Trump dan Netanyahu Ketemu Batunya!

Yang terjadi kemudian justru Trumplah yang beringsut mundur. Ia berkicau di platform X tentang prospek gencatan senjata, dengan mengesankan seolah-olah sudah ada pembicaraan ke arah itu dengan Iran. Iran segera membantah secara kategoris. Kata mereka, tidak pernah ada pembicaraan, langsung ataupun tidak langsung, dengan Trump. Tidak pernah sama sekali! Sekali lagi, setelah berkali-kali terjadi, Trump berdusta tanpa rasa malu sedikit pun. Sebaliknya justru Iran menegaskan kembali posisinya: bukan AS atau Israel yang akan menentukan syarat penghentian perang, melainkan Iran sendiri.
Oleh : Haidar Bagir

JERNIH– Trump kembali memainkan parodi tidak lucunya: mengancam-ngancam tapi kemudian mundur teratur. Kemarin ia memberi Iran ultimatum “dua kali 24 jam” untuk membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya, atau Amerika Serikat akan menghantam dan melumpuhkan pusat-pusat suplai energi negeri itu. Bahasanya tidak menyisakan ruang diplomasi. Ini bukan negosiasi, melainkan ancaman sepihak untuk menghancurkan jantung ekonomi Iran.
Iran tidak hanya menolak, tapi justru membalasnya dengan ancaman eskalasi yang bahkan lebih luas. Mereka menegaskan: jika satu saja fasilitas energi Iran diserang, maka seluruh infrastruktur energi di kawasan—termasuk milik sekutu AS—akan menjadi target sah. Ancaman ini tidak berhenti di situ. Opsi penutupan total Selat Hormuz kembali diangkat, bersamaan dengan peringatan bahwa kepentingan ekonomi Amerika di seluruh Timur Tengah bisa disasar. Iran jelas tidak sedang bermain defensif; ia justru sedang menyatakan siap meningkatkan eskalasi perang.
Yang terjadi kemudian justru Trumplah yang beringsut mundur. Ia berkicau di platform X tentang prospek gencatan senjata, dengan mengesankan seolah-olah sudah ada pembicaraan ke arah itu dengan Iran. Iran segera membantah secara kategoris. Kata mereka, tidak pernah ada pembicaraan, langsung ataupun tidak langsung, dengan Trump. Tidak pernah sama sekali! Sekali lagi, setelah berkali-kali terjadi, Trump berdusta tanpa rasa malu sedikit pun.
Sebaliknya justru Iran menegaskan kembali posisinya: bukan AS atau Israel yang akan menentukan syarat penghentian perang, melainkan Iran sendiri. Garis besar tuntutan mereka konsisten, termasuk jaminan penghentian total agresi di masa depan dalam bentuk jaminan tidak ada serangan lanjutan, pembayaran biaya reparasi terhadap Iran atas kerugian yang diakibatkan agresi itu, pencairan aset Iran yang selama puluhan tahun dibekukan AS, penghentian boikot ekonomi, serta pengakuan atas hak Iran untuk mempertahankan diri dan melanjutkan kebijakan strategisnya. Tanpa itu, Iran menyatakan siap menghadapi perang panjang.
Di titik ini, realitas mulai berbicara lebih keras daripada retorika. Perang ini terbukti merepotkan AS dan Israel. Biaya perang membengkak tanpa kendali. Amunisi—terutama sistem interseptor—di pihak AS, Israel, dan negara-negara Teluk terus menipis. Sementara daya balas Iran belum menunjukkan tanda-tanda melemah. Negara-negara Teluk pun diliputi kecemasan karena menyadari mereka berada dalam radius dampak langsung jika konflik melebar. Sekarang pun mereka pun sudah mengalami kerugian ekonomi amat besar, di bidang militer dan ekonomi pada umumnya. Belum lagi akibat psikologis yang melanda warganya, serta rusaknya image mereka sebagai negara modern di Timur Tengah yang aman.
Serangan Iran ke wilayah Israel belakangan ini makin memorak-perandakan negeri ini. Khususnya, serangan ke wilayah pusat nuklir di Dimona, dan juga di kota Arad dua hari yang lalu, yang menimbulkan korban besar. Angka resmi menyebut ada lebih dari seratus korban, sementara laporan tidak resmi menyebut jauh lebih tinggi. Apa pun itu, satu hal jelas: Israel terbukti amat rentan terhadap serangan balasan Iran.
Sementara itu, tekanan Iran di Selat Hormuz sudah cukup untuk mengguncang ekonomi global. Jalur vital energi dunia terganggu, dan dampaknya langsung terasa di pasar minyak, logistik, dan stabilitas kawasan. Negara-negara Asia Barat kini bukan hanya penonton, melainkan bagian dari krisis yang sedang berlangsung.
Seperti beberapa kali saya tulis sebelumnya, korban besar memang telah jatuh di pihak Iran—dan sesungguhnya juga di pihak Israel. Tetapi, sekali lagi, menang atau kalah dalam perang tidak selalu ditentukan oleh besar-kecilnya jumlah korban. Hal ini tampaknya makin terbukti dalam perang AS/Israel melawan Iran ini. Kenyataannya, nyaris tak ada tujuan perang yang semula digembar-gemborkan oleh AS dan Israel yang benar-benar tercapai. Sebaliknya, justru pihak yang memulai agresi kini terlihat dipaksa untuk mencari jalan menghentikan perang secara sepihak.
Pertanyaannya: apakah Iran akan menerima? Ada kemungkinan besar tidak. Iran justru berpeluang melanjutkan—bahkan mengintensifkan—serangan-serangannya, khususnya ke Israel, hingga tuntutan-tuntutannya mendapatkan respons positif dari AS. Sepenuhnya, atau setidaknya pada tingkat yang mereka anggap dapat diterima.
Mari kita lihat apa yang akan benar-benar terjadi. Tapi, setakat ini, cukup aman untuk dikatakan, kali ini AS dan Israel benar-benar ketemu batunya! Mampus! (red-). [ ]






