin terjadi regime change di sana. Dalam posisi ini, Pakistan tak dapat menekan Iran untuk memberi konsesi bermakna kepada AS. Di pihak lain, watak Trump yang egoistis menyulitkannya memberi konsesi yang bisa diinterpretasikan sebagai kapitulasi.

Namun, realitas domestik dan global akan  mendikte kebijakan perang Trump. Dalam konteks ini, Israel tidak lagi menjadi variabel yang diperhitungkan. Belakangan ini publik Israel mulai turun ke jalan mengecam Netanyahu. Pasalnya, perang telah menghancurkan kota-kota dan infrastruktur vital, dan menewaskan tentara dan warga sipilnya, tanpa menjanjikan kemenangan. Sementara ekonominya morat-marit dan sistem pertahanan udaranya kewalahan menangkis drone dan rudal Iran.

Di AS muncul kesadaran bahwa perang ini hanya untuk melayani kepentingan Israel. Padahal, Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyatakan Israel melakukan genosida di Gaza dan ethnic cleansing di Tepi Barat. Netanyahu dan Menhan Israel Yaov Gallant ditetapkan sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan. AS terlibat dalam kejahatan ini karena memasok senjata dan memberi perlindungan diplomatik atas Israel. Dus, mendukung Israel merugikan kepentingan AS.

Di pihak lain, dukungan domestik terhadap rezim Iran kian kuat. Leverage lain yang dimiliki Iran adalah Rusia dan China tak akan membiarkan terjadinya regime change. Tak heran, Rusia memasok intelijen, data, dan posisi militer AS di seluruh kawasan selain memasok senjata sebelum perang. China melakukan hal yang sama. Melihat semua variable ini, maka tidak masuk akal bila Trump melanjutkan perang dengan biaya besar yang menggerus sumber daya sambil kehilangan kepercayaan GCC terhadap AS sebagai penjamin keamanan mereka.

Jalan terbaik yang tersedia bagi AS dan Israel untuk menyelamatkan diri dari kekalahan kolosal adalah menghentikan perang secepatnya. Peran Pakistan adalah mencari jalan untuk menyelamatkan muka Trump. Tak usah berharap banyak dari Iran karena ia menghadapi perang eksistensial. Trump harus mengakomodasi persyaratan Iran: ganti rugi, jaminan secara tegas bahwa agresi terhadapnya tak terulang di masa depan, dan hak-hak fundamentalnya diakui. Irasionalitas dan egoisme hanya mempercepat kemerosotan AS sambil menyeret dunia ke dalam jurang kehancuran.[]

*Dimuat di Media Indonesia, 6 April 2026

**Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Back to top button