Crispy

Baru Berumur 2 Hari, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Bubar Akibat Rudal Israel di Lebanon

JERNIH — Kesepakatan damai bersejarah yang ditandatangani secara digital oleh Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (17/6/2026)  kini berada di ujung tanduk. Kementerian Luar Negeri Swiss secara resmi mengumumkan penundaan mendadak agenda perundingan teknis darurat antara kedua negara yang seharusnya digelar di resor mewah Burgenstock, Swiss, pada Jumat (19/6/2026).

Penundaan ini memicu kekhawatiran global bahwa nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang dirancang untuk gencatan senjata selama 60 hari tersebut akan runtuh sebelum sempat diimplementasikan.

Laporan dari media Al Mayadeen menyebutkan bahwa Teheran sengaja menahan keberangkatan delegasi diplomatiknya ke Swiss. Langkah ini merupakan bentuk protes keras atas operasi militer brutal Israel di Lebanon Selatan yang menewaskan sedikitnya 18 orang sejak Kamis malam hingga Jumat pagi.

Iran, yang membaca situasi bahwa Presiden Donald Trump sangat bernafsu mengakhiri perang demi mendongkrak popularitas domestiknya di AS, langsung mengambil posisi tawar yang agresif (bullish).

Iran menegaskan bahwa berhentinya agresi militer Israel dan penarikan pasukan dari wilayah pendudukan di Lebanon Selatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan dialog mereka tetap terikat oleh red lines (garis merah) Teheran. “Jika musuh bertindak berlebihan, kami telah membuktikan bahwa jari kami sudah berada di atas pelatuk dan tidak akan ragu memberikan balasan yang menghancurkan,” tegas Ghalibaf melalui kantor berita IRNA.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menegaskan pasukannya akan tetap bertahan di “zona keamanan” Lebanon Selatan selama kebutuhan keamanan Israel memerlukannya. Padahal, Israel dan Hizbullah sendiri bukan bagian resmi dari perjanjian AS-Iran ini.

Gedung Putih Meradang

Krisis diplomatik ini berimbas langsung pada operasional Washington. Wakil Presiden AS JD Vance—yang ditunjuk langsung oleh Donald Trump untuk memimpin negosiasi—batal melakukan penerbangan malam ke Swiss.

Pembatalan ini terjadi secara mendadak pada Kamis malam, saat staf, jajaran pejabat Gedung Putih, dan rombongan jurnalis internasional sudah berkumpul di Pangkalan Militer Andrews di luar Washington serta di lokasi acara di Swiss.

Gedung Putih berkilah bahwa pembatalan disebabkan oleh “masalah logistik yang rumit dan tidak bisa diprediksi.” Namun, di balik layar, kebebalan Israel untuk menghentikan serangan di Lebanon telah memicu kemarahan besar di internal Gedung Putih karena dianggap menyabotase kesepakatan damai buatan AS.

Sebelum pembatalan tersebut diumumkan, Wapres JD Vance sempat melayangkan sindiran keras dan menohok kepada jajaran menteri garis keras di kabinet Israel. “Jika saya berada di dalam kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki di seluruh dunia ini,” semprot Vance dengan nada geram pada Kamis malam.

Melihat situasi yang kian genting dan terancam memicu perang regional berskala penuh, para mediator internasional bergerak cepat. Pemerintah Kairo dan Islamabad mengonfirmasi bahwa poros mediator yang terdiri dari Pakistan, Arab Saudi, dan Turki telah sepakat untuk menggelar pertemuan darurat di kota Alamein, Mesir, pada hari Minggu (21/6/2026) lusa. Pertemuan ini diharapkan bisa menyelamatkan sisa-sisa kesepakatan damai AS-Iran yang kini terancam layu sebelum berkembang.

Back to top button