Veritas

Bocoran Investigasi: AS dan Israel Diam-diam Bersekongkol Ingin Jadikan Ahmadinejad Pemimpin Baru Iran

  • Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat menilai opsi terbaik untuk masa depan Iran adalah jika negara tersebut dipimpin “seseorang dari dalam” rezim itu sendiri.
  • Ahmadinejad terpantau semakin berseberangan dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan elite penguasa lainnya.

JERNIH – Sebuah laporan investigasi mengejutkan dirilis oleh The New York Times (NYT). Amerika Serikat dan Israel dilaporkan meluncurkan perang terhadap Iran dengan rencana rahasia yang sangat berani yakni menggulingkan rezim saat ini dan menunjuk mantan Presiden garis keras, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai pemimpin baru Iran.

Rencana tersebut dirancang mirip dengan skema penggantian kekuasaan di Venezuela, di mana AS menempatkan Delcy Rodriguez setelah meluncurkan operasi penangkapan terhadap Nicolas Maduro.

Namun, mengutip dokumen dari para pejabat AS yang mendapat pengarahan terkait “rencana berani” tersebut, misi rahasia ini “berantakan dalam sekejap”. Hingga saat ini, keberadaan maupun kondisi fisik Ahmadinejad sama sekali tidak diketahui.

Menurut laporan The New York Times (NYT), gagasan ini muncul setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat merenung dan menilai bahwa opsi terbaik untuk masa depan Iran adalah jika negara tersebut dipimpin oleh “seseorang dari dalam” rezim itu sendiri.

NYT mencatat bahwa memilih Ahmadinejad adalah sebuah anomali dan keputusan yang sangat tidak biasa. Rekam jejak Ahmadinejad selama menjabat sebagai Presiden Iran (2005–2013) dikenal sangat ekstrem.

Ia pernah menyerukan pernyataan kontroversial untuk menghapus Israel dari peta dunia dan pendukung berat program nuklir Iran. Ahmadinejad juga kritikus paling sengit terhadap Amerika Serikat serta terkenal bertangan besi dalam menumpas gerakan pembangkangan domestik di negaranya.

Namun, peta politik berubah setelah wawancara Ahmadinejad pada tahun 2019. Secara mengejutkan, ia justru memuji Donald Trump dan menyarankan adanya rekonsiliasi hubungan antara Iran dan AS.

“Mr. Trump adalah orang yang fokus pada tindakan (man of action). Dia seorang pebisnis, karena itu dia mampu mengalkulasi untung-rugi dan mengambil keputusan. Kami katakan kepadanya, mari kita hitung untung-rugi jangka panjang bagi kedua bangsa kita dan jangan berpandangan sempit,” ujar Ahmadinejad kala itu.

Operasi Pembobolan Penjara yang Gagal Total

Rencana kudeta terstruktur ini sebenarnya sudah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Ahmadinejad. Kendati demikian, eksekusi di lapangan langsung berjalan kacau sejak hari pertama.

Para pejabat Amerika mengungkapkan kronologi kegagalan operasi tersebut. Operasi itu salah sasaran, Ahmadinejad justru dilaporkan terluka pada hari pertama perang akibat serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Teheran.

Serangan udara tersebut sebenarnya bermaksud untuk menghancurkan barikade pasukan keamanan Iran dan membebaskan Ahmadinejad dari status tahanan rumah. Laporan majalah The Atlantic pada Maret lalu menyebut serangan ke rumah tersebut sejatinya adalah “operasi pembobolan penjara” (jailbreak operation).

Ahmadinejad berhasil selamat dari maut. Namun, setelah lolos dari maut akibat serangan sekutunya sendiri, mentalnya langsung berubah. Ia menjadi kecewa berat dengan skenario perubahan rezim (regime change plan) yang disodorkan Barat dan memutuskan untuk memutus kontak serta berhenti bekerja sama. Meskipun terluka, ia berhasil kabur dari status tahanan rumahnya dan menghilang tanpa jejak hingga detik ini.

Ahmadinejad (yang menjabat sebagai presiden pada periode 2005–2013) memang terpantau semakin berseberangan dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan elite penguasa lainnya. Ia berulang kali menyerang para pemimpin rezim dengan tuduhan korupsi sistemik, yang membuat rumor mengenai keloyalannya terus berembus kencang di Tehran.

Akibat pembangkangan ini, Ahmadinejad didiskualifikasi dari sejumlah pemilu presiden, para ajudan dekatnya ditangkap, dan ruang geraknya dipersempit secara ketat di dalam rumahnya saja. Bahkan, orang-orang di lingkaran dekat Ahmadinejad kerap dituduh oleh intelijen Iran memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan Barat, atau bahkan dicap sebagai agen mata-mata untuk Israel.

Pihak Amerika Serikat awalnya sangat percaya bahwa Ahmadinejad adalah figur kuat yang memiliki kapasitas mumpuni untuk mengendalikan stabilitas “politik, sosial, dan militer Iran” pasca-perang. Namun kini, kartu as mereka justru hilang di tengah medan pertempuran.

Back to top button