Oikos

Badai Profit Taking Saham SpaceX Gerus Kekayaan Elon Musk dalam Tiga Hari Hingga US$300 Miliar

JERNIH — Guncangan hebat melanda kekaisaran bisnis Elon Musk. Hanya dalam waktu tiga hari berturut-turut, kekayaan bersih orang terkaya di dunia ini ambruk lebih dari US$300 miliar (sekitar Rp4.900 triliun). Anjloknya pundi-pundi Musk dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) massal yang melanda saham raksasa antariksa miliknya, SpaceX, hingga hari Senin waktu setempat.

Aksi jual besar-besaran (mass sell-off) oleh para investor ini langsung menghapus seluruh pertumbuhan fantastis yang sempat diraih SpaceX sejak debut pemecahan rekornya beberapa waktu lalu. Tak main-main, nilai pasar (market cap) perusahaan pembuat roket tersebut menyusut hingga US$900 miliar.

Melansir laporan Financial Express, saham SpaceX terjun bebas 16,4% pada perdagangan Senin, mendarat di bawah level US$155 per lembar. Angka ini bahkan lebih rendah dari harga penutupan debut perdana mereka sebesar US$160. Jika dihitung sejak menyentuh puncak tertingginya di level US$225,64 pada 16 Juni lalu, saham SpaceX tercatat sudah rontok lebih dari 31%.

Longsornya harga saham ini otomatis membakar kekayaan pribadi Elon Musk secara brutal. Berdasarkan data Forbes, total kekayaan bersih Musk yang sempat mencetak rekor di angka US$1,45 triliun kini terperosok ke bawah US$1,1 triliun. Mirisnya, penurunan pada hari Senin saja sudah cukup untuk melenyapkan lebih dari US$152 miliar dari kantong Musk dalam kurun waktu 24 jam.

Sebagai catatan, Musk merupakan pemegang saham terbesar SpaceX dengan kepemilikan sekitar 38% saham, yang mencakup 4,8 miliar lembar saham serta 350 juta opsi saham lainnya.

Efek domino dari aksi profit taking ini mengubah peta persaingan korporasi elite global. Pada puncaknya tanggal 16 Juni, SpaceX bernilai fantastis sekitar US$2,99 triliun. Namun pada Senin, valuasinya melosot ke angka US$2 triliun—artinya hampir US$928 miliar nilai pasar hilang hanya dalam hitungan hari.

Sempat jumawa menyalip raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft untuk menduduki peringkat keempat perusahaan terbesar di dunia, kini posisi SpaceX melosot ke peringkat ketujuh, di bawah TSMC yang bernilai US$2,42 triliun.

Sentimen investor kian babak belur setelah MSCI, penyedia indeks saham terkemuka dunia, dilaporkan memberikan peringkat CCC kepada SpaceX. Ini adalah level terendah dalam skala keberlanjutan tujuh tingkat mereka. MSCI menilai SpaceX “tertinggal dari industrinya” karena dianggap buruk dalam menangani risiko Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG).

Merespons tekanan pasar yang berat ini, manajemen SpaceX langsung mengumumkan rencana penerbitan obligasi (surat utang) untuk mengumpulkan dana segar sekaligus membiayai kembali (refinancing) pinjaman jangka pendek mereka. Langkah darurat ini diambil agar perusahaan tetap bisa mengamankan pendanaan baru tanpa harus menerbitkan saham baru, yang berisiko semakin menggerus (dilusi) nilai kepemilikan para pemegang saham yang tersisa.

Back to top button