Solilokui

“Percikan Agama Cinta”: Ciputat School dalam Hidup Saya

Sebentuk “madzhab” pemikiran, Ciputat sudah banyak melahirkan tokoh intelektual dan karya yang ikut mewarnai corak pemikiran Islam di Indonesia, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyatu dengan umat sekaligus bangsa. Benar, ketika dulu namanya masih “IAIN”, spirit itu terekam dalam satu ungkapan dahsyat: kampus pembaru.

JERNIH– Saudaraku,

Aku bahagia pernah kuliah di UIN Jakarta. Kampus megah, favoritku. Maktab itu terletak di kawasan selatan Jakarta. Tepatnya di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Konon kota megapolitan. Kulturnya sangat beragam, baik agama, suku maupun budaya. Menjadi kawasan penyangga ibu kota. Karena itu, tak aneh, jika kampus ini terkenal dengan nama  “UIN Ciputat”. Bahkan, jauh sebelum itu lebih beken dengan sebutan “IAIN Ciputat”.

Deden Ridwan

Aku tahu. Julukan “IAIN Ciputat” tampak lebih melegenda. Aura santrinya terasa kental. Bandingkan dengan mahasiswa UIN zaman now, lebih urban dan metroseksual. Setidaknya itu kesanku. Mungkin pula kesan generasi seusiaku. Teman-temanku. Sesama alumni pesantren. Kebetulan sama-sama pernah “nyantri”  di IAIN Ciputat.

Aku punya riwayat, penting dicatat. Sebagai “santri Ciputat”, rasanya kurang absah bila tak pernah menjadi “aktivis” Masjid Fathullah: memburu nasi bungkus di setiap bulan puasa menjelang buka tiba. Peminatnya acap kali membludak. Sedikit saja datang telat dipastikan tak bakal kebagian jatah. Nasi bungkus pun ludes diburu jamaah.

Itulah sekilas kisah. Sobat-sobatku pasti punya cerita lebih seru. Dengan cerita itu, aku hanya ingin bilang. Suka-duka  kultur “Ciputat” begitu menyatu denganku, kaum santri. Menempa bagian dari perjalanan hidupku. Selalu membekas di hati; bahkan sekarang pun!

Ketahuilah, “Ciputat” di sini bukan sekadar letak geografis. Tapi lebih dari itu, bermakna kultural, dan bahkan “madzhab”. Ya, madzhab pemikiran ( school of thought) Ciputat. Cetak biru (blue print) “madzhab Ciputat” berpijak pada gagasan  Islam inklusif, berbasiskan intelek (intellect), tercakup intuisi atau ilham; pun tradisi filsafat Islam maupun Barat. Dibincangkan di pelbagai kelompok studi, di bawah pohon flamboyan, depan kampus. Melahirkan wawasan berpikir kritis demi bersikap lebih sophisticated, adil dan apresiatif dalam menyelami samudra beragama.

Aku kagum. Sebentuk “madzhab” pemikiran, Ciputat sudah banyak melahirkan tokoh intelektual dan karya yang ikut mewarnai corak pemikiran Islam di Indonesia, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyatu dengan umat sekaligus bangsa. Benar, ketika dulu namanya masih “IAIN”, spirit itu terekam dalam satu ungkapan dahsyat: kampus pembaru.

Tak syak lagi. Ruh “kampus pembaru” itu membuat cakrawala kaum santri terbuka lebar. Hingga kampus IAIN (UIN) Ciputat begitu menggetarkan di seantero negeri. Mengharumkan. Membanggakan.

Betapa tidak, kampus ini menjadi salah satu impian anak-anak bangsa, terutama kalangan Muslim santri, untuk mengenyam pendidikan tinggi. Meraih mimpi. Mewujudkan cita-cita setinggi langit. Menjadi insan akademis. Selaku ulama-intelektual, intelektual-ulama. Merawat keislaman. Menongkrongi keindonesiaan.

Ya, sebuah cita-cita mulia. Dengan begitu, generasi muda Muslim bisa terlibat aktif bersama-sama membangun bangsa. Catat, kita mesti menjadi pelaku perubahan, bukan (lagi) sebagai objek penderita. Keterlibatan kita dalam rangka menuntaskan janji kemerdekaan, amanah para pendiri bangsa (founding fathers). Lalu menjaga keutuhan bangsa dari ancaman para pengasong khilafah dan kelompok takfiri.  Karena kelompok tersebut kini terus-menerus menancapkan pengaruhnya di Indonesia, termasuk di kampus-kampus Islam negeri ternama.

Sadarlah. Jiwa “pembaru” itu mesti kita rawat, pupuk, sebarluaskan. Melalui kanal-kanal media kreatif. Karena pesannya masih sangat relevan dan aktual dengan kondisi kehidupan umat Islam saat ini: cenderung mengkapling-kapling kebenaran berdasarkan ego keagamaan.

Aku yakin. Semangat “pembaru” menjadi bagian realisasi dan refleksi dari ajaran Islam rahmatan lil alamin. Suatu nilai-nilai Islam universal berasaskan cinta. Mempro-duksi wajah Islam kemanusiaan. Namun  bercita-rasa lokal: berjiwa moderat, kaya dengan kebajikan, dan “kearifan tradisional”.  Menyantuni pluralitas. Menakzimkan manusia. Hadir sebagai perekat kehidupan bangsa, bukan sebagai ancaman bagi kelompok lemah atau minoritas.

Renungkanlah. Energi positif dan terbuka seperti itu wajib kita rawat dan cerna. Karena budaya santri yang toleran, inklusif, ramah, santun, bijak, kritis, dan saling percaya serta nirkekerasan adalah nafas/ruh fundamental.  Sekaligus sebagai strategi budaya  dalam mengarungi gelombang samudra kehidupan Indonesia masa depan: di bawah naungan Pancasila, lem raksasa perekat bangsa.

Aku berharap. Dalam gestalt inilah UIN Ciputat wajib hadir sebagai garda depan: merawat candra keislaman dan kebangsaan. Itulah cagar budaya kita. Sungguh keren, bukan? [Deden Ridwan]

Back to top button