Demam Konser Dunia, Reuni Oasis hingga Coldplay Dongkrak Ekonomi Inggris Selangit

Tur reuni Gallagher bersaudara, Coldplay, hingga Beyoncé sukses bikin sejarah baru sampai perputaran ekonomi Inggris tembus Rp257,6 triliun, Tak cuma warga lokal, turis asing juga berbondong-bondong terbang demi war tiket.
WWW.JERNIH.CO – Kerinduan fans terhadap musik live sukses mencetak sejarah baru. Sederet nama besar mulai dari tur reuni Oasis yang paling dinanti, Coldplay, hingga Beyoncé berhasil menarik rekor jumlah penonton sepanjang tahun lalu. Fenomena ini diperkuat oleh lonjakan drastis wisatawan mancanegara yang sengaja terbang ke Inggris demi menonton konser idola mereka.
Berdasarkan laporan lembaga industri UK Music, diperkirakan ada 24,7 juta “wisatawan musik” yang memadati berbagai konser dan festival sepanjang tahun lalu. Angka ini naik 4,8% dibanding tahun 2024, dan berhasil menyumbang perputaran ekonomi yang luar biasa bagi Inggris, yaitu mencapai Rp257,6 triliun.
Mayoritas penonton (85%) sebenarnya adalah warga lokal Inggris yang dikategorikan sebagai “wisatawan domestik”. Mereka rela menempuh perjalanan tiga kali lebih jauh dari jarak tempuh komuter harian mereka demi sebuah acara musik.
Namun, lonjakan paling fantastis justru datang dari luar negeri. Jumlah wisatawan musik mancanegara melonjak 27% menjadi 2,1 juta orang, naik tajam dari 1,6 juta orang pada tahun 2024. Keputusan beberapa musisi papan atas seperti Coldplay, Lana Del Rey, dan Oasis yang hanya menggelar konser di Inggris tahun lalu menjadi magnet utama yang menarik perhatian fans global.
Laporan tersebut memberikan apresiasi khusus bagi tur reuni Gallagher bersaudara. Meskipun sempat diwarnai skandal sistem harga tiket, tur Oasis ini tercatat sebagai rangkaian konser paling menguntungkan dalam sejarah Inggris setelah 15 tahun mereka bubar.
Keputusan Oasis menggelar lima konser di Heaton Park, Manchester, sukses mendongkrak pengeluaran wisatawan musik di wilayah barat laut Inggris sebesar 16% menjadi Rp32,2 triliun.
Selain Oasis, panggung musik Inggris juga dimeriahkan oleh Dua Lipa, Ed Sheeran, Chris Brown, dan Sam Fender. Juga bintang K-Pop: Blackpink dan Stray Kids.
Di Festival Glastonbury yang terbesar menampilkan Neil Young, Olivia Rodrigo, Charli xcx, hingga The 1975 yang membuat musim panas tahun lalu menjadi sangat meriah.
Ian Murray, Menteri Industri Kreatif Inggris, berkomentar, “Angka-angka pemecah rekor ini adalah bukti bahwa industri musik Inggris bekerja lebih baik daripada di mana pun di dunia.” Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi ekosistem musik dari calo tiket, mendukung venue independen (akar rumput), serta mempermudah musisi Inggris untuk melakukan tur ke Eropa.
Pertumbuhan ekonomi sebesar Rp257,6 triliun ini naik 11% dari tahun 2024 yang bernilai Rp 230 tirliun. Rinciannya antara lain berupa pengeluaran langsung (Rp131,1 triliun) yang meliputi pembelian tiket, makanan/minuman di lokasi, merchandise, transportasi, akomodasi, dan biaya makan selama perjalanan.
Kemudian pengeluaran tidak langsung (Rp126,5 triliun) yang meliputi biaya operasional seperti pagar pembatas, keamanan konser, dan infrastruktur lainnya.
Bukan rahasia lagi jika rekor pengeluaran ini juga dipicu oleh inflasi dan harga tiket yang meroket. Fans Oasis sendiri menghabiskan lebih dari Rp23 triliun untuk tur reuni tersebut, dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp17,6 juta per orang.
London tetap menjadi pusat perputaran uang terbesar. Pengeluaran wisata musik di ibu kota melonjak 27,4% hingga Rp78,2 triliun, menguasai lebih dari 30% total pengeluaran di seluruh Inggris.
Meskipun membawa angin segar bagi perekonomian kota-kota di Inggris, Tom Kiehl selaku Chief Executive UK Music mengingatkan pemerintah untuk tetap mengawal isu krusial: calo tiket.
“Miliaran pound yang dihabiskan ini adalah suntikan dana segar bagi kota-kota di Inggris. Namun, pemerintah harus mendukung fans dengan memenuhi janji manifesto mereka untuk memberantas calo tiket yang menetapkan harga selangit di pasar sekunder, karena hal itu menguras uang yang seharusnya bisa dibelanjakan fans di area konser,” ujar Kiehl.
Di sisi positifnya, industri musik live terbukti membuka banyak lapangan kerja baru. UK Music mencatat jumlah pekerja penuh waktu (setara FTE) di sektor musik live naik 3% tahun lalu, dari 71.760 menjadi 74.000 lapangan kerja.(*)
BACA JUGA: Bukan COLDPLAY, tapi Taylor Swift yang Bikin Banyak Negara Bangga Menghadirkannya






