Arsenal VS Sporting CP, The Gunners Unggul Skor Agregat

Mikel Arteta memilih pendekatan yang lebih berhati-hati. Sadar akan ancaman serangan balik Sporting, Arsenal lebih memprioritaskan keamanan gawang (clean sheet) daripada mengejar gol.
WWW.JERNIH.CO – Pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 antara Arsenal dan Sporting CP di Emirates Stadium baru saja usai dengan tensi yang menguras emosi. Meski laga berakhir dengan skor kacamata 0-0, hasil ini sudah cukup bagi anak asuh Mikel Arteta untuk melenggang ke semifinal berkat keunggulan agregat 1-0 yang mereka tabung di Lisbon pekan lalu.
Datang dengan modal kemenangan 1-0 di leg pertama lewat gol tunggal Kai Havertz, Arsenal bermain lebih pragmatis di hadapan pendukungnya sendiri. Sporting CP, yang dipaksa menyerang untuk mengejar defisit, tampil agresif sejak menit awal. Sepanjang 90 menit, penonton disuguhkan duel fisik yang intens dan permainan taktis tingkat tinggi.

Momen krusial terjadi di babak pertama ketika tendangan voli pemain Sporting, Geny Catamo, membentur tiang gawang David Raya. Arsenal pun bukannya tanpa peluang; di penghujung babak kedua, pemain pengganti Leandro Trossard hampir saja mengunci kemenangan andai sundulannya tidak membentur tiang gawang Rui Silva.
Skor tetap 0-0 hingga peluit panjang berbunyi, memastikan Arsenal melaju ke babak empat besar secara berturut-turut untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Kekuatan utama Arsenal dalam laga ini adalah kedewasaan mental dan soliditas lini belakang. Tanpa Martin Ødegaard dan Bukayo Saka yang absen karena cedera, Declan Rice memimpin tim dengan sangat tenang meski dikabarkan sempat jatuh sakit sebelum laga.
Pasangan bek tengah William Saliba dan Gabriel Magalhaes tampil fenomenal dalam meredam ancaman Viktor Gyökeres. Mereka tidak terpancing keluar dari posisi, memaksa Sporting melakukan tembakan-tembakan spekulasi dari luar kotak penalti.
Meski tidak mencetak gol, transisi dari bertahan ke menyerang yang dipelopori oleh Thomas Partey dan Declan Rice sangat membantu meredam momentum serangan balik Sporting.
Sporting membuktikan bahwa mereka bukan lawan semenjana. Kekuatan mereka terletak pada kecepatan sayap dan pressing tinggi yang sempat membuat lini tengah Arsenal kewalahan.
Geny Catamo dan Francisco Trincão berulang kali merepotkan bek sayap Arsenal dengan pergerakan cutting inside mereka. Kreativitas di sepertiga akhir lapangan adalah kelebihan utama tim asuhan Rui Borges malam itu.

Sporting bermain sebagai unit yang sangat rapat, mampu memenangkan penguasaan bola di area krusial dan menciptakan lebih banyak peluang bersih dibandingkan tuan rumah.
Absennya sang jenderal lapangan tengah, Ødegaard, sangat terasa. Arsenal tampak kesulitan mengalirkan bola ke area kotak penalti lawan secara konsisten.
Tanpa Saka di sisi kanan, serangan Arsenal menjadi lebih mudah diprediksi. Noni Madueke dan Gabriel Martinelli seringkali terisolasi dan gagal memenangkan duel satu lawan satu melawan bek sayap Sporting yang disiplin.
Satu-satunya alasan Sporting gagal melaju adalah buruknya akurasi di depan gawang. Dari belasan tembakan yang dilepaskan, hanya sedikit yang benar-benar menguji David Raya secara serius. Peluang emas dari João Simões di menit-menit akhir yang hanya menerpa jaring samping gawang adalah bukti nyata dari kurangnya ketajaman mereka di momen kritis.(*)
BACA JUGA: Liga Champions: PSG, Madrid, Sporting dan Arsenal Lolos ke Perempat Final






