Bayang-Bayang Perangkap Thucydides di Balik Pertemuan Jinping-Trump

Di tengah ketegangan perdagangan dan isu Taiwan, Xi Jinping melontarkan peringatan tentang “Perangkap Thucydides” di hadapan Donald Trump. Sebuah pola sejarah mematikan di mana benturan antara kekuatan lama dan kekuatan baru sering kali berakhir dengan perang.
WWW.JERNIH.CO – Pertemuan Xi Jinping dengan Donald Trump yang diperkirakan akan membahas perdagangan, tarif, Taiwan, dan Iran, dan berlangsung hingga hari Jumat, sudah diwanti-wanti olehnya.
Berbicara tepat sebelum Trump, Jinping mencatat perhatian global terhadap pertemuan tersebut, dan mengatakan pertanyaan utama bagi kedua negara adalah apakah mereka dapat menghindari “Perangkap Thucydides” (Thucydides Trap).
Kontan dunia pun bertanya, apa yang dimaksud oleh Jinping?
Istilah “Perangkap Thucydides” dipopulerkan oleh Profesor Graham Allison dari Universitas Harvard. Nama ini diambil dari sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang menulis tentang Perang Peloponnesus. Dalam analisisnya, Thucydides menyimpulkan bahwa pertumbuhan kekuatan Athena dan rasa takut yang muncul di Sparta membuat perang tidak terelakkan.
Secara esensial, Perangkap Thucydides adalah pola struktural mematikan yang terjadi ketika sebuah kekuatan yang sedang bangkit (rising power) mengancam untuk menggusur kekuatan yang sedang berkuasa (ruling power). Ketegangan ini menciptakan dinamika psikologis dan politik yang berbahaya.
Kekuatan yang sedang bangkit merasa berhak atas pengaruh yang lebih besar sesuai dengan kemajuan ekonomi dan militernya. Sebaliknya kekuatan yang sedang berkuasa merasa terancam, tidak aman, dan cenderung menafsirkan setiap tindakan pesaingnya sebagai tantangan langsung terhadap status quo.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Belfer Center for Science and International Affairs di Harvard, dalam 500 tahun terakhir, terdapat 16 kasus di mana kekuatan besar yang sedang bangkit menantang kekuatan yang berkuasa. Hasilnya cukup mengerikan: 12 dari 16 kasus tersebut berakhir dengan perang.
Contoh klasik meliputi kebangkitan Jerman yang menantang supremasi Inggris, yang kemudian memicu Perang Dunia I. Lalu pada pertengahan abad ke-20 ketika ekspansi Jepang di Asia yang menantang kepentingan AS di Pasifik, berujung pada Perang Dunia II.
Namun, 4 kasus lainnya membuktikan bahwa perang bukanlah sebuah keniscayaan. Hubungan antara Inggris dan Amerika Serikat di awal abad ke-20, serta Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet (meskipun penuh ketegangan), berhasil diselesaikan tanpa konflik militer langsung berskala besar.
Dalam konteks pertemuan Trump dan Xi di Beijing, dinamika ini sangat terasa. Amerika Serikat telah menjadi kekuatan hegemon global sejak berakhirnya Perang Dingin. Di sisi lain, Tiongkok telah bertransformasi menjadi raksasa ekonomi dan teknologi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.
Isu-isu yang dibahas dalam KTT tersebut—mulai dari perdagangan, tarif, hingga masalah sensitif seperti Taiwan dan Iran—hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam. Masalah utamanya adalah pergeseran tektonik kekuasaan global.
Perang dagang dan tarif adalah alat bagi kekuatan yang berkuasa (AS) untuk memperlambat laju pesaingnya (China), sementara China berusaha melepaskan ketergantungan teknologi dan finansial dari Barat.
Isu Taiwan menjadi titik didih karena melambangkan kedaulatan bagi China dan komitmen keamanan bagi AS. Graham Allison sendiri berpendapat bahwa meskipun risiko konflik sangat nyata, kesadaran pemimpin kedua negara terhadap teori ini adalah langkah pertama yang krusial.
Pernyataan Xi Jinping tentang menghindari “Perangkap Thucydides” menunjukkan adanya niat untuk mematahkan pola sejarah tersebut.Di sisi Trump, dengan gaya diplomasinya yang transaksional, menekankan hubungan pribadi dengan Xi sebagai kunci.
Namun, hubungan pribadi saja tidak cukup jika kepentingan struktural kedua negara terus berbenturan. Selagi American First dimaknai mengembalikan hegemoni AS itu sendiri, Thucydides Trap akan selamanya menjadi keniscayaan.(*)
BACA JUGA: Xi Jinping: Umat Manusia Dihadapkan Pada Pilihan Perang atau Damai, Dialog atau Konfrontasi






