Crispy

Trump Diambang ‘Lame Duck’: Kepuasan Publik Anjlok, Basis Pemilih ‘MAGA’ Mulai Retak

JERNIH – Donald Trump berisiko kehilangan posisinya sebagai episentrum kehidupan politik Amerika Serikat. Kombinasi rekor terendah approval rating, kekecewaan publik atas lonjakan biaya hidup, serta bayang-bayang kekalahan telak Partai Republik dalam pemilu sela (midterm elections) mendatang kian mengikis pengaruh sang Presiden di Washington, dilaporkan oleh The Independent.

Analis politik ternama Nate Silver bahkan mengisyaratkan bahwa publik dan media AS mulai “jenuh” dan pelan-pelan berpaling dari Trump—sosok yang mendominasi panggung berita politik Amerika selama lebih dari satu dekade.

Silver menyoroti bagaimana narasi media musim panas ini lebih banyak didominasi oleh isu-isu sepele dibanding ancaman eksistensial negara. “Mungkin kita mulai bergerak maju dan tidak lagi menjadikan Trump sebagai figur pusat politik Amerika. Rasanya ini mulai memancarkan vibe seorang lame duck (presiden tanpa taji),” tulis Silver di X.

Di balik merosotnya taji Trump, ketidakpuasan ekonomi menjadi pemicu utama. Para pejabat Partai Republik kian cemas karena pemilih terus menempatkan krisis biaya hidup sebagai persoalan paling mendesak.

Langkah Trump yang kerap meremehkan isu ekonomi kini berbalik menekan dirinya. Kebijakan tarif timbal balik Trump—meski sempat diblokir Mahkamah Agung pada Februari—telah melambungkan harga barang impor yang akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Sementara perang terbuka yang dilancarkan AS terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak dunia, mendongkrak rata-rata harga bensin nasional AS hingga menyentuh USD 4,09 per galon.

Survei terbaru dari Economist/YouGov mencatat angka kepuasan publik terhadap Trump berada di titik terendah sepanjang dua masa jabatannya. Sebanyak 62% dewasa AS menyatakan tidak puas (disapprove) dengan kinerja Trump, Hanya 34% yang masih menyatakan puas.

Angka kepuasan bersih (net approval rating) Trump anjlok ke tingkat minus 28 poin—jauh lebih buruk dibanding era periode pertamanya pada Juli 2018 (minus 9 poin).

Demografi kunci yang selama ini menjadi benteng pertahanan Trump kini menunjukkan retakan serius.

  • Usia 45–64 Tahun: Sebanyak 63% kini tidak puas. Net rating Trump di kelompok ini merosot dari plus 15 di awal periode kedua menjadi minus 29.
  • Warga Kulit Putih Tanpa Gelar Sarjana: Kelompok pemilih inti (core base) ini kini mencatatkan 52% ketidakpuasan, melempar net approval Trump dari plus 27 pada Januari 2025 menjadi minus 6.
  • Republikan Non-MAGA: Sebanyak 43% pendukung Partai Republik yang tidak terafiliasi dengan gerakan Make America Great Again (MAGA) mulai menyatakan tidak puas terhadap kepemimpinannya.

Pemberontakan pemilih ini menjadi sinyal bahaya menjelang pemilu sela November mendatang. Partai Republik terancam kehilangan kontrol atas House of Representatives (DPR), sementara posisi di Senat makin terancam direbut Partai Demokrat.

Kemenangan Demokrat di Kongres dipastikan bakal mengunci seluruh agenda legislatif Trump di sisa dua tahun masa jabatannya. Lebih dari itu, Demokrat bakal memegang kendali penuh untuk meluncurkan berbagai investigasi terhadap administrasinya, bahkan membuka peluang dilakukannya pemakzulan (impeachment) ketiga terhadap Trump.

Jika skenario ini terwujud, Trump resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai lame duck—seorang presiden bebek lumpuh yang kehilangan legitimasi, baik di Capitol Hill maupun di dalam tubuh Partai Republik sendiri.

Back to top button