Masjidil Haram Dipenuhi Jamaah Melampaui Batas Maksimal di Malam ke-27 Ramadan

JERNIH – Di bawah langit malam gurun yang jernih pada Minggu (15/3/2026), pusat dunia seolah berhenti berputar. Masjidil Haram, bangunan paling suci bagi umat Islam, resmi mencapai kapasitas maksimumnya pada malam ke-27 Ramadan 1447 H.
Bukan sekadar angka, pemandangan malam itu adalah sebuah fenomena “lautan manusia” yang meluap hingga ke sekitar pelataran. Sehari lebih awal dari kalender Indonesia, jutaan jiwa berkumpul dengan satu harapan yang sama: menjemput kemuliaan Lailatul Qadar.
Laporan kantor berita SPA menggambarkan arus jemaah yang tak putus mengalir sejak fajar menyingsing. Setiap sudut bangunan ikonik tersebut—mulai dari lantai bawah tanah yang sejuk, koridor yang megah, atap (rooftop) yang berangin, hingga kawasan Perluasan Ketiga Saudi yang luas—telah berubah menjadi saf-saf salat yang rapat.
Begitu padatnya, otoritas setempat melalui akun Inside the Haramain terpaksa memberlakukan sistem prioritas. Akses masuk utama di barikade, dikhususkan hanya bagi mereka yang mengenakan kain ihram untuk menunaikan umrah. Langkah ini diambil demi menjaga keselamatan jemaah di tengah massa yang terus membengkak.
Isak Tangis di Bawah Langit Mekkah
Puncak kekhusyukan pecah saat jam menunjukkan waktu sepertiga malam. Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Dr. Abdurrahman as-Sudais, naik ke mimbar untuk memimpin rakaat terakhir salat Tahajud.
Suara Syekh as-Sudais yang khas terdengar bergetar saat melantunkan doa qunut yang panjang. Di tengah jutaan jemaah yang bersujud, suasana syahdu menyelimuti; hanya terdengar isak tangis yang tertahan di sela-sela untaian doa untuk perdamaian dunia dan ampunan bagi umat.
Di balik nuansa spiritual yang kental, ada mesin teknologi yang bekerja luar biasa. Menampung lebih dari 96 juta jemaah dalam 20 hari pertama Ramadan bukanlah perkara mudah. Tahun ini, pengelola melakukan lompatan besar melalui pemanfaatan Internet of Things (IoT).
Bukan hanya sistem tata suara dan pendingin udara yang dipantau, teknologi IoT kini merambah hingga ke fasilitas sanitasi. Sensor cerdas bekerja secara real-time untuk mengarahkan jemaah menuju area toilet yang lebih lengang, sebuah langkah taktis untuk mengurai penumpukan massa di area-area vital.
Fasilitas inklusif pun ditingkatkan. Bagi jemaah tunanetra, mushaf Al-Qur’an dengan huruf Braille telah disiagakan di berbagai sudut masjid, bersanding dengan sistem panduan digital terintegrasi yang memudahkan jutaan pendatang mancanegara.
Gambaran Masjidil Haram saat ini adalah perwujudan kemegahan arsitektur Islam modern. Melalui proyek perluasan tahap ketiga di era Raja Salman, kawasan suci ini kini memiliki luas total mencapai 1,5 juta meter persegi.
Secara matematis, masjid ini telah bertransformasi menjadi 750 kali lipat lebih besar dibandingkan luas aslinya pada masa Rasulullah SAW. Namun, meski telah diperluas sedemikian rupa, malam ke-27 Ramadan 1447 H ini membuktikan satu hal: kerinduan umat untuk bersujud di depan Kakbah selalu mampu melampaui kapasitas ruang seluas apa pun yang tersedia.






