Spiritus

Setetes Embun: Kritik

Jika dalam hati kita ingin diperlakukan dengan kasih sayang, dengan kata-kata yang lembut dan penuh pengampunan, maka hendaklah kita juga melakukan hal yang sama dengan orang lain.

Oleh: P. Kimy Ndelo, CSsR

JERNIH-Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat pernah berkata: “Hanya orang yang siap menolong yang berhak untuk mengkritik”.

Kalimat ini meringkas dengan sangat baik ucapan Yesus dalam Injil hari ini:

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk 6,42).

Ucapan Yesus ini adalah kelanjutan dari pesan-pesan sebelumnya, yang termasuk dalam rangkaian Hukum Emas (Golden Rule). Intinya berbunyi: Perbuatlah pada orang lain, apa yang engkau ingin orang perbuat kepadamu”. Dengan kata lain, perlakukanlah orang lain dengan cara seperti engkau inginkan untuk dirimu sendiri.

Jelas ini tidak dimaksudkan agar orang diam saja terhadap kesalahan atau kejahatan. Juga bukan sebuah “relativisme moral”, dimana orang dibiarkan mempunyai standar moral sendiri. Misalnya dengan berkata; “kalau engkau anggap baik, ya sudah”. Tidak. Bukan ini maksudnya.

Tidak ada orang yang mengkritik atau menghakimi yang benar-benar fair, obyektif dan bebas kepentingan. Juga kita tidak selalu tahu motivasi, latar belakang atau apa yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu, termasuk hal yang salah.

Disini yang mau diingatkan adalah bahwa cara kita mengkritisi atau terutama menghakimi, akan dipakai juga oleh Tuhan pada saat akhir nanti. Hanya Tuhan yang benar-benar fair dan obyektif.

Kata-kata atau ucapan adalah cara paling mudah dan paling sering bersinggungan dengan orang lain. Setiap kali berbicara, kata yang keluar pasti ditujukan kepada orang tertentu. Tidak mungkin kata-kata keluar dengan sendirinya tanpa tujuan.

Melalui kata-kata kita dapat melihat seperti apa pribadi seseorang; seperti dikatakan dalam Kitab Sirakh: “Jangan memuji seseorang sebelum ia berbicara, sebab justru itulah batu ujian manusia” (Sir 27,7).

Yesus menggunakan kata-kata-Nya untuk berkotbah, menyembuhkan, memperbaiki dan mengembalikan kehidupan, kegembiraan dan sukacita. Kata-kata-Nya tidak pernah digunakan untuk menghancurkan atau membunuh.

Dengan cara ini Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya berbicara dan bersikap.

Jika dalam hati kita ingin diperlakukan dengan kasih sayang, dengan kata-kata yang lembut dan penuh pengampunan, maka hendaklah kita juga melakukan hal yang sama dengan orang lain.

Seorang Pastor berkotbah tentang karunia rohani pada tiap-tiap orang. Selesai misa seorang wanita datang kepada Pastor dan berkata: “Pastor, saya yakin, saya punya talenta untuk mengkritik”.

Pastor memandang wanita itu sejenak, berpikir, lalu menjawab: “Bu, apakah anda ingat kisah Injil tentang seseorang yang mempunyai satu talenta? Bagaimana tindakannya?”. Wanita itu spontan menjawab dengan yakin: “Dia pergi dan menguburkan satu talentanya!” Pastor itu berkata lagi: “Pergilah dan lakukan itu!”.

(Setetes Embun, by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis di Biara Gereja Novena, Weetebula Sumba tanpa Wa).

Back to top button