Serangan Udara AS-Arab Saudi Makin Menjerumuskan Irak ke dalam Konflik Regional

JERNIH – Eskalasi militer di Timur Tengah kembali menembus batas baru yang berbahaya. Untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk 1991, jet-jet tempur Arab Saudi bersama militer Amerika Serikat melancarkan gempuran udara terkoordinasi ke wilayah kedaulatan Irak.
Serangan mendadak yang menghantam berbagai markas milisi Popular Mobilisation Forces (PMF)—kelompok bersenjata yang disokong Teheran—di delapan provinsi Irak tersebut menewaskan sedikitnya 20 personel PMF dan melukai 32 lainnya. Langkah drastis ini menandai keterlibatan militer terbuka Riyadh dalam panggung perang proxy AS-Israel melawan Iran.
Pihak PMF mengonfirmasi bahwa gempuran udara AS-Arab Saudi menyasar posisi-posisi strategis mereka secara bersamaan, mulai dari Al-Deir di Basra, Karbala, Kirkuk, Sala al-Din, Dataran Niniwe, hingga Camp Ashraf di Diyala dan wilayah selatan Baghdad.
Menanggapi gempuran ini, PMF mengutuk keras aksi tersebut sebagai “pelanggaran berat terhadap kedaulatan Irak” dan menempatkan seluruh markas mereka dalam status siaga satu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim operasi gabungan ini berhasil menghancurkan gudang senjata dan fasilitas logistik PMF. CENTCOM menyebut aksi ini merupakan balasan atas lebih dari 30 serangan drone dalam 72 jam terakhir yang menyasar pangkalan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengutip Pasal 51 Piagam PBB tentang hak membela diri. Riyadh menegaskan serangan ini menyasar “milisi teroris loyalis Iran” yang bertanggung jawab atas gempuran terhadap fasilitas minyak Saudi di Yanbu—meskipun milisi Irak membantah tuduhan tersebut dan menunjuk gerakan Houthi Yaman sebagai pelakunya.
Aksi militer AS-Saudi ini langsung mengacak-acak stabilitas politik dan diplomasi Baghdad. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi terpaksa membatalkan agenda kunjungan resminya ke Riyadh. Padahal, kunjungan tersebut sangat krusial untuk membahas pembukaan kembali ekspor minyak Irak melalui pelabuhan Yanbu Saudi serta kerja sama energi.
Peristiwa ini menghantam upaya Baghdad yang sedang berjuang melucuti senjata milisi swakarsa sebelum batas waktu 30 September. Gempuran dari luar negeri ini justru memberi dalih kuat bagi PMF untuk menolak menyerahkan senjata mereka kepada negara.
Pakar strategis Ali al-Jubouri memperingatkan bahwa keterlibatan langsung Arab Saudi di tanah Irak dapat membuka kotak pandora konflik yang sulit dikendalikan. “Membuka ruang konfrontasi langsung antara Irak dan Arab Saudi adalah pergeseran berbahaya yang berisiko memicu krisis kawasan tanpa jalan keluar,” tegasnya.
Pasca-serangan, Kedutaan Besar AS di Baghdad langsung menerbitkan peringatan keamanan tingkat tinggi bagi warga negaranya di Irak. Washington memperingatkan risiko aksi balasan balasan dari kelompok bersenjata pro-Iran yang dapat memperburuk situasi keamanan secara drastis dalam waktu singkat.
Di saat yang sama, kawasan Asia Barat kian membara setelah IRGC Iran dilaporkan juga menembakkan rudal balistik ke pangkalan AS di Yordania. Irak kini berada di posisi paling rapuh: terancam kembali menjadi medan pertempuran utama di tengah pusaran perang kekuatan-kekuatan besar dunia.






