
Narasi “kembali ke Zaman Batu” yang dilontarkan Israel menunjukkan bahwa target serangan bukan lagi sekadar militer, tapi sudah menyasar sendi-sendi kehidupan warga sipil Iran.
JERNIH – Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah menyusun rencana serangan besar-besaran untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran. Langkah ini diambil seiring dengan ancaman Israel yang ingin mengembalikan kondisi Iran “kembali ke Zaman Batu” jika Teheran tetap menolak tekanan AS terkait blokade Selat Hormuz.
Pemerintahan Donald Trump sedang mempersiapkan serangan skala besar jika Iran tidak menyerah dalam perselisihan di jalur perairan strategis tersebut. Perselisihan mengenai Selat Hormuz kini menjadi hambatan utama dalam pembicaraan damai, di mana kedua negara terlibat dalam kebuntuan setelah AS memberlakukan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Teheran, yang secara efektif menguasai selat tersebut sejak awal Maret, menyatakan hanya akan melonggarkan cengkeramannya jika AS mencabut blokade. Namun, Washington menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Para pejabat Iran menilai blokade itu sebagai pelanggaran gencatan senjata dan menolak menghadiri putaran kedua negosiasi di Pakistan.
Menurut laporan CNN, mengutip sumber-sumber internal, para petinggi militer AS kini sedang mengembangkan opsi serangan baru yang meliputi penghancuran fasilitas energi dan infrastruktur sipil, serangan terhadap kapal pemasang ranjau dan kapal cepat di selat, pembunuhan terukur (targeted assassinations) terhadap pejabat-pejabat tinggi Iran serta serangan udara baru ke pangkalan militer.
Menteri Pertahanan garis keras Israel, Israel Katz, memperbaharui ancamannya untuk menghancurkan ekonomi nasional Iran secara total. “Kami sedang menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat—terutama untuk menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei… dan mengembalikan Iran ke Zaman Kegelapan serta Zaman Batu dengan menghancurkan fasilitas energi, listrik, serta membongkar infrastruktur ekonomi nasionalnya,” tegas Katz pada Kamis waktu setempat.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah memanggil para menteri senior dan pejabat pertahanan untuk membahas perkembangan terkini di Iran dan Lebanon.
Meski retorika perang terus meningkat, intelijen AS menilai bahwa kampanye udara AS-Israel selama enam minggu sebelumnya gagal menghancurkan kemampuan militer Iran secara total. Ribuan rudal balistik, drone, dan sekitar separuh peluncur rudal Iran dilaporkan masih selamat dari gempuran tersebut.
Para analis meragukan apakah serangan baru akan cukup kuat untuk memaksa Iran membuka selat atau menerima tuntutan AS terkait program nuklirnya.
Penutupan Selat Hormuz telah mengirimkan gelombang kejut ke ekonomi dunia, memicu kelangkaan bahan bakar yang parah dan kekhawatiran krisis pangan global. Jalur ini merupakan rute bagi seperlima minyak dan gas alam cair dunia, serta sepertiga pasokan pupuk global sebelum perang pecah.
Di tengah ketegangan ini, Pakistan sedang berupaya keras untuk mengatur negosiasi baru di Islamabad. Namun, kedua pihak masih terpaut sangat jauh dalam isu nuklir, terutama mengenai kemampuan pengayaan uranium Iran dan nasib cadangan material nuklirnya yang sangat kaya.






