SolilokuiVeritas

Zohran, Rasisme dan LGBTQ

Apa rahasia popularitas Zohran yang begitu tinggi? Jawabannya simple: ia konsisten menerapkan prinsip kesatuan antara kata (janji) dan perbuatan (kebijakan). Begitu memerintah, ia dengan segera membuat kebijakan untuk merealisasikan janji-janjinya itu. Sebagai walikota, ia merealisasikannya dengan membentuk untuk pertama kalinya dalam sejarah NYC, sebuah departemen bernama Mayor’s Office of LGBTQIA+ Affairs (Kantor Urusan LGBTQIA+) melalui penandatanganan perintah eksekutif (executive order). Departemen ini bertugas memberikan perlindungan hukum, perumahan, lapangan kerja, serta layanan kesehatan yang setara bagi komunitas kuir (queer) di NYC. Departemen ini dipimpin oleh Taylor Brown (lihat foto), perempuan transgender terbuka pertama yang mengepalai lembaga pemerintahan kota di New York City.

Oleh     : Coen Husain Pontoh*

JERNIH–Di tengah-tengah meningkatnya sentimen anti LGBTQ+ di Indonesia saat ini, saya ingin membagi sedikit cerita tentang Walikota New York City, Zohran Mamdani. Ini adalah walikota paling populer di AS, bahkan mungkin di dunia saat ini.

Jajak pendapat terbaru yang dipublikasikan oleh Yougov, menyebutkan bahwa Zohran adalah politisi Partai Demokrat terpopuler ketiga di belakang Barack Obama dan Bernie Sanders. Sementara itu, berdasarkan survei nasional yang dilakukan oleh AP-NORC Center for Public Affairs Research terhadap orang dewasa Yahudi di AS, popularitas Zohran lebih tinggi (44 persen) dibandingkan dengan PM israhell Benjamin Netanyahu (32 persen). Anda bayangkan, seorang politisi muda, Muslim Syiah, pro-Palestina, imigran asal Uganda, Afrika, dan sosialis bisa sedemikian populernya di AS.

Apa rahasia popularitas Zohran yang begitu tinggi? Jawabannya simple: ia konsisten menerapkan prinsip kesatuan antara kata (janji) dan perbuatan (kebijakan). Ia mendianosis bahwa problem utama mayoritas warga NYC adalah kepentingan ekonomi alias material, bahwa kota ini terlalu mahal, tidak lagi memberikan kesempatan kepada mayoritas warganya yang miskin untuk hidup layak. Karena itu, ia berjanji untuk menjadikan NYC menjadi kota yang lebih terjangkau bagi kalangan miskin. Dan begitu memerintah, ia dengan segera membuat kebijakan untuk merealisasikan janji-janjinya itu.

Dan ia sungguh-sungguh konsisten dan persisten untuk ini, dan sejauh ini ia sukses. Dalam hal politik, mayoritas orang Amerika itu ternyata sama saja dengan mayoritas orang Indonesia, mereka sangat mendambakan pemimpin yang betul-betul berpihak pada kepentingannya. Pemimpin yang amanah dan istiqomah, kira-kira begitu kata ustadz.

Tetapi apa hubungannya dengan isu LGBTQ+? Nah, di sini rahasia lain dari Zohran. Ia bukan hanya ingin melayani kebutuhan material warga NYC, ia juga gigih berkampanye bahwa ia ingin warganya hidup secara bermartabat (dignified), hidup yang mulia. Dan untuk itu, ia ingin warganya diakui hak-haknya secara setara (equal rights) alias tidak membeda-bedakan pelayanan pemerintah berdasarkan kepentingan politik dan identitas tertentu. Misalnya, karena ia Muslim maka ia mengutamakan kepentingan kalangan Muslim. Tidak. Atau agar ia mendapatkan simpati dari kalangan Yahudi yang sangat berpengaruh itu, maka ia berkompromi dengan kepentingan sebagian dari mereka yang sangat pro-israhell. Tidak. Sekali lagi, ia menempatkan warganya secara setara.

Dalam kasus LGBTQ+, yang merupakan kelompok marjinal dan saat ini sedang mengalami kampanye persekusi dari pemerintahan federal, ia tampil ke depan mengakui dan melindungi hak serta kepentingan mereka. Dan ini bukan sekadar omon-omon. Sebagai walikota, ia merealisasikannya dengan membentuk untuk pertama kalinya dalam sejarah NYC, sebuah departemen bernama Mayor’s Office of LGBTQIA+ Affairs (Kantor Urusan LGBTQIA+) melalui penandatanganan perintah eksekutif (executive order). Departemen ini bertugas memberikan perlindungan hukum, perumahan, lapangan kerja, serta layanan kesehatan yang setara bagi komunitas kuir (queer) di NYC. Departemen ini dipimpin oleh Taylor Brown (lihat foto), yang mencetak sejarah sebagai perempuan transgender terbuka pertama yang mengepalai lembaga pemerintahan kota di New York City.

Jelas ia mendapatkan banyak penentangan dari kebijakan ini, baik dari kalangan Kristen kanan maupun dari kalangan Muslim sendiri. Sebagai Muslim, kok bisa Anda melegalisasi dan kemudian melayani kelompok Nabi Luth itu? Tapi ia tetap konsisten, seperti konsistensinya membela kepentingan rakyat miskin, atau dalam membela perjuangan rakyat Palestina untuk bebas dari kolonisasi dan genosida israhell, serta perjuangannya membela kalangan imigran, termasuk imigran Muslim dari persekusi pemerintahan Trump. Sekali lagi, Zohran tidak hanya ingin warganya hidup layak, tapi juga bermartabat, hormat-menghormati tanpa peduli latar belakang identitasmu.

“Buat apa kamu terdidik tapi rasis dan diskriminatif? Apa bedanya kamu dengan Netanyahu yang kamu benci itu? Jangan-jangan hanya karena kamu belum berkuasa aja,” begitu kira-kira saya membayangkan apa yang dipikirkan Zohran.

Di sini kita perlu mengambil hikmah, jadi pemimpin itu bukan saja kamu mesti melayani kepentingan konstituen, tetapi kamu juga harus mendidik konstituenmu agar mereka bisa paham kenapa kamu begitu konsisten membela kesetaraan manusia, alias membela HAM. Jangan karena mayoritas konstituenmu BIGOT trus kamu yang dulunya pejuang HAM kemudian ikut-ikutan BIGOT agar kepentingan politik dan ekonomimu tetap aman.

Di situ, kamu bukan lagi PEJUANG, tapi sudah menjadi PECUNDANG. Dan percayalah, tak akan ada lagi yang menghormatimu, kecuali para penjilatmu. []

*Warga Indonesia di Kota New York

Back to top button