Crispy

Blunder Fatal Starbucks Korea, CEO Dipecat Usai Promosi ‘Hari Tank’ Picu Kemarahan atas Tragedi Gwangju

Pemilihan kata “Tank” dinilai sangat tidak manusiawi karena membangkitkan memori kelam masyarakat terhadap kendaraan lapis baja militer yang digunakan diktator Korea Selatan untuk melindas dan membantai para demonstran puluhan tahun silam.

JERNIH – Raksasa kedai kopi Starbucks Korea resmi memecat Chief Executive Officer (CEO) mereka, Son Jung-hyun. Langkah radikal ini diambil menyusul gelombang boikot dan kecaman masif dari masyarakat Korea Selatan setelah perusahaan meluncurkan kampanye pemasaran bertajuk “Tank Day” tepat pada hari peringatan tragedi berdarah Pembantaian Gwangju.

Kontroversi ini bermula ketika Starbucks menggunakan frasa “Tank Day” untuk mempromosikan lini produk wadah minuman mereka yang dikenal sebagai “Tank Tumbler”. Sialnya, promosi tersebut dirilis pada 18 Mei—sebuah tanggal sakral yang menandai peringatan ke-46 aksi unjuk rasa pro-demokrasi tahun 1980 yang berujung pada pembantaian massal warga sipil oleh militer.

Juru bicara Starbucks Korea mengonfirmasi kepada AFP pada hari Selasa (10/5/2026) bahwa Son Jung-hyun didepak langsung dari posisinya oleh Shinsegae Group, raksasa ritel yang mengoperasikan waralaba Starbucks di Negeri Gingseng tersebut.

Pemilihan kata “Tank” dinilai sangat tidak manusiawi karena membangkitkan memori kelam masyarakat terhadap kendaraan lapis baja militer yang digunakan diktator Korea Selatan untuk melindas dan membantai para demonstran puluhan tahun silam.

Presiden Lee Jae-myung Anggap Penghinaan

Skandal pemasaran ini langsung memicu reaksi keras dari level tertinggi pemerintahan. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, yang menghadiri upacara peringatan nasional Gwangju, mengutuk keras promosi tersebut melalui akun X pribadinya.

“Saya sangat murka dengan tindakan yang tidak manusiawi dan memalukan ini. Ini adalah trik mencari keuntungan (profiteering stunt) yang menodai nilai-nilai masyarakat Korea Selatan, hak asasi manusia fundamental, dan demokrasi,” tegas Presiden Lee.

Merespons tekanan yang begitu masif, manajemen Starbucks Korea langsung membungkuk meminta maaf secara resmi kepada publik. “Kami dengan tulus menundukkan kepala meminta maaf kepada arwah para korban 18 Mei. Kami mengakui bahwa pilihan kata yang terkait dengan promosi penjualan tumbler online kami telah digunakan dengan cara yang sangat tidak patut,” tulis pernyataan resmi perusahaan. Starbucks juga berjanji akan merombak total pelatihan “kesadaran sejarah dan standar etika” bagi seluruh karyawannya.

Babak Paling Berdarah Korea Selatan

Bagi masyarakat Korea Selatan, Tragedi Gwangju (Gwangju Uprising) bukan sekadar catatan kaki di buku sejarah, melainkan simbol pengorbanan terbesar dalam transisi negara tersebut dari era kediktatoran militer menuju alam demokrasi.

Pda dekade 1970-an, Korea Selatan dicengkeram oleh pemerintahan otoriter Presiden Park Chung-hee yang merebut kekuasaan lewat kudeta militer 1961. Kebebasan pers dibungkam dan hak sipil diinjak demi pertumbuhan industri.

Pasca-pembunuhan Park oleh kepala intelijennya sendiri, harapan demokrasi sempat membubung. Namun, asa itu dihancurkan oleh Jenderal Chun Doo-hwan yang meluncurkan kudeta baru pada 12 Desember 1979, memperluas darurat militer, menutup universitas, dan menangkap tokoh oposisi.

Pada pagi hari 18 Mei 1980, sekitar 600 mahasiswa Universitas Nasional Chonnam berkumpul di Gwangju untuk memprotes darurat militer. Rezim Chun merespons dengan mengirimkan pasukan komando baret merah (paratroopers) yang menyerang massa secara brutal.

Dalam hitungan hari, seluruh warga kota Gwangju angkat bicara, merebut senjata dari pos polisi untuk membela diri, dan berhasil menguasai kota selama beberapa hari demi menuntut mundurnya Jenderal Chun.

Puncak tragedi terjadi pada tanggal 27 Mei 1980, ketika militer menggelar operasi pembersihan skala besar secara kejam menggunakan tank baja, helikopter tempur, dan pasukan khusus untuk merebut kembali kota Gwangju.

Perlawanan rakyat Gwangju pada akhirnya menjadi bahan bakar utama yang memicu demonstrasi nasional Juni 1987, memaksa rezim militer menyerah dan menerima sistem pemilu presiden langsung. Di era modern, Jenderal Chun Doo-hwan dan penerusnya, Roh Tae-woo, akhirnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman atas pembantaian tersebut.

Kini, sebuah pemakaman nasional dan monumen megah berdiri di Gwangju untuk menghormati para syuhada demokrasi. Itulah mengapa, segala bentuk kecerobohan atau ejekan sekecil apa pun terhadap tragedi ini—seperti kasus “Tank Day” Starbucks—akan selalu menyulut kemarahan nasional yang luar biasa berapi-api di Korea Selatan.

Back to top button