Solilokui

Sejak Kapan Manusia Bisa Bahagia? Sejak Prometheus Mencuri Api dan Berbagi

Saraf usus dan saraf Vagus (saraf ke-10) menyusun komponen terbesar saluran cerna. Kemiripan ini membuat saraf saluran cerna disebut sebagai “otak kedua”.

Oleh  :  Taufiq Pasiak*

JERNIH– “Alkisah, dewa Yunani, Prometheus, mencuri api milik Dewa Zeus di Gunung Olimpus.  Api itu disimpannya dalam setangkai tangkai adas dan kemudian diberikannya pada manusia.

jernih.co, jernih,
Dr dr Taufiq Pasiak

Adas[1] adalah tanaman bumbu yang mengandung minyak Atsiri dan menjadi salah satu komponen minyak telon.

Prometheus kemudian dihukum Zeus di puncak Gunung Kaukasus, mengikatnya pada sebuah batu sehingga seekor gagak dapat mematuk hatinya setiap hari. Setiap kali dipatuk, seketika hati itu tumbuh kembali. Prometheus kemudian dikenal sebagai Dewa Kecerdasan.

Penelitian ilmu otak (Neurosains) berbasis evolusi primata menemukan bahwa karena api-lah otak manusia dapat tumbuh luar biasa seperti hari ini. Api membuat daging mentah menjadi empuk sehingga mudah dicerna. Energi penghancur makanan kemudian dipakai otak untuk berpikir dan menciptakan kebudayaan, seturut tumbuhnya saraf di saluran cerna.

Ilmu anatomi membuktikan, susunan saraf di saluran cerna memiliki kompleksitas mirip dengan otak manusia. Saraf usus dan saraf Vagus (saraf ke-10) menyusun komponen terbesar saluran cerna. Kemiripan ini membuat saraf saluran cerna disebut sebagai “otak kedua”.

Otak kedua ini menghasilkan zat kebahagiaan serotonin jauh lebih banyak daripada yang dihasilkan otak dalam tempurung kepala. Itu sebabnya, banyak ahli berpendapat bahwa sebenarnya sumber kebahagiaan itu berasal dari perut ketimbang dari kepala.

Banyak riset menemukan bahwa pengobatan gangguan mental depresi lebih efektif jika melibatkan rekayasa saluran cerna ketimbang hanya menggunakan obat-obatan antidepresan. [  ]

*Dr.dr Taufik Pasiak, penulis “Otak dan Kota: Kecerdasan Biofilia, Tuhan, Alam, dan Manusia” (AviBook, 2020)


[1]Adas, dalam “Nutrisi Surgawi”, yang ditulis Dr Tifauzia Tyassuma, sering juga disebut kacang lentil (Lens culinaris). Dalam Alquran disebutkan, sejak zaman dulu adas sudah dikonsumsi Bani Israil. QS 2: 61 menyatakan, ketika Bani Israil (hanya) mengonsumsi “makanan langit” (manna danB), Bani Israil bosan dan meminta Nabi Musa AS agar Allah menurunkan juga sayur mayur, ketimun, bawang putih, adas, dan bawang merah.

Back to top button