Pasar Gelap Minyak Iran di Perairan Malaysia, Trik Armada Siluman Tebas Blokade Laut AS

JERNIH – Blokade laut dan sanksi ekonomi ketat yang digencarkan militer Amerika Serikat ternyata tak mampu menghentikan total denyut nadi perdagangan minyak Iran. Di sebuah area labuh jangkar raksasa di lepas pantai Malaysia, pasar gelap minyak sanksi internasional tetap beroperasi aktif bagai tanpa hambatan.
Laporan investigatif Al Jazeera membongkar aktivitas di kawasan Eastern Outer Port Limits (EOPL) Malaysia—sebuah wilayah seluas 1.200 kilometer persegi di Laut China Selatan. Tempat ini menjadi transit utama pemindahan minyak antarkapal (ship-to-ship transfer) dari kapal tanker Iran ke kilang-kilang independen (teapot) di China.
Sabtu minggu lalu, kapal tanker raksasa berbendera Iran, Humanity, melintasi Selat Malaka. Begitu mendekati kawasan EOPL Malaysia—sekitar 70 km dari garis pantai—kapal sepanjang 330 meter itu mendadak mematikan Automatic Identification System (AIS) alias “mati lampu”.
Pakar keamanan maritim menyebut Humanity sengaja gelap-gelapan untuk memindahkan muatan minyaknya ke kapal perantara sebelum dikirim ke China. Skenario ini merupakan bagian dari jaringan raksasa.
Ray Powell, Direktur SeaLight Universitas Stanford, mencatat ada sedikitnya 62 kapal yang memancarkan identitas palsu sejak awal tahun demi mengelabui pantauan internasional dari Teluk Persia menuju China. Citra satelit sebulan terakhir merekam sedikitnya 18 kapal tanker berbendera Iran masuk ke EOPL dan mematikan sinyal pelacaknya.
Pada hari-hari biasa, hingga 200 kapal berlabuh di area abu-abu ini, di mana separuhnya ditenggarai memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan minyak Iran.
Mengapa Pilih Perairan Malaysia?
Luas kawasan EOPL hampir setara dengan luas wilayah Hong Kong. Perairan ini memiliki gelombang yang tenang—sangat ideal untuk proses pemindahan minyak antarkapal.
Secara hukum, EOPL berada di luar wilayah laut teritorial Malaysia, tetapi masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Celah jurisdiksi ini dimanfaatkan jaringan perantara karena ZEE lebih mengatur hak perikanan ketimbang penegakan sanksi perdagangan internasional.
Kendati Malaysia telah memperketat aturan ZEE pada Juni lalu untuk menindak pemindahan kargo ilegal, patroli di kawasan terpencil ini tetap menjadi tantangan besar. Data pabean China bahkan membeberkan anomali: Impor minyak China dari Malaysia secara ajaib kerap jauh melampaui total kapasitas produksi minyak nasional Malaysia sendiri.
Pembeli utama minyak sanksi Iran ini bukanlah BUMN migas raksasa China seperti Sinopec atau CNOOC, melainkan kilang-kilang swasta kecil yang dijuluki kilang teapot.
Erica Downs, peneliti senior dari Columbia University, menjelaskan bahwa kilang teapot relatif “kebal” gertakan Washington karena tidak terhubung langsung dengan sistem keuangan berbasis Dolar AS. Mereka memborong minyak Iran karena tergiur diskon harga yang sangat miring.
Sistem pembayarannya pun melewati Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik Beijing yang menggunakan mata uang Renminbi. Jalur ini sepenuhnya beroperasi di luar jangkauan jaringan SWIFT yang dipantau ketat oleh otoritas AS.
Meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim pembelian minyak Iran oleh kilang China sudah merosot 40 persen sejak perang meletus, para pakar menilai sanksi finansial tidak pernah benar-benar mampu menghentikan transaksi ini.
Pemerintah China secara terbuka menolak sanksi sepihak AS dan terus melindungi kilang serta perusahaan domestiknya.
“Sanksi tidak pernah bisa menghentikan perdagangan ini. Mekanisme pasar dan pembayaran justru makin canggih beradaptasi karena sanksi tersebut,” tegas Charlie Brown, pakar keamanan maritim YCAPS. “Satu-satunya hal yang secara fisik bisa menghentikan aliran minyak dari Iran ke China hanyalah blokade militer secara total.”






