AS dan Israel Wacanakan Blokade Darat Iran, Targetkan 7 Perbatasan dan Selundupan Rudal Tiongkok

JERNIH – Setelah gempuran militer dan sanksi ekonomi berbulan-bulan gagal memaksa Tehran bertekuk lutut, Washington dan Tel Aviv kini menggodok skenario eskalasi baru yang kian radikal yakni blokade total perbatasan darat Iran.
Rencana ekstrem ini mengemuka dalam pertemuan tertutup antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. Laporan The Telegraph menyebutkan kedua pemimpin mendiskusikan upaya melipatgandakan tekanan terhadap Iran melalui kombinasi instrumen kinetic (serangan militer langsung) dan non-kinetic (blokade ekonomi keras).
Langkah ini dirancang untuk memutus habis arus ekspor-impor Iran lewat jalur darat, menyusul kebuntuan strategi Trump dalam mengamankan kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Gagasan ini mengincar perbatasan darat Iran yang membentang luas dan berbatasan langsung dengan tujuh negara: Irak, Turki, Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Armenia, dan Azerbaijan.
“Bagaimana jika Anda memblokir jalur daratnya? Bayangkan Iran tidak bisa memasukkan atau mengeluarkan barang apa pun. Apapun bisa terjadi,” celetuk seorang pejabat senior Israel kepada The Telegraph.
Skenario ini menargetkan perlintasan komersial vital seperti Incheh Borun dan Sarakhs-Sarahs di perbatasan Turkmenistan, serta menekan Irak dan Pakistan agar membatasi perdagangan dengan Tehran. Namun, purnawirawan Jenderal Angkatan Darat AS Sean MacFarland menilai blokade darat secara total hampir mustahil dilakukan tanpa kekerasan militer.
“Irak sangat terintegrasi dan sejalan dengan Iran. Itu akan sangat menyulitkan penghentian pasokan,” ujar MacFarland. “Pendekatan ekonomi adalah langkah ringkas, tetapi harus memiliki elemen kinetik.”
Istilah “elemen kinetik” ini menjadi sinyal bahaya: AS dan Israel siap melancarkan serangan udara ke titik-titik penyeberangan, rute transportasi, fasilitas penyimpanan, hingga konvoi logistik di wilayah negara tetangga yang dicurigai menyuplai kebutuhan Tehran.
Rencana blokade darat ini juga dipicu oleh kekhawatiran Washington atas kembalinya kekuatan militer Iran melalui pasokan senjata asing. Reuters sempat melaporkan klaim anonim bahwa Iran telah menyepakati kontrak bernilai USD 60–70 juta untuk membeli 300 hingga 400 unit sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) buatan Tiongkok, yakni rudal QW-12 dan FN-16, yang diisukan bakal diselundupkan via darat melalui jalur Pakistan.
Namun, tuduhan tersebut langsung memicu penolakan keras dari berbagai pihak. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan laporan tersebut sama sekali tidak berdasar (completely groundless) dan menegaskan peran Beijing sebagai konsisten mendorong perdamaian.
Sedangkan militer Pakistan (ISPR) melontarkan bantahan tegas bahwa spekulasi keterlibatan Pakistan dalam pasokan senjata pertahanan udara dari Tiongkok ke Iran adalah rakitan fiktif dan bohong belakangan. Laporan unverified ini disinyalir sengaja dihembuskan sebagai pemicu (pretext) untuk melegitimasi pengetatan perbatasan darat.
Di dalam negeri Iran, tekanan ekonomi dilaporkan mulai terasa pada sektor energi domestik. Pejabat Israel mengklaim terjadi kelangkaan parah pada pasokan solar dan gas yang memicu antrean panjang di SPBU-SPBU Iran—meski klaim ini belum diverifikasi secara independen terkait skala cakupannya.
Dalam narasi politiknya, pejabat Israel kembali menggunakan retorika eksistensial untuk membenarkan penyerangan yang lebih luas. “Kami tidak hanya melindungi nyawa kami, tetapi juga nyawa Anda. Kami sedang bertempur dalam perang peradaban melawan barbarisme,” klaim pejabat Israel tersebut. “Kami telah mengangkat sel kanker itu… Tapi bukan berarti kami tidak harus terus memotong upaya mereka untuk bangkit kembali.”
Wacana blokade darat ini mengemuka di tengah saling balas serangan langsung antara AS dan Iran, termasuk hantam balasan Tehran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Memaksakan blokade darat terhadap tujuh negara berdaulat tidak hanya berisiko memperparah krisis kemanusiaan dan kelangkaan barang bagi warga sipil Iran, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi negara-negara tetangga. Jika Washington nekat mengeksekusi serangan “kinetis” pada jalur darat internasional, gesekan ini dipastikan bakal menyeret kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah ke dalam konfrontasi militer yang jauh lebih terbuka.






