CrispyVeritas

Biomarker Sinyal Peringatan Kritis Covid-19 Ditemukan

Para peneliti Jerman menemukan sel precursor dari trombosit dalam sel darah yang memainkan peranan penting dalam penggumpalan darah. Sel itu mereka temukan dalam sampel darah pasien Covid-19 dengan gejala sakit parah.

JERNIH– Dampak serangan virus corona SARS-CoV2 pada tiap individu hingga saat ini  masih menjadi misteri. Banyak yang terinfeksi tapi hanya menunjukkan gejala sakit ringan. Sementara pada sebagian pasien Covid-19 yang lainnya, gejala sakitnya sangat parah, bahkan langsung meninggal.

Pada pasien Covid-19 dengan gejala penyakit sangat parah, sering muncul reaksi peradangan yang keliru menyerang organ tubuh. Paru-paru mengalami peradangan, kadang juga jantung atau ginjal terkena peradangan. Sering pula terjadi kerusakan pembuluh darah halus yang memicu penggumpalan darah, yang bisa membentuk emboli pada paru-paru. Inilah yang paling sering menjadi penyebab kematian para pasien Covid-19 dengan gejala sakit berat.

Biomarker sel yang khas

Sebuah tim peneliti dari Universitas dan lembaga riset di negara bagian Jerman Schleswig Holstein serta ilmuwan Belanda, berhasil menemukan indikator penentu dalam darah pasien Covid-19, yang kemungkinan bisa memberikan peringatan dini gejala sakit parah.

Para peneliti Jerman dari yayasan “Precision Medicine in Chronic Inflammation Cluster of Excellence– PMI” itu menemukan sel precursor dari trombosit dalam sel darah yang memainkan peranan penting dalam penggumpalan darah. Sel itu mereka temukan dalam sampel darah pasien Covid-19 dengan gejala sakit parah.

Sel yang disebut megakaryocytes itu, normalnya ditemukan pada sum-sum tulang belakang, dan dalam kondisi tertentu akan matang menjadi sel darah merah. Tapi sel darah merah yang belum matang itu, juga ditemukan dalam darah pasien pada kasus keracunan darah atau sepsis.

“Kami menemukan kasus adanya sel trombosit yang belum matang dalam darah, pada pasien sakit berat akibat keracunan darah oleh bakteri. Ini menjadi indikasi, bahwa sel trombosit yang belum matang ini memicu masalah penggumpalan darah yang berbahaya”, kata Florian Tran dari institut untuk biologi molekuler klinis Universitas Kiel, Jerman yang menjadi penulis utama riset tersebut.

Banyaknya sel darah merah yang belum matang, juga menunjukkan adanya kekurangan oksigen. Ini merupakan reaksi darurat tubuh dalam kasus penyakit paru-paru berat. Pasalnya sel darah merah khususnya Eritrosit lazimnya bertanggung jawab pada transport oksigen dalam tubuh.

“Bersama dengan data lainnya, seperti data klinis dari laboratorium dan pengukuran elemen pembawa pesan peradangan, para ilmuwan bisa membuat semacam sidik jari sel yang mengalami perubahan fungsi ini. Dan memantaunya seiring perjalanan waktu,” kata Dr. Neha Mishra yang juga menjadi penulis pertama laporan ilmiah tersebut.

Lewat sidik jari molekuler dalam darah, kemungkinan munculnya gejala penyakit berat dapat dikenali lebih dini. Dengan itu layanan gawat darurat juga bisa disiapkan dan disesuaikan dengan perjalanan penyakitnya.

Hasil penelitian gabungan para ahli dari berbagai Universitas di Jerman dan Belanda serta pusat penelitian di Jerman itu dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal ilmiah Immunity. [Deutsche Welle]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close