
Petani Jepang kini rata-rata berusia lanjut. Pemerintah harus bekerja keras melakukan konsolidasi lahan, modernisasi pertanian, subsidi regenerasi petani, dan pembesaran skala usaha agar pertanian kembali menarik. Masalahnya, hubungan antargenerasi dengan tanah sudah terlanjur putus. Tanah masih ada. Teknologi tersedia. Modal dapat dicari. Tetapi penerus tidak bisa dicetak dengan mesin. Indonesia sedang berjalan di jalan yang mirip. Belum sampai tujuan, tetapi papan petunjuknya sudah terlihat.
Oleh : Widiana Safaat*

JERNIH–Di sebuah desa, papan nama masih berdiri di pinggir jalan. Tulisan “Selamat Datang” masih terbaca, meski catnya mulai terkelupas. Sawah masih ada. Rumah-rumah masih berjajar. Masjid masih mengumandangkan azan.
Tetapi sekolah kekurangan murid. Warung hanya ramai saat Lebaran. Pemuda tinggal beberapa orang. Sebagian besar penghuni desa telah berusia lanjut. Desanya belum mati. Hanya saja, masa depannya sudah pindah ke kota.
Pemandangan seperti ini belum menjadi wajah umum pedesaan Indonesia. Namun, arah perjalanannya mulai tampak. Anak muda meninggalkan desa karena kota menawarkan upah, pergaulan, internet, hiburan, dan harapan. Desa sering hanya menawarkan kerja berat, harga panen yang tidak pasti, jalan rusak, sinyal lemah, dan pidato pejabat tentang pentingnya generasi muda mencintai pertanian.
Cinta memang penting. Tetapi cicilan motor tidak bisa dibayar dengan cinta.
Luka Jepang yang Datang Terlambat
Jepang pernah mengalami arus urbanisasi yang sangat agresif setelah Perang Dunia II. Pertumbuhan industri menarik tenaga muda dari desa menuju Tokyo, Osaka, Kyoto, dan pusat-pusat ekonomi lainnya.
Selama beberapa dekade, perpindahan itu dianggap simbol kemajuan. Industri berkembang. Kota tumbuh. Pendapatan meningkat. Namun, setelah generasi muda pergi dan tidak kembali, banyak wilayah pedesaan kehilangan daya hidup. Muncul desa-desa yang populasinya sangat tua, lahan pertanian terlantar, rumah kosong, dan komunitas yang perlahan menghilang.
Fenomena desa yang kehilangan penduduk ini sering dikaitkan dengan istilah shuraku atau genkai shuraku: komunitas yang telah mencapai batas kemampuan untuk mempertahankan fungsi sosialnya.
Petani Jepang kini rata-rata berusia lanjut. Pemerintah harus bekerja keras melakukan konsolidasi lahan, modernisasi pertanian, subsidi regenerasi petani, dan pembesaran skala usaha agar pertanian kembali menarik. Masalahnya, hubungan antargenerasi dengan tanah sudah terlanjur putus. Tanah masih ada. Teknologi tersedia. Modal dapat dicari. Tetapi penerus tidak bisa dicetak dengan mesin.
Indonesia sedang berjalan di jalan yang mirip. Belum sampai tujuan, tetapi papan petunjuknya sudah terlihat.
Bertani masih diasosiasikan dengan kemiskinan. Petani kecil menghadapi lahan sempit, harga bergejolak, biaya input tinggi, dan posisi tawar rendah. Anak petani disekolahkan tinggi-tinggi agar “jangan sampai menjadi petani seperti orang tuanya”.
Kalimat itu disampaikan dengan kasih sayang. Namun, bila semua orang berhasil menjalankannya, kelak tidak ada lagi yang menanam makanan.
Cetak Biru Anti-Jepang
Mencegah desa kehilangan generasi muda tidak dapat dilakukan hanya dengan kampanye “ayo kembali ke desa”. Yang diperlukan adalah perubahan sistem. Desa harus mampu menawarkan pendapatan, teknologi, kebudayaan, jaringan sosial, kualitas hidup, dan masa depan yang layak. Tinggal di desa tidak boleh diposisikan sebagai pengorbanan romantis.
Ia harus menjadi pilihan rasional. Setidaknya ada empat pengungkit besar yang perlu dijalankan secara terpadu.
1. Membuat Pertanian Layak bagi Generasi Digital
Kita tidak bisa meminta Gen Z masuk ke sawah, lalu menyerahkan cangkul berkarat dan mengatakan, “Beginilah perjuangan nenek moyang.”
Mereka menghormati nenek moyang. Tetapi mereka juga mengenal sensor, drone, kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perdagangan digital. Pertanian masa depan harus mempertemukan teknologi dengan agroekologi.
Sensor tanah dapat membantu mengukur kelembapan dan kebutuhan unsur hara. Sistem irigasi otomatis dapat menghemat air. Drone dapat memantau kesehatan tanaman. Data cuaca dapat membantu menentukan waktu tanam. Kecerdasan buatan dapat membantu mendeteksi penyakit tanaman lebih cepat.
Teknologi bukan untuk mengubah sawah menjadi pabrik tanpa jiwa. Teknologi harus digunakan untuk mengurangi pekerjaan yang melelahkan, meningkatkan ketepatan, menurunkan risiko, dan membuat kehidupan petani lebih manusiawi.
Namun, digitalisasi tidak boleh berhenti pada pembelian alat. Banyak proyek teknologi pertanian berakhir seperti sepeda statis di rumah orang kaya: mahal, canggih, sempat dipamerkan, lalu menjadi tempat menggantung pakaian. Yang dibutuhkan adalah ekosistem layanan: operator lokal, teknisi, data yang dapat dibaca petani, model bisnis, biaya perawatan, pelatihan, dan dukungan koperasi.
Gagasan tokenisasi aset tani juga dapat dipertimbangkan untuk membuka pembiayaan baru. Anak muda perkotaan dapat ikut menanam modal pada usaha pertanian tanpa harus memiliki seluruh lahan. Tetapi tokenisasi bukan mantra sakti.
Tanpa aturan ketat, transparansi, perlindungan hak petani, dan larangan spekulasi, lahan pertanian dapat berubah menjadi kasino digital. Yang tadinya ingin membiayai petani malah berpotensi mempercepat konsentrasi penguasaan tanah. Teknologi harus membuat petani lebih berdaulat, bukan sekadar membuat tengkulaknya berganti aplikasi.
2. Menjadikan Makan Bergizi Gratis sebagai Mesin Ekonomi Desa
Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala permintaan yang sangat besar. Setiap hari, jutaan porsi makanan harus disiapkan. Artinya, dibutuhkan beras, telur, ikan, sayuran, buah, bumbu, susu, umbi, dan berbagai bahan pangan lainnya.
Bila dikelola dengan pendekatan pengadaan lokal, program ini dapat menjadi pasar terbesar bagi petani dan usaha pangan desa. Sebaliknya, bila rantai pengadaannya dikuasai sedikit perusahaan besar dan bahan bakunya didatangkan dari jauh, desa hanya akan kebagian foto anak-anak sedang makan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu menetapkan mandat pengadaan lokal yang terukur. Sebagai desain kebijakan, misalnya, sekurang-kurangnya 70 persen bahan baku dapat diarahkan berasal dari koperasi petani, kelompok wanita tani, nelayan, peternak, dan usaha pangan dalam radius maksimal sekitar 120 kilometer, sesuai kapasitas wilayah.
Angka dan radiusnya harus disesuaikan dengan kondisi daerah. Prinsipnya tetap sama: uang belanja publik harus berputar sedekat mungkin dengan tempat makanan dikonsumsi.
Skema ini perlu didukung kontrak jangka menengah. Petani tidak cukup diberi informasi bahwa dapur membutuhkan satu ton wortel minggu depan. Mereka perlu jadwal kebutuhan untuk beberapa bulan agar dapat menyusun kalender tanam. Di sinilah data konsumsi bertemu dengan perencanaan produksi.
Sekolah mengetahui kebutuhan porsi. Dapur menyusun kebutuhan bahan. Koperasi membagi rencana tanam. Petani memperoleh kepastian pembelian. Lembaga keuangan memiliki dasar untuk memberikan modal. Hilir menarik. Hulu bernapas.
Program MBG juga dapat mendorong hilirisasi skala komunitas. Tomat yang terlalu matang dapat diolah menjadi saus. Ubi dapat dibuat tepung. Pisang dapat diolah menjadi bahan pangan setengah jadi. Ikan dapat diproses secara aman di unit pengolahan desa.
Kelompok wanita tani dan pemuda desa tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Mereka menjual nilai tambah.
3. Mengubah BUMDes dan Koperasi Menjadi Agregator Modern
Petani kecil umumnya tidak kalah karena tidak bisa menanam. Mereka kalah karena tidak memiliki volume, informasi harga, fasilitas penyimpanan, standar mutu, kendaraan, modal kerja, dan akses langsung ke pembeli besar.
Seorang petani dengan 300 kilogram cabai tidak punya kekuatan tawar yang sama dengan pedagang yang menguasai 20 ton cabai dari berbagai desa. Karena itu, BUMDes dan koperasi harus bertransformasi menjadi agregator modern. Tugasnya bukan hanya membeli hasil panen, tetapi mengelola data produksi, jadwal tanam, sortasi, pengemasan, penyimpanan, distribusi, kontrak penjualan, pembiayaan, dan penjaminan mutu.
Desa-desa produksi memerlukan micro-hub logistik yang dilengkapi fasilitas dasar seperti rumah kemas, timbangan digital, pre-cooling, cold storage, gudang kering, alat sortasi, dan kendaraan berpendingin sesuai kebutuhan komoditas.
Energinya dapat memanfaatkan tenaga surya bila layak secara teknis dan ekonomis. Dengan fasilitas tersebut, petani tidak harus menjual seluruh hasil panen pada hari yang sama. Produk dapat disortir berdasarkan mutu dan dialirkan ke pasar yang sesuai.
Produk premium masuk hotel atau restoran. Produk standar masuk pasar umum. Produk dengan bentuk kurang sempurna masuk unit pengolahan. Tidak semua tomat harus menjadi bintang iklan. Sebagian cukup menjadi saus yang baik.
Sistem pelacakan menggunakan kode QR dapat membantu konsumen mengetahui asal produk, tanggal panen, praktik budidaya, dan kelompok tani penghasilnya. Tetapi sekali lagi, kode QR bukan tujuan. Jangan sampai kemasannya bisa dilacak sampai koordinat kebun, tetapi pembayaran petaninya tidak bisa dilacak sudah sampai mana. Transparansi paling penting tetaplah transparansi harga dan pembagian nilai.
4. Menjadikan Desa Pusat Kebudayaan dan Pengalaman
Desa tidak boleh hanya dipandang sebagai pabrik bahan mentah. Ia adalah ruang hidup, pusat pengetahuan, bentang alam, laboratorium ekologi, dan rumah kebudayaan.
Bila desa hanya menjual gabah, sayur, atau buah mentah, nilai ekonomi terbesar akan berpindah ke kota. Tetapi bila desa menjual pengalaman, pengetahuan, makanan, budaya, dan jasa lingkungan, sumber pendapatannya menjadi lebih beragam.
Konsep seperti Imah Buhun Locavora dapat dikembangkan sebagai ruang komunal yang memadukan kebun keanekaragaman hayati, kuliner lokal, arsitektur ramah lingkungan, pasar petani, ruang belajar, dan penginapan berskala kecil.
Pengunjung kota tidak sekadar datang untuk berfoto di antara tanaman, lalu pulang meninggalkan sampah. Mereka belajar menanam, memanen, memasak, mengenal musim, memahami sistem air, dan mendengar cerita pangan setempat.
Agrowisata harus dirancang agar manfaatnya menyebar. Petani menjadi pemandu. Kelompok perempuan mengelola kuliner. Pemuda mengelola media, reservasi, dan pengalaman digital. Perajin memasok produk. Seniman menghidupkan pertunjukan. Koperasi mengelola transaksi.
Dengan begitu, desa tidak berubah menjadi taman hiburan milik investor luar. Desa tetap menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.
Program kunjungan sekolah dari kota juga penting. Anak-anak perlu melihat bahwa wortel tidak tumbuh di rak pendingin dan susu tidak lahir dalam kotak karton. Mereka perlu menyentuh tanah, mengenali serangga, memahami musim, dan menyaksikan kerja petani.
Hubungan emosional dengan pangan tidak lahir dari infografik semata. Kadang ia lahir ketika seorang anak mencabut singkong pertama dalam hidupnya, lalu terkejut karena ternyata akarnya lebih besar daripada layar gawainya.
Desa dan Kota Harus Berhenti Saling Menguras
Selama ini, hubungan desa dan kota sering berjalan satu arah. Desa mengirim bahan pangan, tenaga kerja, air, energi, dan sumber daya alam. Kota mengirim produk jadi, sampah, budaya konsumsi, dan harga tanah yang melonjak.
Desa kehilangan anak muda. Kota menerima kemacetan. Desa kehilangan sawah. Kota mendapat kompleks perumahan baru. Desa kehilangan bahan pangan bergizi. Kota mendapat restoran yang menjual kembali pangan itu dengan harga berkali-kali lipat.
Hubungan seperti ini tidak sehat. Kota dan desa harus dibangun sebagai satu ekoregion pangan. Perencanaan tata ruang, transportasi, pengadaan, energi, pengelolaan limbah, pasar, dan pendidikan harus disusun dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Kota menyediakan pasar yang adil. Desa menjaga produksi dan ekologi. Limbah organik kota dikembalikan sebagai sumber daya. Teknologi dan modal mengalir ke desa tanpa merampas tanah. Petani mendapat pendapatan layak. Konsumen memperoleh pangan segar dan sehat.
Itulah sistem Locavore dalam arti yang sebenarnya. Bukan sekadar makan di restoran yang menuliskan nama petani pada menu.
Menjaga Desa Berarti Menjaga Masa Depan Kota
Masyarakat perkotaan sering merasa persoalan desa terlalu jauh dari kehidupannya. Padahal setiap pagi desa hadir di meja makan kota. Ia hadir dalam nasi, telur, kopi, cabai, sayuran, buah, gula, ikan, susu, dan rempah.
Apabila desa kehilangan petani, kota akan kehilangan pangan. Apabila lahan pertanian berubah menjadi beton, kota akan semakin bergantung pada rantai pasok panjang. Apabila anak muda meninggalkan pertanian, pengetahuan budidaya akan ikut menghilang.
Maka menyelamatkan desa bukan proyek nostalgia. Ini bukan upaya mengawetkan kehidupan masa lalu seperti menyimpan keris dalam lemari kaca. Menyelamatkan desa adalah strategi pertahanan masa depan. Kita tidak perlu memaksa semua anak muda pulang ke kampung. Kota tetap dibutuhkan. Industri tetap penting. Mobilitas manusia adalah bagian dari perkembangan masyarakat.
Yang harus kita cegah adalah keadaan ketika pergi menjadi satu-satunya jalan untuk hidup layak. Desa harus memiliki cukup banyak alasan agar seseorang mau tinggal, kembali, berinvestasi, membangun keluarga, dan menanam masa depan di sana. Ulah nepi ka lembur ngan kari ngaran. Jangan sampai desa hanya tersisa sebagai nama di Google Maps, sementara sawahnya menjadi perumahan, rumahnya kosong, kebudayaannya dipentaskan setahun sekali, dan makanannya justru diimpor dari negeri seberang.
Kota boleh terus menjulang. Tetapi akarnya harus tetap hidup di desa. []






