Depth

Akhir Riwayat Kapas Mesir

Bagaimana kapas Mesir terkait Perang Saudara di AS, sampai Arab Spring yang membuat popularitasnya kian tenggelam

JAKARTA– Pada tahun 1994, Ayman Nassar, seorang Amerika keturunan Mesir yang dibesarkan di California, meninggalkan studinya yang singkat di University of Colorado dan mengikuti kakaknya ke Mesir. “Ada sangat banyak peluang di sini,” kata Nassar kepada saya.

Nassar berasal dari keluarga industrialis Mesir. Mereka telah memiliki penyamakan kulit di Alexandria yang dinasionalisasi Presiden Gamal Abdel Nasser, dalam reformasi sosialis besar-besaran di tahun 1960-an,—sebuah peristiwa yang mempercepat kepergian keluarga Nassar ke AS. Sekarang Mesir telah melonggarkan banyak kebijakan sosialisnya, mengurangi subsidi, melonggarkan kontrol harga, dan memprivatisasi banyak sektor publik. Dengan bantuan seorang kakek yang tetap tinggal di negara itu, saudara-saudara Nassar mencoba peruntungan tangan mereka di berbagai industry, sebelum membangun nama mereka sendiri di industri kapas. Mereka mulai dengan berdagang kapas mentah, hingga akhirnya membuka pabrik pemintalan dan pabrik tenun mereka sendiri.

Ketenaran kapas Mesir sangat mirip dengan minyak zaitun untuk Italia atau anggur untuk Prancis, yang pasti menegaskan orang tentang kualitas. Pencarian cepat di Amazon menghasilkan tujuh ribu hasil untuk ‘katun Mesir’, di soal tempat tidur dan seprai saja. Beberapa ditambahkan dengan kata ‘mewah’. Kapas adalah satu-satunya komoditas yang kata sifatnya ‘Mesir’, dan tentu itu menambah kemegahan. Seperti  kata ‘Jerman’ untuk mobil dan ‘Prancis’ dalam banyak hal.

Para pekerja kapal memuat karung kapas Mesir ke kapal di Alexandria, pada tahun 1922.

Orang-orang, apakah berhak atau tidak, masih memberi nilai lebih pada kapas Mesir,” kata Rami Helali, salah satu pendiri Kotn, sebuah perusahaan pakaian yang terutama menggunakan kapas Mesir. “Saya pikir mereka melihat nama dan mereka berpikir itu dekat dengan ‘mewah’ dan ‘mahal’,” kata dia. Mesir adalah salah satu dari segelintir negara–bersama Amerika Serikat, Israel, dan Turkmenistan — yang menumbuhkan jenis kapas yang sangat berkilau yang disebut kapas pokok ekstra Panjang, yang dikenal di AS sebagai kapas Pima. Varietas kapas ekstra panjang itu membangun tiga persen dari produksi kapas dunia.

“Saya telah melihatnya,” kata Helali kepada saya, tentang satu varietas yang tumbuh di Mesir. “Mengejutkan, sangat mengejutkan. Semua terlihat seperti sutra.”

**

Tetapi ketika Nassar bersaudara membangun bisnis mereka, kapas Mesir–seperti halnya apa pun dari Mesir, tengah mengalami penurunan. Ketika pemerintah meliberalisasi kapas, pemerintah juga menghentikan subsidi petani kapas secara langsung dan membiarkan perusahaan swasta untuk berdagang benih kapas secara bebas. “Tidak ada prosedur untuk memantau perusahaan-perusahaan itu,” kata Mohammed Khedr, kepala Organisasi Umum Arbitrasi dan Pengujian Kapas (Catgo). Rotasi tanaman diserahkan pada kebijaksanaan petani, yang terlalu cepat menanggapi keinginan pasar sehingga mengikis kesuburan Lembah Nil.

“Saya akan mengatakan pada akhir 2009, 2010, adalah saat ketika saya secara pribadi mulai kurang mendengar tentang kapas Mesir,”kata Steven Birkhold, mantan CEO Lacoste dan Diesel AS. “Saya sering bepergian ke banyak mitra utama kami, apakah itu pabrik pemintalan atau para pemintal perorangan,” kata dia. Dan saat itulah dirinya yang menangani merek-merek seperti Diesel, Lacoste, Lee Jeans, tak lagi mendengar kapas Mesir.

Pada 25 Januari 2011, didorong suksesnya demonstrasi anti pemerintah yang menjungkalkan Presiden Zine el-Abidine Ben Ali, ribuan orang Mesir membanjiri jalan-jalan untuk memprotes korupsi dan represi pemerintahan Presiden Hosni Mubarak selama ini. Dengan sangat cepat, Mubarak dipaksa turun, dan pemerintah baru diundi dengan kecepatan tinggi. Dalam konteks ini, nasib kapas negara lebih dalam lagi diabaikan.

Tanaman kapas terbaik Mesir adalah hibrida dari berbagai spesies yang dipilih untuk kualitas tertentu. Beberapa petani mulai mengambil jalan pintas, mengabaikan ‘jarak isolasi’ yang diperlukan antara ladang kapas pada varietas yang berbeda. Benih yang mereka tanam menjadi lebih sering mengalami penyerbukan silang. Pemerintah Mesir, yang mengendalikan semua penelitian benih, telah lama berjuang untuk menghasilkan varietas unggul baru.

Berton-ton kapas menunggu dimuat dan diberangkat ke berbagai negara

”Itu seperti kolam gen yang kekecilan,” kata James Hayward, CEO DNA Terapan, perusahaan yang membuat tag DNA yang memungkinkan produsen melacak produk melalui rantai pasokan. Birkhold saat ini menjadi konsultan untuk DNA Terapan. “Bila bawaan, semakin lama gen yang ada kian lemah, dan itu berlangsung semakin cepat.” Ada sekitar sepuluh varietas kapas yang ditanam di Mesir, yang semuanya secara resmi dikategorikan oleh Catgo Mesir memiliki serat panjang atau ekstra-panjang. Apalagi pohon kapas yang ditanam di Mesir Hulu dianggap oleh beberapa pedagang jangan dibudidayakan terlalu lama. Di antara mereka ada varietas berharga seperti Giza 86, yang dianggap para pedagang sebagai “roti dan mentega” dari kapas Mesir, dan Giza 45, yang memiliki bahan baku terpanjang.

“Jika Anda tidak menjaga plasma nutfah dan melindunginya, genetika membusuk,” kata Hayward. “Ada kapas Mesir yang berhenti menjadi bahan berserat ekstra panjang. Varietas itu menjadi lebih pendek dan lebih pendek dan lebih pendek lagi dari tahun ke tahun.”

Giza 45 adalah hibrida dari tahun 1950-an. Sejak itu pemerintah selalu gagal menghasilkan hibrida baru yang sehebat Giza 45. “Mereka terus menanamnya, dengan kualitas serta volume panen yang terus turun,”kata Nassar. Ketika Giza 45 mulai memudar, para Nassar dengan cemas membangun persediaan mereka. “Kami akan memilih dan menggosoknya,” kata dia.  Meskipun mereka masih percaya bahwa mereka memiliki lebih banyak Giza 45 daripada orang lain, mereka berhenti membelinya pada tahun 2009.

Setelah kapas diolah, kapas diklasifikasikan menurut panjang serat, keseragaman, warna, dan faktor penentu kualitas lainnya. Pada 2013 panen kapas menjadi sangat buruk sehingga Khedr berhenti berhubungan dengan fasilitas pengklasifikasian. “Saya tidak akan pergi untuk mengawasi agen, karena, sungguh, kami akan memberi tahu mereka, “Kapas yang Anda lihat di depan itu bukan kapas Mesir,” katanya.

Industri kapas Mesir lahir dari satu peristiwa besar Amerika Serikat—Perang Saudara. Kapas sangat sedikit dikenal di Eropa abad pertengahan sehingga dibayangkan sebagai campuran tanaman dan hewan. “Domba sayur,” Sven Beckert, seorang profesor sejarah di Harvard, menulis tentang itu dalam ‘Empire of Cotton’. Beberapa orang berteori bahwa domda-domba kecil tumbuh di perkebunan, membungkuk di malam hari untuk minum air, merekalah yang menjadi kapas. Mitos lain menceritakan soal domba yang hidup di tanah, di batang-batang pohon rendah. Terkait kapas hingga katun ini, pada tahun 1728 bahkan ada sebuah entri ensiklopedia menggambarkan seekor domba sayur yang tumbuh di Tartary — sebuah istilah untuk wilayah Asia utara, tengah, dan timur yang tidak diketahui para ahli geografi Eropa.

Ilustrasu dari abad 19, tentang perkebunan kapas di Mesir

Kapas telah lama tumbuh subur di beberapa bagian Afrika, Asia, dan Amerika. Pada 70, Pliny the Elder menemukan semacam semak di Mesir Hulu semak yang buahnya mirip ‘kacang dengan janggut’, dan di dalamnya mengandung zat sutera, yang bagian bawahnya bisa dipintal menjadi benang. Menjelang abad 19, anak benua India memiliki operasi kapas tiada tara. Seorang ahli kapas abad kesembilan belas dari Leeds melaporkan bahwa pakaian India yang bagus haruslah “hasil karya para peri, atau serangga, daripada manusia.” Mereka begitu baik sehingga mereka tampak seperti “jaring-jaring anyaman angin.”

Keterampilan menanam kapas dan memproduksinya pindah ke Eropa selatan seiring penaklukan ksatria Arab dan penyebaran Islam. Sebagian besar bahasa Eropa meminjam kata-kata untuk benda itu dari Bahasa Arab, ‘Qutun’. (Baumwolle Jerman dan bavlna Ceko, kalau diterjemahkan kira-kira menjadi ‘wol pohon’, sekadar untuk  mempertahankan akarnya dalam legenda Eropa.) Dengan munculnya industrialisasi, kapas menarik para oportunis di mana-mana. Pada pertengahan abad ke-19, kapas mendorong revolusi industri di Inggris dan perbudakan di Amerika Selatan. Sebelum Perang Sipil, 80 persen kapas yang digunakan pabrik-pabrik tekstil di Inggris berasal dari Amerika Selatan. Ketika perang meningkat, harga kapas meningkat, dan produsen tekstil Inggris mulai mencari alternatif.

Beberapa tahun sebelumnya, seorang Prancis bernama Louis Alexis Jumel menemukan tanaman kapas yang terabaikan di taman Kairo. Dia kagum pada seberapa baik tanaman itu mengambil untung dari iklim, serta bagaimana serat panjangnya mudah dipintal menjadi benang lembut. Dia menjadi yakin bahwa budidaya skala besar adalah sangat mungkin. Ia pun membujuk Muhammad Ali Pasha, raja Mesir, tentang idenya. Tumbuh di sepanjang Sungai Nil, kapas tumbuh subur di Mesir, dan Ali terus mengubah negara itu menjadi perkebunan kapas. Antara 1860 dan 1865, para petani Mesir meningkatkan produksi kapas mereka dari 50 juta pound menjadi 250 juta pound.

Produksi Mesir dengan cepat melampaui produksi AS, dan pada akhir abad 19, Mesir memperoleh 93 persen pendapatannya dari kapas. Itulah “sumber pendapatan utama bagi hampir setiap pemilik perkebunan di Delta,” tulis Roger Owen, dalam ‘Cotton and the Egyptian Economy’.

Lawrence Durrell, dalam ‘Kuartet Alexandria’, menggambarkan seorang raja kapas yang hidup di Alexandria awal abad 20, sebuah “ibukota Helenistik para bankir dan juragan kapas”. Alexandria Cotton Exporters Association bersebelahan dengan Cecil Hotel — wisma bergaya Moor bertingkat yang dibangun pada tahun 1929, di mana karakter Durrell berkumpul untuk bergosip dan menengahi urusan mereka dengan “satu detasemen pialang Aleksandria yang merencanakan merger kapas.” Seperti halnya hotel, asosiasi ini memiliki pemandangan Pelabuhan Timur Alexandria yang tidak terhalang, dipagari dengan bangunan bergaya Venesia yang melengkung hingga ke Benteng Qaitbay.

Para pedagang senang dengan kualitas kapas Mesir, dan berbondong-bondong ke Alexandria, yang sebagian besar dihuni para orang asing yang kaya. Dua tahun sebelum monarki Mesir diusir, pada tahun 1952, hanya dua dari tiga puluh lima broker kapas yang terdaftar di bursa saham Alexandria adalah orang Mesir. Perdagangan kapas membuat pemilik tanah dan pedagang asing kaya, namun memiskinkan banyak orang Mesir. Untuk melindungi gumpalan kapas dari kerusakan, kapas Mesir terus dipetik dengan tangan. “Ini menjelaskan bagaimana kasus pekerja anak muncul,” kata Mona Abaza, seorang profesor di American University di Kairo, yang keluarganya mengumpulkan kekayaan besar melalui kapas. “Itu sangat eksploitatif dan sulit untuk melihatnya kembali dengan sentimentalitas apa pun,” kata dia. Tahun ajaran sekolah secara historis dimulai setelah musim panen, untuk mendorong lebih banyak kehadiran siswa.

Produksi kapas-tekstil panjang, rumit, dan penuh dengan peluang kegagalan. Setelah dipanen, kapas dihaluskan, dipintal, lalu ditenun menjadi kain di berbagai fasilitas, seringkali di berbagai negara. Kecurangan dapat dimulai tepat di ladang kapas. Meilin Wan, seorang ahli tekstil di DNA Terapan mengatakan kepada saya. “Saya pernah mendengar cerita tentang bagaimana, di tengah malam, tiba-tiba, bal diganti dan bal kapas kelas atas dicampur dengan Upland, jenis kapas yang lebih murah yang lebih dikenal bahan berbulu. Pemintal dan penenun dapat mencampur berbagai jenis kapas menjadi satu. “Anda dapat melihat semua tautan lemah berada di hulu rantai pasokan,” kata Wan.

Pada tahun 2009, DNA Terapan mengambil survei pakaian dan tekstil yang mengklaim memakai 100 persen bahan pokok ‘ekstra-panjang’. Sebanyak 89 persen telah salah diberi label: 48 persen dibuat dengan bahan dasar Upland, sementara 41 persen dibuat dengan kapas campuran. Pada Januari 2016, Wan membawa nomor-nomor ini ke sebuah pameran benang di India, di mana dia dicemooh. “Semua pemintal dan pabrikan, mereka datang ke gerai kami,” kata dia menirukan. “Sebanyak 80 persen hah? Lebih seperti 99 persen dengan bahan dasar katun yang buruk,”katanya. DNA Terapan menerbitkan ringkasan hasil survei pasarnya secara online, pada bulan April tahun itu.

Sekitar empat bulan kemudian, Target, Bed Bath & Beyond, dan Walmart tiba-tiba menarik ratusan ribu seprai katun Mesir dan sarung bantal dari rak. Target menjalankan penyelidikan, yang menemukan bahwa, antara 2014 dan 2016, Welspun, penenun tekstil di India, telah menggantikan katun Mesir dengan varietas yang lebih murah. Target memutuskan hubungan dengan Welspun, sementara Walmart dan Bed Bath & Beyond berhenti menjual produk yang dipermasalahkan. Skandal itu merupakan kesalahan besar bagi perusahaan, yang merupakan pengecer besar dengan beragam barang dagangan. Untuk kapas Mesir, itu hal eksistensial.

“Itu sangat memengaruhi kami,” kata Nassar. “Reputasi,” kata Nassar. Sekarang semua orang bertanya, apakah ini kapas Mesir atau bukan? Banyak klien juga bertanya, “Apa yang menjamin saya bahwa ketika saya menjual ini mereka akan mempercayai saya?”

Pabrik tekstil yang menggunakan kapas Mesir merasakan tekanan baru untuk menunjukkan keaslian bahan mereka. April lalu, Himatsingka, produsen tekstil besar yang berbasis di India, bermitra dengan DNA Terapan untuk menyemprot kapas mentah yang diimpornya dari Mesir dengan tag DNA. “Banyak produsen terpal di Eropa meminta ini,” kata Nassar kepada saya. “Semua ini datang dari Welspun.”

Tidak ada yang yakin bagaimana Welspun diekspos, tetapi dengan melihat statistik produksi kapas Mesir–yang disediakan Asosiasi Eksportir Kapas Alexandria, terlihat ada sesuatu yang sedang terjadi. Pada 2016, Mesir memiliki tingkat produksi kapas terendah dalam sejarahnya. “Anda tidak perlu pengujian DNA,” kata Wessam El-Abd, perwakilan dari asosiasi tersebut. “Jika jumlah yang digunakan dalam produk ini sebanyak ini dan Anda telah menjual sebanyak itu. Yang Anda butuhkan hanyalah otak.”

“Tidak ada kapas Mesir yang cocok,” kata Nassar padaku. “Kami harus mengimpor. Pemintal mana pun di sini akan memberi tahu Anda, “Jika saya memiliki opsi untuk mengerjakan kapas Mesir atau Pima, saya pasti akan memilih kapas Mesir. Itu lebih memudahkan pekerjaan, selain lebih murah.”

Namun, menurut laporan Kementerian Pertanian AS (USDA), seorang produsen benang Mesir mengatakan kepada staf agensi bahwa, “Bahkan kalau pun harganya tinggi, importir benang di Eropa meminta benang yang diproduksi dari kapas Pima dan bersedia membayar biaya tambahan karena kualitas tinggi, dibandingkan dengan benang yang diproduksi dari kualitas yang tidak konsisten dari kapas Mesir ekstra panjang.”

“Para pekerja Supima sedang melakukan backflips dan pirouette di meja mereka, saat ini, sekarang,”kata Ron Lawson, seorang pialang kapas kepada Reuters, segera setelah skandal Welspun. Ia merujuk pada sebuah asosiasi yang menyediakan merek dagang yang menunjukkan bahwa produk benang dibuat dengan kapas Pima Amerika.

Antara 2006 dan 2016, produksi kapas Mesir turun 70 persen. Laporan USDA pada Maret 2016 menyalahkan “kebijakan pemerintah menggelepar dan terus berubah,”  yang juga telah ikut menurunkan kualitas benih.

Pada 2015, frustrasi oleh semakin tidak relevannya pekerjaan yang ia lakukan, seorang agen sampel dari Catgo Mesir mendekati Giza Research Institute–organisasi yang bertanggung jawab atas penelitian benih. Ia bilang,” Dengar teman-teman, kita harus menyimpan apa pun yang bisa kita selamatkan.”

Khedr memberi tahu saya. Bersama dengan Giza Institute, rekan-rekan Khedr berusaha menyelamatkan benih yang tidak terlalu rusak; mereka berulang kali menanamnya kembali, memilih untuk properti yang diinginkan, sampai mereka bisa sepenuhnya dihidupkan kembali. Mereka menanam benih yang dipilih di dua desa, dan, ketika benih itu terbukti berhasil, mereka memperkenalkan benih secara komersial di seluruh negeri.

“Ini adalah awal dari kembalinya Giza 86,” kata Khedr. Kami berada di markas organisasi arbitrase bersama Nassar si pedagang kapas. Kerangka sampel kapas dalam urutan panjang serat digantung di dinding. “Beginikah caramu mengembalikan Giza 86? Ini adalah tahun pertama ia kembali! Ia kembali dengan indah, ”seru Nassar.

Kapas dan benang, hasil pemintalan

Pekerjaan tim Khedr terbayar. Sebelum musim tanam dimulai pada musim semi 2018, pemerintah menetapkan harga indikatif yang murah hati untuk kapas. (Harga indikatif adalah bentuk setengah hati dari subsidi, di mana pemerintah mendesak perusahaan tekstil untuk membeli kapas dengan harga yang ditentukan. Mereka tidak mengikat, tetapi biasanya dipatuhi.) Petani didorong oleh harga, dan bersama-sama benih yang ditingkatkan produksi pun meningkat 63 persen. Musim gugur itu, sebelum panen, panjang, warna, dan kekuatan kapas baru telah membaik. Laporan tahunan USDA pun membaik.

Laporan itu barang kali terdengar optimis: “Perkembangan ini telah meningkatkan permintaan dan harga kapas Mesir di pasar lokal dan internasional, dan diperkirakan akan terus berlanjut.”

Tapi setelah kapas diambil, pedagang kapas mengabaikan harga indikatif. Keuntungan petani pun anjlok. Pada 2019, mereka secara alami enggan menanam kapas, dan luas kapas yang ditanam pun berkurang hampir setengahnya.

Dalam 25 tahun terakhir pemerintah hanya mensubsidi petani kapas secara langsung satu kali. “Ini ad hoc. Itu ad hoc, “kata Khedr, menggelengkan kepalanya. “Kami mensubsidi kapas beberapa kali, dan tidak pernah di waktu yang tepat.” Nassar menyela. “Sekarang tidak akan ada kapas,” katanya. “Maka harganya akan naik. Petani akan menanam kapas lagi, dan Anda akan kelebihan pasokan. “

Kapas adalah tanaman yang sangat intensif air, dan keberlanjutan menanamnya di negara kering seperti Mesir jelas meragukan. PBB sudah memperingatkan bahwa Mesir dapat menderita kekurangan air pada tahun 2025, karena perubahan iklim dan populasi yang terus bertambah.

Tetapi kapas tetap terikat pada ego Mesir. Pekerja pabrik kapas mengorganissasi beberapa protes paling sukses terhadap pemerintah pendudukan Inggris, pada tahun 1946 dan 1947. Anak-anak sekolah Mesir membaca tentang kapas Mesir yang terlalu lama dijepit di buku-buku pelajaran, dan lagu-lagu tentang pemetikan kapas meliputi cerita rakyat Mesir.

Desember lalu, sebuah foto beredar di media sosial, memperlihatkan menteri pertanian Republik Benin menangis setelah diumumkan bahwa negaranya telah menjadi produsen kapas utama di Afrika. Di bawah pos, komentar demi komentar tentang kesombongan yang terluka menumpuk. “Saya bersumpah, sayalah yang akan menangis,”tulis seorang pemilik pertanian kapas di Mesir. Kebunnya tidak lagi menanam kapas dalam enam tahun ini. “RIP Egypt,” itu bunyi komentar terakhir.

[Yasmine Al-Sayyad/ The New Yorker]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close